image BI
Login / Sign Up

Seniman Multitalenta yang Terus Bekerja dari Atas Kursi Roda

Herman Syahara

74 Tahun Putu Wijaya, 40 Tahun Berkarya

Image

Seniman Putu Wijaya | AKURAT.CO/Herman Syahara

AKURAT.CO Pada 11 April 2019 lalu Putu Wijaya genap berusia 74 tahun. Bersamaan dengan itu, pria bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya kelahiran Puri Anom Tabanan, Tabanan, Bali, 11 April 1944 itu juga memasuki tahun ke-40 dalam berkarya di dunia kesenian, khususnya dalam drama. Baik sebagai penulis lakon, sutradara, dan aktor.

Kesenimanan Putu Wijaya juga tidak bisa dilepaskan dari dunia kewartawanan, pelukis, penulis cerpen, novel, skenario film dan sinetron, serta esai. Maka tidak bisa disangkal bila banyak pengamat menyebut Putu Wijaya adalah Seniman multitalenta atau serba bisa.

Berdasarkan data yang dihimpun, mewawancarai sejumlah pengamat dan tokoh Seniman, serta  menonton pertunjukannya, AKURAT.CO menurunkan serangkaian artikel untuk menyingkap kiprah, pemikiran, dan sumbangan Putu Wijaya dalam dunia kesenian dan kebudayaan Indonesia.

baca juga:

Dan memang, bukti bahwa Putu Wijaya memiliki peran dan sumbangan yang tidak kecil artinya bagi bangsa Indonesia yang dapat dilihat dari  apresiasi berupa 30-an penghargaan yang diberikan pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga dan  komunitas  di dalam dan luar negeri, serta merebut berbagai sayembara menulis.

Di antara puluhan skenario film yang ditulisnya, dua antaranya meraih pengharagaan Piala Citra pada  FFI 1980 dan Kembang Kembangan pada FFI 1985. Dari puluhan skenario sinetron gubahannya,  skenairo film Dukun Palsu berhasil merebut skenario terbaik  pada Festival Sinetron Indonesia 1995. Belum lagi  penghargaan untuk Putu dalam  penulisan cerpen, novel, dan  buku terbaik. Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Seniman Putu Wijaya. AKURAT.CO/Herman Syahara

Putu Wijaya juga dikenal sebagai jurnalis. Pada 1969 misalnya dia menjadi wartawan majalah Ekspres, wartawan majalah Tempo pada 1971-1979, dan  pada 1979-1985 menjabat Redaktur Pelaksana majalah Zaman. Pernah pula Putu menjadi dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS, pada 1985-1988.

Dari luar negeri  antara lain Putu pernah menerima SEA Write Award  dari Bangkok (1980) dan Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992).  Anugerah Seni pernah diberikan oleh Menteri P&K Dr Fuad Hasan (1991), Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993), Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden RI  (2004), Penghargaan Achmad Bakrie (2007), dan Penghargaan Akademi Jakarta(2009).

Bakat drama dan menulis Putu Wijaya mulai semasa  SMP. Cerita pendek pertamanya dimuat di harian Suluh Indonesia yang terbit di Bali. Ketika SMA dia pernah main dalam drama berjudul Badak (Anton Chekov) yang disutradarai oleh sastrawan  Kirdjomulyo.

Selepas SMA di Bali, Putu Wijaya masul ke Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Dia juga kuliah di Akademi Seni Drama dan Film dan di Akademi Seni Rupa Indonesia. Semasa di UGM Yogyakarta, Putu Wijaya pernah mendirikan grup teater  dengan ikut  menulis, memainkan, dan menyutradarainya. Dia juga sempat  bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan Rendra, Teater Kecil (Arifin C. Noer),  dan Teater Populer (Teguh Karya).

Pada  1971 Putu mengibarkan bendera Teater Mandiri yang terus dihidupinya sampai hari ini. Jadi, usia Teater Mandiri telah berjalan 40-an tahun. Berbagai situasi sosial, politik, dan ekonomi telah ikut menempa perjalanan Putu dan teaternya ini.

Dalam rangka peringatan Seabad Kongres Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Dersember 2018, Putu Wijaya dianugerahi sebagai Tokoh Kebudayaan bersama  D. Zawawi Imron, Ismiyono, dan Hubertus Sadirin.

 Acara tersebut  menyita perhatian publik karena saat memberikan penghargaan dan menyalami Putu Wijaya, presiden berjongkok agar dapat bertatap langsung dengan Putu Wijaya  yang duduk di atas kursi roda akibat berbagai gangguan kesehatan  sejak 2012. Adegan ini diunggah  di akun Twitter dan Instagram presiden dan menjadi perbincangan di media sosial.

