Ekonomi

Heboh Skandal Kecurangan Peringkat EoDB, Pemerintah Harus Lakukan Ini!

Bhima menyarankan pemerintah agar dilakukan perombakan total terhadap indikator target keberhasilan investasi.


Heboh Skandal Kecurangan Peringkat EoDB, Pemerintah Harus Lakukan Ini!
Proyek pembangunan gedung bertingkat di salah satu area perkantoran Jakarta, Kamis (15/3). Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) DKI Jakarta akan menargetkan realisasi investasi mencapai Rp100 triliun. Sebelumnya, pada 2017 lalu, realisasi investasi di Kota Jakarta mampu menembus hingga Rp108,6 triliun atau melebihi target yang telah ditentukan, yaitu sebesar Rp55 triliun (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Laporan Easy of Doing Business (EoDB) tercoreng oleh skandal pengaturan peringkat.

Alhasil, Bank Dunia harus mempertanggungjawabkan kecurangan tersebut dengan menghentikan penerbitan laporan. Sehingga laporan EoDB tahun 2018 dan 2020 dianggap tidak kredibel.

Sayangnya, pemerintah Indonesia telah menjadikan EoDB menjadi acuan target dalam kebijakan investasi. Bahkan tertuang dalam Undang-Undang Ciptaker dan turunannya.

Tahun lalu, Presiden Jokowi meminta agar EODB Indonesia bisa berada di peringkat 40. Saat ini, Indonesia masih berada di peringkat ke-73.

Terkait hal ini, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyarankan pemerintah agar dilakukan perombakan total terhadap indikator target keberhasilan investasi. Misalnya, indikator reformasi regulasi terhadap serapan tenaga kerja.

“Berarti target keberhasilannya sekarang dengan skandal EoDB harus dirubah dengan indikator lain yang lebih berkualitas” katanya kepada Akurat.co, Selasa (21/9/2021).

Bhima juga menyarankan agar pemerintah kembali mengevaluasi capaian investasi paska terbentuknya UU Cipta Kerja.

“Kalau UU Cipta Kerja mau di evaluasi, cek saja investasi yang masuk paska uu cipta kerja disahkan bagaimana kualitas serapan kerja nya? Kalau rendah berarti gagal reformasi regulasinya,” lanjutnya.

Tak hanya itu, indikator perbaikan lainnya adalah ICOR atau incremental capital output ratio yang saat ini masih berada diatas level 6. ICOR juga menjadi perbandingan efisiensi investasi antar negara yang relevan.

“Kemudian bisa juga terus konsisten perbaiki logistic cost yang berada di level 23.5.

Indikator labor productivity atau produktivitas tenaga kerja tidak kalah penting untuk meningkatkan daya saing,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurutnya tanpa EoDB sebenarnya banyak indikator lain yang bisa dijadikan benchmark dalam menarik investasi khususnya investasi langsung.[]