Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Herman Syahara

Rendra Mengubah Jalan Hidup Adi Kurdi dari Pematung Menjadi Aktor Berwatak

Herman Syahara

In Memoriam Adi Kurdi

Image

Adi Kurdi dan Clara Sinta dalam cuplikan drama Panembahan Reso | AKURAT.CO/Herman Syahara

AKURAT.CO “Selamat pagi, Pak Rendra.” 

“Oh, ya, silakan. Dengan siapa, ya?

“Saya Adi Kurdi, mahasiswa ASRI. Sedang apa, Pak Rendra?

baca juga:

“Saya sedang mencuci baju anak-anak.”

Penggalan dialog antara Adi Kurdi dan WS Rendra  pada tahun tahun 1970-an di Yogyakarta itu dengan lancar  dituturkan oleh Adi Kurdi saat memberikan kesaksian dalam acara Rindu Rendra Megatruh,  di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Oktober 2019 lalu. 

Dalam acara yang digelar  untuk mengenang almarhum dramawan dan budayawan WS Rendra itu, dengan gaya khasnya yang mengingatkan orang pada tokoh Abah yang pernah dimainkannya dalam drama sunting Keluarga Cemara, Adi Kurdi mengungkapkan kesan-kesannya yang mendalam saat pertama kali bertemu dengan Rendra sampai dia dilibatkan  dalam pementasan-pementasan Rendra dengan  Bengkel Teaternya yang kesohor itu.

Mendiang Adi Kurdi. AKURAT.CO/Herman Syahara

Setidaknya dalam dua  tahun terakhir, AKURAT.CO sempat bertemu Adi Kurdi yang hadir dalam acara mengenang almarhum WS Rendra. Padahal, meskipun bola matanya nampak sempurna, namun daya penglihatannya sudah lama  hilang akibat serangan glukoma. Karena itu dia tak bisa lepas dari tongkat kayu dan bantuan seseorang untuk menuntunnya. 

Namun jangan lihat Adi Kurdi saat berjalan meraba-raba dengan tongkatnya. Dengarkanlah vokalnya. Tataplah ekspresinya. Simak gesturnya. Ketiga modal aktor itu dengan kuat mencuat dalam penampilannya saat dia sedang memerankan sebuah tokoh drama di atas panggung atau saat menjadi dirinya sendiri di alam nyata.

Pada acara Mengenang  Satu Dekade Rendra tahun 2018 di Gedung Graha Bhakti Budaya, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat,  dia tampil memukau saat beradu akting dengan Clara Sinta,  anak kelima Rendra dari istri pertamanya Sunarti Soewandi. Dia  membawakan cuplikan drama karya  Rendra berjudul Panembahan Reso lengkap dengan kostum busana Jawa sebagai salah satu mata  acara hiburan. Kekuatan aktingnya menutupi kelemahan pada penglihatannya.  

Setahun kemudian,  pada acara Rindu  Rendra Megatruh di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail yang menghadirkan budayawan Emha Ainun  Nazib dan Adhi  M Massardi sebagai pembicara, AKURAT.CO beruntung bisa merekam Adi Kurdi ketika  memberikan testimoni saat pertama kali dia berkenalan dengan dramawan Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1970-an itu.

Meskipun seluruh testimoni itu merupakan kenangan dan kesannya terhadap sosok Rendra, namun di sana juga tersirat watak seorang Adi Kurdi yang santun, rendah hati, ulet, dan optimistis dalam menjalani proses kehidupan ini.

Tak berlebihan kiranya jika dikatakan, kembalinya Rendra dari Amerika Serikat (AS) pada tahun 1970-an itu menjadi titik balik kehidupan Adi Kurdi dari seorang pematung  yang  juga mahasiswa ASRI  menjadi  aktor sebagaimana dikenal sampai akhir hayatnya.

Seperti kita tahu, si pemilik kenangan itu, aktor senior Adi Kurdi, kini telah berbaring tenang di kompleks  pemakaman Bengkel Teater Rendra di Cipayung, Depok, Jawa Barat. Dia  wafat pada Jumat (8/5), di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta dalam usia 71 tahun karena mengalami penyumbatan  di  otak. Ditinggalkannya istri tercinta, Bernadetta Siti Roestyratuti, dan putri tunggalnya, Maria Advena Victoria.

Aktor yang telah banyak bermain dalam sejumlah drama sunting (antara lain sebagai tokoh Abah dalam  Keluarga Cemara yang populer) serta film layar lebar (antara lain Gadis Penakluk dan Bulan di Atas Kuburan), itu dimakamkan satu area dengan suhu teater yang dikaguminya, WS Rendra.

