News

Hebohkan AS, Pemalsu Anggur Mahal Rudy Kurniawan Dideportasi ke Indonesia

Terdakwa pemalsu minuman anggur atau wine asal Indonesia, Rudy Kurniawan, dilaporkan telah dideportasi oleh pemerintahan AS


Hebohkan AS, Pemalsu Anggur Mahal Rudy Kurniawan Dideportasi ke Indonesia
Gambar Rudy Kurniawan saat sedang mencicipi wine (The Drinks Business)

AKURAT.CO, Terdakwa pemalsu minuman anggur atau wine asal Indonesia, Rudy Kurniawan, dilaporkan telah dideportasi oleh pemerintahan Amerika Serikat (AS).

Diwartakan AP hingga Bloomberg, Kurniawan dideportasi pekan lalu dalam penerbangan komersial dari Bandara Internasional Dallas/Fort Worth ke Jakarta.

Kurniawan sebelumnya telah menjalani masa tahanan setidaknya hingga tujuh tahun terakhir ini. Setelah bebas pada November lalu, ia dialihkan ke tahanan imigrasi dan kemudian diputuskan untuk dideportasi.

Adapun alasan deportasi menurut Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE) adalah karena Kurniawan dianggap sebagai 'ancaman publik'.

"Dia adalah ancaman keamanan publik karena tuduhan kejahatan imigrasi serius untuk non warga AS," terang ICE dalam sebuah pernyataan.

Sepak terjang Kurniawan di Paman Sam sendiri dimulai pada tahun 1990-an silam. Saat itu, ia hijrah ke AS dengan menggunakan visa pelajar untuk kuliah di California State University, Northridge.

Lalu pada tahun 2003, Kurniawan tidak berhasil mencari suaka politik dan akhirnya diperintahkan untuk keluar dari AS secara sukarela. Namun, saat mendapati perintah itu, Kurniawan justru diam-diam menolak dan memilih tinggal di AS secara ilegal di Los Angeles.

Kurniawan, yang keluarganya kaya raya dengan menjalankan distributor bir di Indonesia, kemudian mulai mendalami bisnis wine di AS. Bisnis yang dimulai pada tahun 2004 itu pun dikabarkan berkembang dengan pesat.

Saking suksesnya, pada tahun 2006, Kurniawan berhasil melelang wine langka dengan nilai mencapai hingga USD 24,7 juta (Rp360,7 miliar). Ini adalah rekor bagi pelelang wine saat itu.

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu