Tech

Helmet CPAP Berbasis IoT, Inovasi Teknologi untuk Pasien Covid-19

Didesain dalam bentuk 3D untuk memudahkan proses perakitan dan pembongkaran material.


Helmet CPAP Berbasis IoT, Inovasi Teknologi untuk Pasien Covid-19
Helmet CPAP berbasis IoT. (uns.ac.id)

AKURAT.CO Dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Ubaidillah bersama tim menciptakan Helmet Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) berbasis Internet of Things (IoT) untuk pasien Covid-19. Inovasi tersebut dapat digunakan memantau kadar oksigen dan saturasi oksigen yang terintegrasi dengan IoT.

“Inovasi dari Helmet CPAP berbasis IoT ini, dapat memantau kadar oksigen pada antarmuka helmet CPAP dan saturasi oksigen yang terintegrasi dengan IoT," ujar Ubaidillah, dilansir dari laman UNS Surakarta. 

Helmet CPAP didesain dalam bentuk 3D agar memudahkan proses perakitan dan pembongkaran material yang digunakan dan kompatibel terhadap tubuh pasien. Helmet tersebut juga bisa digunakan berkali-kali dengan mensterilkan komponen helmet CPAP. Kecuali, pada tabung dan perekat leher pasien yang harus diganti ketika akan digunakan kembali.

"Cara kerja dari Helmet CPAP berbasis IoT,  yaitu prototipe ini dilengkapi dengan komponen elektronik yang meliputi sensor oksigen Envitec OOM202, sensor oximeter max30102 modul bluetooth HC-05 serta arduino mega pro 2560 yang terintegrasi dengan sistem IoT," ungkap Ubaidillah.

Sensor oksigen tersebut akan mendeteksi kadar oksigen yang berada dalam helmet CPAP. Sementara sensor oximeter mendeteksi saturasi oksigen saat jari pasien didekatkan sinar infra merah pada sensor. Data hasil pembacaan sensor akan diproses oleh arduino. Lalu, akan dikirim ke smartphone menggunakan mode bluetooth dengan modul bluetooth HC-05. Data yang dikirim ke smartphone kemudian bisa dipantau oleh pengguna. 

Ubaidillah juga mengatakan bahwa Helmet CPAP bisa digunakan oleh siapa pun. Selain itu, karena berbasis IoT, helmet CPAP bisa diakses melalui smartphone, sehingga memudahkan dalam proses pengecekan. Proses pemantauan kadang oksigennya pun berlangsung secara realtime. 

Sementara itu, tingginya angka Covid-19 yang sempat membuat kacau lantaran banyak pasien Covid-19 yang sesak nafas hingga berebut alat bantu pernapasan menjadi latar belakang Ubaidillah dan timnya untuk memberikan kontribusi nyata. Mereka akhirnya menciptakan inovasi alat bantu pernapasan non invasif.

"Hal itu membuat kami memutar otak hingga timbullah inovasi alat bantu pernapasan non-invasif ini. Selain itu, kami juga melihat adanya peluang karena masih minimnya penggunaan alat bantu pernapasan non invasif berupa helmet CPAP. Padahal helmet CPAP ini terbukti mampu mengurangi aerosolisasi virus secara signifikan. Hal ini tentu akan berguna untuk pengurangan transmisi Covid-19," jelas Ubaidillah.

Adapun tim yang membuat Ubaidillah dalam pembuatan Helmet CPAP tersebut, yaitu Rizqi Husain Alfathan, Bioma Cakrawala, Muhammad Dzaky Musyaffa, Rani Dwilarasati dan Azzahra Fadhlila Aulia Nisa.  Mereka berharap dengan adanya Helmet CPAP berbasis IoT dapat membantu para tenaga kesehatan dan lembaga penyedia alat kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19.