Ekspresi Adi Kurdi saat diwawancarai. AKURAT.CO/Herman Syahara

 Belajar estetika dan filsafat

Selanjutnya, dalam kesaksiannya di Pusat Perfilman Usmar Ismail tahun lalu itu, Adi Kurdi mengaku terkejut dan kagum pada sosok Rendra. Dalam pandangannya, Rendra adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab dan sayang kepada anak-anaknya karena  tak merasa malu mencuci sendiri baju  anak-anaknya itu.  

“Jauh dari pikiran saya, orang yang namanya sebesar itu  ternyata mencuci sendiri pakaian anak-anaknya. Dia tidak peduli kebesaran namanya,  kesenimanannya, dan bagaimana orang memandang dia. Luar biasa,” kenang Adi Kurdi.

Pada pertemuan dengan Rendra di sumur itu, Adi Kurdi mengaku membantu menimbakan air. Dialog di antara keduanya pun mengalir  hangat. Sambil terus mencuci, Rendra berbicara panjang lebar tentang estetika, filsafat Barat, dan hal-hal lainnya. 

“Itulah pelajaran pertama yang saya dapatkan dari Mas Rendra. Di sumur sambil mencuci baju anak-anaknya,” ulang Adi Kurdi.

Perkenalannya dengan Rendra nampaknya membawa pencerahan tersendiri bagi Adi Kurdi yang saat itu sedang dilanda frustrasi  sebagai mahasiswa ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta sebagai pematung yang dinilainya  hanya memenuhi pesanan orang lain.

“Saya mengenal Rendra semasa saya kuliah di ASRI Yogyakarta. Pada saat itu saya sedang mengalami frustrasi karena sekolah  hanya menjadikan saya seorang tukang patung,” ungkapnya.

Ketika itu dia merasa pendidikannya hanya menjadikannya sebagai orang yang memenuhi  order untuk membuat patung dan kemudian mendapatkan honorarium. Adi Kurdi merasa tidak banyak mendapatkan ilmu pengetahuan atau wawasan apapun  tentang keindahan, filsafat, sosial, dan ilmu lainnya.   

Dalam keadaan yang membosankan seperti itu, kata Adi Kurdi, dia mendengar  kabar ada tokoh yang baru pulang dari AS  bernama WS Rendra dan sedang memberikan ceramah di Kotabaru, Gondokusuman, Yogya. Didorong oleh rasa penasaran, lalu dia dengan sejumlah temannya sesama mahasiswa ASRI berangkat untuk menyaksikan acara itu.  

Sesampainya di sana ternyata pengunjung sudah memenuhi ruang pertemuan. Adi Kurdi dan kawan-kawan berusaha menembus kerumunan orang supaya bisa melihat Rendra dari dekat. Begitu berada di depan, dia menyaksikan seorang lelaki muda gondrong, tampan, pakai baju dan celana jeans. Gaya ceramahnya memikat dan atraktif  karena tidak hanya duduk di balik meja. Sambil memegang mikrofon dia  berjalan ke sana kemari menguasai ruang panggung.

“Di dalam hati saya berpendapat,  saya harus belajar sama orang ini. Saya lupa bahwa sebenarnya saya ini mahasiswa seni rupa tapi tiba-tiba saya ingin belajar dari seseorang yang bernama Rendra,” cetusnya.

Karena masih penasaran dan ingin mengenal lebih jauh, sehabis acara ceramah di Kotabaru itu, Adi Kurdi diam-diam mengikuti Rendra dan kawan-kawan sesama seniman yang berjalan kaki pulang ke rumah Rendra di daerah Mancasan,  Ketanggungan. 

Tidak semua yang ada dalam rombongan itu dikenalnya. Karena itu Adi Kurdi tidak berani bergabung dan hanya mengikutinya dari belakang. Bahkan ketika di  Bringharjo, Malioboro, rombongan mampir untuk makan gudeg, Adi Kurdi mengaku hanya memandanginya dari jauh sambil mengunyah klatak,  yaitu biji melinjo yang digoreng dengan pasir panas. Cuma itu yang dia mampu beli.

“Karena saya tidak kenal mereka dan tidak punya duit, saya tidak ikut makan gudeg. Untungnya ada orang jual klatak, yaitu biji melinjo yang digoreng pakai pasir. Saya menunggu mereka sambil makan klatak,” ungkap Adi Kurdi yang disambut tawa pengunjung.

Adi Kurdi tak bisa lepas jauh dari tongkatnya. AKURAT.CO/Herman Syahara

Melatih main rebana

Dalam kunjungan ke sekian kali ke kediaman Rendra, kekagumannya pada tokoh itu makin berlipat. Salah satu alasannya,  rumahnya yang kecil hanya didominasi oleh buku dan sebuah gramafon (mesin pemutar piringan hitam). Sepulang dari AS Rendra rupanya hanya membawa banyak buku. Tidak punya harta lain seperti mobil atau motor.

