image Banner Idul Fitri
Login / Sign Up

'Kontribusi' COVID-19 dan Sastra Hijau untuk Bumi

Herman Syahara

Wabah Corona

Image

Buku bergenre sastra hijau Daun Tebu Keemasan | AKURAT.CO/Herman Syahara

AKURAT.CO Setiap tanggal 22 April, kita merayakan Hari Bumi Sedunia. Hari Bumi diinisiasi untuk membangkitkan kesadaran dan apresiasi terhadap satu-satunya planet yang sampai saat ini masih bisa dihuni mahluk bernama  manusia, hewan, dan tumbuhan itu.

Ada rasa “gimana gitu” menyambut Hari Bumi Sedunia pada 22 April  2020  yang kemarin dirayakan untuk ke-50 kalinya. Jika tahun-tahun sebelumnya Hari Bumi Sedunia dirayakan meriah yang ditandai dengan berbagai acara seremonial seperti penanaman pohon di lahan kritis, aksi bersih-bersih sampah dan limbah di sungai atau pantai, serta kegiatan pro pelestarian alam di udara terbuka lainnya. Namun, kali ini terasa sunyi   karena dunia sedang disibukkan melawan pandemi  virus COVID-10.

Demi  keamanan dari paparan   COVID-19 dan tak dituduh berkontribusi menambah jumlah korban, perayaan Hari Bumi pun “dipindahan”  ke jagat digital. Selama 24 jam penuh para pemimpin dunia, musisi, aktor, seniman, aktivis, dan berbagai elemen  merayakannya dengan berbagai pertunjukan dan ajakan kuat mengatasi perubahan iklim di situs remi  Earth Day Network dan twitter. Stasiun televisi National Geographic  telah mengiklankan acara ini sejak pekan lalu dan menyiarkan acara itu.

baca juga:

Di tengah bencana pandemi inilah kondisi Bumi dilaporkan mengalami  recovery atau masa-masa  perbaikan. Salah satu contohnya seperti yang laporkan Science Alert mencatat, para astronom yang memotret dengan instrumen di satelit mereka, hari-hari di tengah pandemi ini terdapat fakta emisi nitrogen dioksida (gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri) di Lembah Po, Italia, menurun drastis karena berhentinya aktivitas industri di kawasan itu.

Sebelumnya, perbaikan kualitas lingkungan  serupa terjadi di daratan Tiongkok, kawasan pertama merebaknya virus COVID-19. Sungai Venesia yang tak pernah sepi dari raung kapal motor yang ditumpangi para turis dari mancanegara, juga berubah jerih dan mengundang ikan-ikan datang. Di layar kaca kita saksikan laporan ada beruang dan burung pinguin bisa kelayapan dengan santai di tengah permukiman warga.

Walaupun hanya memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan belum sampai lock down, warga  ibu kota Jakarta pun turut “menikmati” membaiknya kualitas udara selama pandemi ini.

Mengomentari fenomena membaiknya kualitas lingkungan hidup di berbagai penjuru dunia, organisasi lingkungan internasional Greenpeace menyebutkan, pandemi virus COVIDS-10 telah berdampak negatif pada aktivitas  bisnis dan ekonomi akibat kebijakan lock down yang diterapkan sejumlah negara untuk menekan penyebaran virus tersebut. Industri  yang tertahan menyebabkan polusi industri berkurang  sehingga  kualitas lingkungan hidup pun  meningkat.

Selama ini manusia memang menjadi biang kerok terjadinya degradasi dan kerusakan  alam lewat berbagai aktivitas eksplorasi sumberdaya alam  atas nama pertumbuhan  ekonomi dan bisnis. Namun, sebagaimana  diungkap Forest Campaigner  Team Leader Greenpeace Indonesia  Arie Rompas, COVID-19 telah berimplikasi  terhadap perlambatan dalam perdagangan dan kegiatan ekonomi secara global seperti yang terjadi di China, Amerika, dan Eropa.