Di dalam cuitannya, Jokowi menulis: “Sejak remaja hingga 74 tahun kini, Putu Wijaya telah menulis 30 novel, 40 naskah drama, 1.000 cerpen, esai, dan lain-lain. Penghargaan Kebudayaan kepada Putu Wijaya dan tiga tokoh lain, atas upaya menjaga kebudayaan Indonesia tetap mengakar dan tumbuh subur mewarnai Budaya dunia.”

Seniman Putu Wijaya. AKURAT.CO/Herman Syahara

Bekerja dari kursi atas roda

Sebagai sebentuk penghormatan terhadap kiprah kesenimanan Putu Wijaya, Institut Nalar Jatinangor --sebuah komunitas yang didirikan oleh  penyair dan aktivis kesenian Jawa Barat Hikmat Gumelar dan sejumlah alumni Universitas Padjajaran Bandung, bersama Second House  menggelar acara meriah  yang bertema  Putu Wiajaya: Bertolak dari Yang Ada.

Bertolak dari Yang Ada adalah semacam kredo, atau kalau mau disebut lebih keren sebagai “falsafah” berkesenian Putu Wijaya yang menabukan ketidakadaan, ketiadaan, kesulitan, kemiskinan, dan segala keterbatasan, sebagai penghalang untuk berkesenian.

Acara yang digelar tiga hari berturut-turut mulai  1-3 Maret 2019 lalu di  Gedung PPK/YPK di Jalan Naripan, Bandung, itu juga dimaksudkan sebagai perayaan hari ulang tahun Putu yang ke 74. Maka tak heran, meskipun secara resmi perayaan ulang tahunnya baru jatuh pada 11 April lalu, namun saat itu Putu sudah dihujani ucapan  selamat dan doa dari panitia dan para pengunjung.

Dalam acara ini  seluruh hal ihwal dan pencapaian kesenimanan Putu Wijaya disajikan lewat seminar, pertunjukan teater, serta pameran lukisan dan berbagai properti yang pernah dipakai pentas oleh Putu Wijaya. Mulai dari mesin tik tua merek Brother, topeng-topeng,  kursi dan meja jati, buku-buku, boneka raksasa, kain-kain properti, koper, kotak peti, setting panggung lainnya.

Ratusan mahasiswa dan sejumlah Seniman, penyair, sastrawan, akademisi, dan pengamat dari  Bandung, Jakarta, dan kota-kota di Jawa Barat lainnya ikut memeriahkan acara itu. Kerinduan publik pada Teater Mandiri dan akting mumpuni Putu Wijaya pun terobati ketika mereka tampil pada hari kedua dan ketiga dalam lakon “Perempuan Sejati, Peace”.

Di antara pemain ada generasi yang agaknya dipersiapkan sebagai penerus  Teater Mandiri, yakni Taksu Wijaya (anak) dan Dewi Pramunawati (istri) yang dinikahinya pada 1985. Akting memukau juga disumbangkan oleh bintang tamu Jais Darga, seorang perempuan kelahiran Bandung yang selain dikenal sebagai aktor teater senior sejak tahun ’70-an, juga  kini berprofesi  “art dealer” papan atas dalam dunia Seni lukis nasional internasional.

Meskipun harus menyutradari dan bermain dengan tetap berada di atas kursi roda, namun spirit dan akting Putu  tetap  prima. Sebagaimana kredonya, “bertolak dari yang ada”, gangguan kesehatannya yang menyebabkan tak bisa mengangkat tangan kanan dan berjalan, bukan halangan untuk memberikan pentas yang terbaik.

Untuk persiapan pentas ini Putu terus memimpin latihan dengan serius. Dengan vokalnya yang masih belum bulat dan parau –namun terdengar lebih baik dari tahun lalu, Putu terus meneriakkan instruksi kepada pemain yang dianggap kurang total.

Bahkan, latihan ini dilakukannya sampai larut malam. Dan, di menit terakhir jelang pertunjukkan, Putu masih juga mengajak timnya untuk melakukan gladi resik dengan serius. Dia tak ingin mengecewakan publik teaternya. Dan, memang, sampai beberapa menit penonton tak beranjak padahal pertunjukan sekitar satu setengah jam itu  telah usai.[]

Editor: Erizky Bagus Zuhair

berita terkait

Image

Hiburan

74 Tahun Putu Wijaya, 40 Tahun Berkarya

Pengamat: Energi Putu Wijaya Diterima Generasi Milenial

Image

Hiburan

74 tahun Putu Wijaya, 40 Tahun Berkarya

Pertunjukannya Meneror Mental Penonton

Image

Hiburan

74 Tahun Putu Wijaya, 40 Tahun Berkarya

Disepelekan karena Mengajarkan Main Drama dengan Kostum Spanduk Bekas

Image

Hiburan

Putu Wijaya: Kesenian di Negeri Kita Masih Menjadi Pengemis

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

Gereget dan Bikin Gemas, Begini Gaya Ganjar Pranowo saat Main TikTok

Gaul bener memang gubernur satu ini!

