Rahmah

Hikmah Menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia

Hikmah Menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia
Hari Kemerdekaan (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Sebagai bangsa Indonesia kita dituntut untuk selalu membela negara Indonesia sebagai negara kesatuan. Momentum kemerdekaan dapat menjadi salah satu momen meneguhkan semangat berbangsa dan bernegara warga negar.

Cinta kepada negeri bukan hanya dipraktikkan oleh para ulama Indonesia seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Pembelaan terhadap negeri juga dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Semasa di Makkah, saat Nabi Muhammad hendak hijrah ke Madinah, beliau menangis karena akan meninggalkan Makkah. Begitu dengan para sahabat Nabi, mereka pernah berdoa agar selalu diberikan kecintaan pada Madinah sebagaimana mereka mencintai Makkah.

baca juga:

Syekh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin halaman 37 mengatakan: 

حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْماَنِ

Artinya: “Cinta tanah air bagian dari iman.”

Terkait anjuran untuk mencintai tanah air, Nabi memberikan sebuah contoh teladan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Artinya: "Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. " (HR Bukhari).

Melalui penjelasan di atas betapa Nabi Muhammad SAW amat mencintai negerinya. Nabi Muhammad tidak sekali-kali merendahkan tempat kelahirannya, bahkan beliau sedih saat akan berpisah dengannya.

Atsar Khalifah Umar bin Khatab sebagaimana dikutip Syekh Ismail Haki dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan juz 6 halaman 442 juga menyatakan: