Rahmah

Hikmah Dibalik Kisah Kejujuran Gadis Pemerah Susu yang Buat Khalifah Umar Kagum

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, di sebuah gubuk tua di pinggiran Kota Makkah, hiduplah seorang janda miskin bersama dengan anak gadisnya.


Hikmah Dibalik Kisah Kejujuran Gadis Pemerah Susu yang Buat Khalifah Umar Kagum
Ilustrasi Umar bin Khattab (Detik)

AKURAT.CO  Umar bin Khattab merupakan sahabat yang pertama kali diberi gelar Amirul Mukminin. Sebagai pemimpin, Umar juga termasuk seorang yang peduli dengan kesejahteraan rakyatnya. Sehingga, pada waktu-waktu tertentu, Umar selalu menyempatkan waktu untuk memantau langsung dan melihat kondisi rakyatnya secara dekat.

Pada masa itu, tepatnya di sebuah gubuk tua di pinggiran Kota Makkah, hiduplah seorang janda miskin bersama dengan anak gadisnya. Diketahui, keduanya itu sangat rajin beribadah dan juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Misalnya, pada pagi hari, setelah selesai salat subuh, keduanya selalu memerah susu kambing di kandang. Ternyata, penduduk Kota Makkah banyak yang menyukai susu kambing wanita itu karena mutunya yang sangat terjaga dan tahan lama.

Hingga pada suatu malam, seperti biasanya, Khalifah Umar ditemani dengan pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat secara dekat keadaan rakyatnya. Setelah berkeliling, Khalifah Umar telah sampai di pinggiran Kota Makkah.

Waktu itu, ia merasa tertarik melihat sebuah gubuk kecil dengan cahaya yang masih tampak dari dalam yang menandakan bahwa penghuninya belum juga tidur. Padahal hari sudah mulai tengah malam.

Khalifah Umar lalu turun dari kudanya, dan mendekati gubuk tua itu. Ketika hendak sampai di gubuk itu, terdengar samar-samar percakapan seorang wanita dengan anaknya.

"Wahai anakku, malam ini kambing kita mengeluarkan susu sedikit sekali. Jadi tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan kita besok pagi,” keluh wanita tua itu kepada anak perempuannya.

Dengan wajah tersenyum, anaknya yang beranjak dewasa itu menghibur, 

"Wahai ibu, tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi,".

"Tapi, aku khawatir para pelanggan kita tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?” kata si ibu itu.

"Jangan, Bu!” anaknya melarang. Kemudian melanjutkan, ”Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati,".

Dari luar gubuk tua itu, Khalifah Umar terus mengamati percakapan mereka. Lalu terdengar kembali.

"Wahai anakku, bagaimana mungkin Khalifah Umar tahu!” kata sang ibu itu kepada anaknya. 

"Saat ini, ia sedang tertidur pulas di istananya yang megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita ini?” kata si ibu menambahkan.

"Ibu, memang Khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang. Tapi Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah," jawab sang anak dengan wajah yang tersenyum lembut 

Begitu mendengar percakapan mereka, Khalifah Umar benar-benar merasa kagum dengan kejujurannya si anak perempuan itu. Meskipun hidup dalam kemiskinan dan himpitan keadaan, namun tidak membuatnya terpengaruh untuk berbuat curang. 

Hingga keesokan harinya, Khalifah Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya untuk menghadap kepadanya. Khalifah Umar bermaksud ingin menikahkan putranya dengan gadis jujur anak pemerah susu itu.

Kisah ini dapat menjadi teladan bagi kita semua, bahwa kejujuran karena takut kepada Allah SWT adalah suatu harta yang tak ternilai harganya. Bagaimanapun keadaan yang kita alami, sesulit apapun, harus kita lalui dengan jujur dan adil. Wallahu A'lam Bishawab. []