Meskipun tidak secara langsung, COVID-19 disebut-sebut telah “berkontribusi”  dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang membuat Bumi bisa “bernafas agak lega”. Namun secara eksplisit terungkap  juga  keprihatinan dari aktivis lingkungan, kenapa perbaikan lingkungan  itu justru  terjadi “hanya” ketika ada campur tangan virus jahat yang belum ada obatnya itu.

Aktivis genre Sastra Hijau Naning Pranoto.. AKURAT.CO/Herman Syahara

Peran Sastra Hijau

Memang ada beragam  cara merayakan Hari Bumi Sedunia. Sejumlah penulis  melakukannya dengan menerbitkan karya sastra berupa cerita pendek, puisi, esai, atau karya sastra lainnya yang bertemakan lingkungan hidup. Tak sedikit juga yang membuat pementasan teater dengan tema yang menggugah kesadaran menyelamatkan Bumi.

Di Indonesia, salah seorang yang peduli pada kegiatan sastra  yang dikaitkan dengan tema-tema  lingkungan hidup adalah Naning Pranoto. Melalui komunitas yang didirikannya,  Gubug Sastra Hijau/RayaKultura, pegiat literasi dan instruktur penulisan kreatif ini terus  menggelar pentas dan pelatihan penulisan  sastra bertema lingkungan hidup atau  bergenre Sastra Hijau.

Untuk menggelar acara itu dia   tak segan berkolaborasi dengan berbagai  kalangan, termasuk perguruan tinggi, sastrawan, dan komunitas pecinta lingkungan. Di daerah Bantul KM 6 Yogyakarta, dia mengikhlaskan tempat tinggalnya di atas lahan 1000 meter sebagai pusat kegiatan komunitasnya,  termasuk untuk pementasan karya seni bertema Sastra Hijau.

Demikian juga rumah yang sekarang ditinggalinya di Sentul, Bogor, Jawa Barat, terbuka untuk mereka yang tertarik berdiskusi dan pelatihan seputar penulisan dan pementasan karya Sastra Hijau.  Diawali  sebagai peserta  work shop penulisan Sastra Hijau selama sepekan  di Sekolah Alam Cikeas milik Yayasan Suratto pada 2014, selanjutnya penulis  terlibat dalam beberapa proyek pementasan Sastra Hijau yang diselenggarakan Naning Pranoto.

“Pintu gubug kami terbuka untuk siapa saja yang bermisi dan visi sama dengan kami untuk merawat Ibunda Bumi,” ajak wanita kelahiran Yogyakarta 6 Desember 1957 yang pernah belajar tentang Sastra Hijau di Parque Ecologico Tatul Porangaba, Brazil (1994-1995) ini.

Di samping menerbitkan buku-buku sastra dan  teknik penulisan kreatif, dengan dukungan sejumlah  ahli di dunia penyiaran, belakangan Naning juga terjun  ke produksi film-film pendek dengan  mengangkat tema budaya  dari berbagai daerah di Indonesia.

Produksi film terbarunya berjudul Wasiat Ratu Ageng Tegal Rejo. Sebelum dipentaskan, kisah ini dipanggungkan di Galeri Indonesia Kaya dengan dukungan puluhan pemain  dari kalangan pendidik dan siswa tingkat  TK, sampai SMU Katolik Don Bosco II  Jakarta Timur. Kiprah siswa dan pendidik ini diabadikan dalam buku berjudul sama yang diluncurkan di Perpustakaan Nasional Februaru lalu.

Sebelumnya, bersama penyair dan perupa Yeni Fatmawati, Naning Pranoto juga  menerbitkan buku antologi  cerita pendek berjudul Daun Tebu Keemasan.  Buku yang memuat 17 karya cerita pendek ini merupakan  hasil Lomba Cipta Cerita Pendek Genre Sastra Hijau 2019 yang memperebutkan ICLaw green Pen Award.

Apakah genre Sastra Hijau?  Di dalam pengantar buku setebal 266 halaman tersebut, Naning memamparkan, berbeda dengan di Barat, istilah “Sastra Hijau” memang masih relatif baru di Indonesia.