“Saya berfikir, seandainya dosen-dosen saya di seni rupa mau serius seperti dia, mungkin saya tidak akan bosan seperti waktu itu,” kilahnya.

Belakangan Adi Kurdi pun tahu, ternyata  setiap malam Rendra dan kawan-kawannya di Bengkel Teater seperti Putu Wijaya, Azwar AN, Amak Baldzun (alm), Syubahasa (alm), dan lainnya  sedang giat berlatih teater dalam rangka pementasan drama Qasidah Barzanji. Namun, sekali lagi, Adi tak berani mendekat dan hanya menontonnya dari balik jendela.

Dalam pandangan Adi Kurdi, cara latihan yang dipimpin Rendra terkesan “aneh” dan baru dilihatnya. Mereka menyebutnya latihan Gerak Indah. Rendra serius memberikan pelatihan kepada murid-muridnya dan mempersiapkan peralatan untuk kepentingan mereka, di antaranya dengan bantuan peralatatn gramafon itu.

“Dalam melatih teater Rendra memiliki sistem. Tidak hanya punya ide atau gagasan, tapi dia juga  memikirkan metode dan cara melatih pribadi-pribadi muridnya untuk berkembang. Ini yang saya kagumi,” kesan Adi.

Pada suatu malam di saat menonton latihan, tiba-tiba dia  didekati oleh Syubahasa yang menanyakan apakah dirinya bisa menabuh rebana. Alasannya, para pemain tidak ada yang bisa memainkan rebana sesuai tuntutan skenario.

Sebagai orang Pekalongan, jelas Adi, memainkan alat musik tabuh rebana baginya sudah menjadi kebiasaan. Namun, karena ada  rasa malu dan menghindari kesan dirinya yang meminta, Adi mengungkapkan kepada Syubahasa bahwa jika  Rendra sendiri yang mengajaknya dia siap.

Rendra pun memanggil Adi  dan memintanya melatih menabuh rebana. Setelah para pemain bisa menabuh rebana, muncul masalah baru, yakni  tidak ada yang bisa membuat melodi. Rendra pun memutuskan agar Adi Kurdi ikut bermain sekaligus membuat melodi untuk musik rebananya. 

Di hari-hari selanjutnya,  ucap Adi Kurdi, tanpa disadarinya dia semakin intens berlatih drama bersama Rendra dan teman-temannya di Bengkel Teater Yogyakarta. Dorongan moril dan spiritual yang kuat dari  Si Burung Merak  membuat  dirinya semakin total terjun ke dunia yang semula sama sekali asing baginya itu.

 “Itualah kenapa saya menjadi murid Rendra di bidang teater. Saya diberi peran. Puncaknya, saya diminta memerankan Kepala Suku dalam drama Kisah Perjuangan Suku Naga,” kenangnya dengan penuh perasaan.

Untuk memainkan peran itu Rendra meminta Adi berpuasa serta  jalan kaki ke pantai Parangtritis yang jaraknya  sekitar 20-an kilometer dari kediaman Rendra tanpa membawa bekal uang dan makanan.

“Seorang Kepala Suku harus kuat, “ ujar Adi Kurdi menirukan alasan Rendra kenapa dirinya diminta  menjalani ritual  itu.

Dengan modal kerendahatian, kesungguhan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan sikap hormatnya  terhadap Sang Guru Rendra saat menimba ilmu teater, bisa dipahami jika Adi Kurdi menjelma  menjadi aktor teater dan film  yang kokoh  dan penuh karakter sampai di ujung  hayatnya.

Selamat jalan, Abah. Kepergianmu membuat panggung teater dan film  Indonesia terasa sunyi. []

Editor: Erizky Bagus

berita terkait

Image

News

Ibu Mertua Meninggal Dunia, Ahmad Riza Berpesan Dana Karangan Bunga Dijadikan Sedekah

Image

News

Suami Bupati Bogor Ade Yasin Meninggal Dunia

Image

Hiburan

Hasil Negatif, Ade Firman Hakim Dipastikan Meninggal Dunia Bukan karena COVID-19

Image

Hiburan

Ibunda Meninggal, Indra Bruggman: Siapa yang Bangunin Aku Sholat Subuh Lagi?