Image
Hiburan

Siap Comeback, 5 Fakta Menarik Album Terbaru BTS yang Rilis Februari

Jangan sampai ketinggalan!

Image
Hiburan

Awet Muda di Usia 44 Tahun, begini 11 Potret Transformasi Maia Estiyanti

Tahun 1991 saat Maia duduk di bangku kelas 3 SMP, ia memenangi juara 2 cover majalah "Aneka Yess"

Image
Hiburan

Panjangnya 6 Meter hingga Nuansa Disko, 7 Gaun Artis Dunia Paling Curi Perhatian di Grammy Awards 2020

Mana busana favoritmu?

Image
Hiburan

Lagunya Viral di Tik Tok, 10 Pesona Zico Penyanyi Any Song yang Swag Abis!

Tak hanya viral di Tik Tok, Lagu Any Song juga puncaki tangga lagu

Image
Hiburan
Grammy Awards 2020

Boyong Lima Penghargaan Utama, Billie Eilish Sukses Pecahkan Berbagai Rekor Grammy Awards

Eilish bawa pulang piala Best Pop Vocal Album, Best New Artist, Song of the Year, Album of the Year, dan Record of the Year.

Image
Hiburan

Alasan Hanung Bramantyo Kenalkan Pocong Kepada Sang Anak

Hanung Bramantyo mulai memperkenalkan sesuatu yang menakutkan seperti pocong dan hal-hal misterius kepada anak-anaknya.

Image
Hiburan

Dijuluki 'Ibu' hingga Jadi Peserta Idol Chef, 5 Idol K-Pop ini Ternyata Jago Masak

Kemampuan memasak Jin "BTS" tak bisa diremehkan lho. Buktinya ia pernah mengikuti ajang Idol Chef sebagai perwakilan grup.

Image
Hiburan

Emosi Saat Sidang Kasus Ikan Asin, Hakim Sebut Fairuz A Rafiq Trouble Maker

Fairuz sendiri hadir sebagai saksi dalam sidang kasus Ikan Asin.

Image
Hiburan

Kobe Bryant Meninggal Dunia, Augie Fantinus Mengaku Sangat Kehilangan

Augie Fantinus mengaku ada banyak hal-hal dalam hidupnya yang terinspirasi dari pemain basket kelas dunia tersebut.

terpopuler

  1. Mbah Mijan: Insting Saya Mengatakan Virus Corona Sulit Berkembang di Iklim Indonesia

  2. Emosi Saat Sidang Kasus Ikan Asin, Hakim Sebut Fairuz A Rafiq Trouble Maker

  3. Tengku: Saya Sangat Tidak Suka Jika Ibu, Saudara, Anak Perempuan, atau Isteri Saya Satu-satunya Dihina

  4. Jokowi: Saya Ini Orang Pabrik, Jadi Melihat dan Masuk ke Sebuah Ruangan Itu Kelihatan Ada Manajemennya Apa Tidak

  5. Untuk Pertama Kali, Israel Izinkan Warganya Beribadah Umrah dan Haji ke Arab Saudi

  6. Jika Trump Umumkan Rencana Damai Timur Tengah, Palestina Ancam Mundur dari Kesepakatan Oslo

  7. Usai Diperiksa KPK, Sekjen Kementerian PUPR Sebut Semua Proyek Sudah ada Aturannya

  8. Mulut Penuh Tak Mau Berhenti, Seorang Wanita Tewas saat Lomba Makan Kue

  9. Jika Bebas dari Kasus 'Ikan Asin', Ini Nazar Pablo Benua-Rey Utami

  10. Polri Duga Ada Penyebaran Berita Bohong pada Kasus Sunda Empire

fokus

Universal Health Coverage
Menyambut Shio Tikus Logam
Toleransi vs intoleransi

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Pemerintah, Untuk Apa dan Siapa?

Image
Achmad Fachrudin

Babak Baru Suksesi Wagub DKI

Image
UJANG KOMARUDIN

Negeri Darurat Korupsi

Image
Zainul A. Sukrin

Negara Sengketa

Wawancara

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Image
Sea Games

Milos Sakovic

"Polo Air Indonesia Butuh Liga dan Banyak Turnamen"

Image
Gaya Hidup

Pertama Kali Akting Bareng, Giorgino Abraham Langsung Nyaman dengan Sophia Latjuba

Sosok

Image
Iptek

Di Davos, Johnny Plate Paparkan Strategi Komprehensif Dukung Ekosistem Digital

Image
Gaya Hidup

Najwa Shibab Bawa Perpusnas Rangkul Generasi Muda Cinta Literasi

Image
News

Pilih Jadi Seniman daripada Politisi, 5 Fakta Menarik Putri Bungsu Gus Dur Inayah Wahid