Pada tahun ’90-an Prof Dr Cheryll Glotfety, pejuang lingkungan, bersama kawan-kawannya dari Fakultas Sastra Universitas Nevada Reno, Amerika Serikat, mengimplementasikan Sastra Hijau sebagai disiplin ilmu baru dengan istilah Ecocriticsm (studi tentang sastra dan ekologi)   pada awal ’90-an. Dia berharap Sastra Hijau berperan besar dalam penyelamatan eksistensi Bumi.

Namun, sebelum itu,  istilah ecocriticsm  disebut pertama kali oleh akademisi William Rueckert dalam tulisannya di harian Iowa Review (1978) dengan judul Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism.

“Tulisan ini mengundang diskusi bersifat pro dan kontra. Namun seiring bergulirnya waktu ecocriticism diakui dan memberi  inspirasi banyak orang di AS dan Inggris menulis bertema penyelamatan Bumi,” tulis Naning.

Malah, lanjut dia, akademisi Dr Dana Philip dari Townson University menerbitkan artikel tentang sastra dan lingkungan dengan melakukan penelitian atas karya penulis Wal Whitman, Cormac Emerson, Don DeLillo, Hendry David Thoreau, dan Ralp Waldo Emerson.

Tulisan itu kemudian dihimpun dalam buku berjudul The Truth of Ecology: Nature, Culture,  and Literature In America  yang diterbitkan Oxford Press pada 2003. Selanjutnya buku ini diganjar penghargaan  Modern Language Association’s Prize. Buku ini pun menjadi acuan karya-karya Sastra Hijau.

Ciri utama karya sastra (prosa atau puisi) bergenre Sastra Hijau, menurut Naning, bukan hanya sebuah karya yang bersifat satire. Namun, yang lebih utama bahasa yang dipakai dalam karya itu harus banyak memakai diksi ekologi dan saat menulisnya dilandasi rasa cinta terhadap Bumi.

Selain itu, tulisan harus menyingkap rasa kepedihan Bumi yang hancur dan kegelisahan dalam menyikapi penghancuran Bumi. Juga mengungkap ketidakadilan atas perlakuan sewenang-wenang terhadap Bumi dan isinya seperti pohon, tambang, air, udara, serta penghuninya yaitu manusia.

“Visi dan misi Sastra Hijau adalah penyadaran dan pencerahan yang diharapkan dapat mengubah gaya hidup dari perusak menjadi pemelihara Bumi,” tandas Naning Pranoto.[]

Editor: Erizky Bagus

berita terkait

Image

Ekonomi

Wabah Corona

Omzet Terkikis, Pengrajin Batik Tulis Menangis

Image

News

Idulfitri 2020

Petugas Medis yang Tak Bisa Lebaran Bersama Keluarga

Image

News

Wabah Corona

Pemerintah akan Terapkan Herd Immunity Setelah PSBB Gagal, Hoaks!

Image

News

Wabah Corona

Info COVID-19 di Indonesia Berakhir 6 Juni, Hoaks!

Image

News

Wabah Corona

Ajakan Jokowi Berdamai dengan Covid-19 Bukan Berarti Negara Gagal dan Menyerah Kalah

Image

News

Wabah Corona

Kapolres Lubuklinggau Makamkan Anggotanya yang Meninggal Berstatus PDP: Kewajiban Seorang Pemimpin

Image

News

Wabah Corona

Roda Ekonomi Harus Tetap Jalan, Berikut Ini Panduan Kemenkes Bekerja di Era New Normal

Image

News

Wabah Corona

Data Warga Positif COVID-19 Seluruh Indonesia Sampai Idulfitri

Image

News

Apresiasi Warga Tak Mudik, KemenPUPR Gandeng Musisi Ciptakan Lagu ‘Anti Mudik’

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

Reza Arap Mengaku Pernah Mengidap COVID-19: Susah Napas, seperti Mau Mati

Dokter memberikan pilihan antara mau dirawat di rumah sakit atau pulang. Reza pun memilih isolasi mandiri di rumah dengan diawasi dokter.

Image
Hiburan

Esai Morales Gantikan Nicholas Hoult di Film 'Mission: Impossible 7'

Mission Impossible 7 rencananya akan dirilis pada bulan Juli 2021.