Image

Hiburan

Kabar Duka, Ibunda Indra Bruggman Meninggal Dunia

Image

Hiburan

Tutup Usia, 5 Potret Kenangan Ade Firman Hakim Semasa Hidup

Image

Hiburan

Manajer Sebut Hasil Tes Swab Mendiang Ade Firman Hakim Belum Keluar

Image

Hiburan

Ade Firman Hakim Meninggal Karena COVID-19, Ini Kata Sang Adik

Image

Hiburan

Alami Kegagalan Fungsi Otak, Musisi Sandra Dianne Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Fatal

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

7 Potret Manis Park Eun-bin, Tetap Memesona Meski dengan Riasan Tipis

Siapa nih penggemar Park Eun-bin?

Image
Hiburan

5 Fakta Pemeriksaan Deepika Padukone Soal Narkoba, Menangis di Depan Polisi

Deepika Padukone tidak sendirian. Pasalnya ada artis lain yang juga dipanggil biro narkotika, yakni Shraddha Kapoor dan Sara Ali Khan.

Image
Hiburan

5 Meme Kocak Gambarkan Panasnya Semarang, Bak di Neraka!

Semarang memang dikenal karena udaranya yang panas.

Image
Hiburan

Bukan Soal Fisik, Ini yang Membuat Nathalie Holscher Jatuh Hati pada Sule

Menurut Nathalie, Sule tidak pernah memaksakan dirinya untuk selalu mengikuti kemauan Sule, meskipun itu baik.

Image
Hiburan

Runaway, Single Spesial dari Rahmania Astrini

Lagu Runaway milik Rahmania Astrini diproduseri oleh Mr Fantastic

Image
Hiburan

Sudah Ada Kesepakatan, Syakir Daulay dan ProAktif Segera Umumkan Hasil Mediasi

Proses mediasi yang dilakukan penyanyi Syakir Daulay dan label musik ProAktif membuahkan hasil

Image
Hiburan

7 Potret Memesona Meli Nuryani, Pemenang LIDA Indonesia 2020

Meli Nuryani dari Jawa Barat berhasil menjadi juara pertama LIDA Indonesia 2020 usai memperoleh polling tertinggi sebanyak 35,91 persen.

Image
Hiburan

Pembela Jerinx SID: Kami Mohon Majelis Hakim Membatalkan Semua Dakwaan

Pengacara Jerinx SID juga berharap biaya perkara selama kasusnya bergulir dibebankan kepada negara

Image
Hiburan

Sinopsis Istri Kedua 29 September 2020, Kegalauan Arsa Makin Memuncak

Arsa sedang luntang-lantung mengendarai motornya dan dia nyaris menabrak orang yang mau menyeberang

Image
Hiburan

Nia Ramadhani Sewa Rumah Setengah Miliar untuk Singgah dan Syuting

Orang kaya mah bebas! Nia Ramadhani sewa rumah mewah untuk santai sekalian main sama anjing.

terpopuler

  1. Pajak 0 Persen, 5 Mobil Keluarga Ini Jadi di Bawah Rp100 Juta!

  2. Seru Nih, Diskusi ILC Nanti Malam Bahas PKI, Fahri Minta Fadli Zon Dihadirkan

  3. Ini Alasan Kenapa Owner Tak Pakai Uang Pribadi untuk Bayar Upah Karyawan

  4. Terbukti Mustajab, ini Doa-doa Agar Kamu Cepat Kaya!

  5. Lepas Masker Saat Makan Jadi Alasan Anies Baswedan Larang Dine In di Restoran

  6. 5 Momen Wulan Guritno dengan Bintang Muda Persib, Febri Menang Banyak

  7. Diam-diam Suami Pinangki AKBP Yogi Napitupulu Diperiksa Penyidik Kasus TPPU

  8. Dasco Kasih Bocoran Nasib Duet Prabowo-Puan di Pilpers 2024

  9. Hadirkan Jaksa Agung dan Eks Ketua MA di Persidangan Pinangki, Ali Mukartono Bilang Begini

  10. Disiksa Majikan, TKI di Singapura Nekat Kabur Turuni Apartemen Lantai 15

fokus

Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT
Webinar Akurat: Resesi Ekonomi

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Komunisme dan Kearifan

Image
Dr. Abd. Muid N., MA.

Pandemi dan Pohon Khuldi

Image
UJANG KOMARUDIN

Pilkada yang Tak Ditunda

Image
Arif Hidayat

3 Cara untuk Anda Bisa Menjadi Karyawan Terbaik

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Potret Anies Baswedan saat Muda, Disebut Mirip Artis Luar Negeri!

Image
News

5 Fakta Penting Karier Menkes Terawan, Kontroversi Cuci Otak hingga Jadi Menteri Kesehatan

Image
News

Aksi Susi Pudjiastuti Jadi Model Dadakan, Gayanya Bak Ratu