Image
Hiburan

Rutin Baca Al-Quran, Dian Sastrowardoyo Berdiskusi Tentang Terjemahannya

Dian Sastrowardoyo memang rutin tadarus Al-Quran dan memahami segala arti terjemahannya

Image
Hiburan

Para Pemain Tunjukkan Reaksi Tanggapi Berita Soal Film Justice League Versi Snyder

Zack Snyder mengumumkan film Justice League versinya akan rilis di HBO Max.

Image
Hiburan
Idulfitri2020

5 Pasangan Artis Ini Jalani Lebaran untuk Pertama Kali, Seru!

Sederet pasangan artis yang baru saja menikah ini perdana menjalani lebaran Idulfitri bersama tahun ini

Image
Hiburan
Idulfitri2020

Silaturahmi Pakai 'Tangan Pengganti' hingga Dinyanyikan oleh Suster, Ini 7 Momen Unik Idulfitri 2020

Meski pandemi COVID-19, silaturahmi untuk saling memaafkan dalam menyambut Idulfitri 1441 H selalu dapat dilakukan dalam bentuk apa saja

Image
Hiburan

Bertepatan Momen Lebaran, Rizal Armada Umumkan Kehamilan Kedua Istri Tercinta

Istri Rizal Armada hamil anak kedua.

Image
Hiburan
Idulfitri 2020

Rayakan Lebaran Bersama, Roger Danuarta - Cut Meyriska Tidak Mudik dan Salat Id di Rumah

Bagi Roger, kehamilan Cut Meyriska merupakan rezeki.

Image
Hiburan

Kisah Maryam Younarae, Selebgram Korea Selatan yang Jadi Mualaf Setelah Terpikat dengan Ajaran Islam

Hatinya terketuk untuk mengenal Islam setelah melihat Ryzal dan kerabat sesama muslim lainnya berpuasa

Image
Hiburan
Idulfitri 2020

Nicholas Saputra Beberkan Rencana Rayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19

Patuhi PSBB, Nicholas tidak akan silaturahmi ke rumah keluarga lainnya.

terpopuler

  1. Tengku Zul: Orang Kaya Arab Borong Saham Facebook, Semoga Tulisan Sinis 'Jangan Pakai Produk Kafir' Bisa Lenyap

  2. KKB Tembak Dua Petugas Medis Covid-19, Salah Satunya Tewas di Tempat

  3. Meski Pandemi, 7 Keluarga Artis Ini Rayakan Lebaran di Rumah Saja dengan Sukacita

  4. Ustaz Abdul Rahman: Obat Paling Ampuh Penangkal Virus Corona, Kesabaran dan Iman

  5. Puji Siti Fadilah, Mbah Mijan: Terblow Up-nya Beliau Ancaman Sekaligus PR Berat Mereka Dimasa Mendatang, Selangkah Lagi, Jualan Virus Udah Nggak Pakai Sense

  6. Beli Rumah di Usia 21 Tahun, Irsyad Raharjo Ungkap Rahasia Miliki Properti Sejak Dini

  7. Lebaran di Rumah, Raffi Ahmad Gelar Salat Id Dipimpin Syekh Ali Jaber

  8. Nicholas Saputra Beberkan Rencana Rayakan Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19

  9. Kisah Maryam Younarae, Selebgram Korea Selatan yang Jadi Mualaf Setelah Terpikat dengan Ajaran Islam

  10. Pakar Hukum: Perppu 1/2020 Tak Bisa Diterima Karena Sudah Jadi Undang-undang

Jamkrindo Lebaran

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Zainul A. Sukrin

Merayakan Negara yang Keluar dari Tempurung

Image
Achmad Fachrudin

Idulfitri Sebagai Instrumen Kritik Sosial

Image
Achsanul Qosasi

Berlebaran Secara New Normal

Image
Ujang Komarudin

Matinya Reformasi

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Intip Gaya 6 Istri Kepala Daerah yang Hits Abis!

Image
News

Wabah Corona

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan, 7 Potret Prabowo Subianto Bertugas di Tengah Pandemi COVID-19

Image
News

Dari Komandan KRI hingga Jadi KSAL, 5 Fakta Penting Laksdya TNI Yudo Margono