Lifestyle

Hati-hati Toxic Communication, Bisa Bikin Hubunganmu Hancur!

Komunikasi adalah kunci sebuah hubungan


Hati-hati Toxic Communication, Bisa Bikin Hubunganmu Hancur!
Gaya komunikasi yang buruk atau toxic communication

AKURAT.CO, Kata 'Komunikasi', kamu pasti sudah sering mendengar bahwa itu adalah kunci sebuah hubungan yang sukses.

Bukan hanya untuk hubungan asmara, tapi juga hubungan dengan sahabat, teman, dan keluarga. Tapi bagaimana seharusnya kita berkomunikasi?.

Tentu saja, setiap orang pasti berbeda hubungannya. Tapi, dasar-dasar komunikasi adalah sama, yaitu mendengar dan saling memahami satu sama lain. 

Namun, penelitian telah menunjukkan ada beberapa jenis gaya komunikasi negatif yang bisa sangat merusak hubungan.

Bahkan gaya komunikasi seperti ini bisa menyebabkan hubungan berakhir, apabila tidak diubah dan diperbaiki.

Melansir dari Prime Women, berikut Akurat.co uraikan beberapa gaya komunikasi yang negatif atau sering juga disebut toxic communication dalam hubungan: 

Kritik

Kritik adalah ketika kamu berselisih dengan pasangan dan kamu mengatakan sesuatu yang menyerang karakternya.

Misalnya, "Kamu terlambat lagi, kamu sangat egois." Meski dengan tujuan positif, ungkapan kecil seperti 'kamu sangat egois' hanya akan menyakiti perasaan pasangan.

Alih-alih mengatakan, "Kamu sangat egois," cobalah sesuatu yang tidak kritis.

Sesuatu seperti, "Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kamu," atau "Saya merasa khawatir ketika kamu terlambat." 

Defensif

Sangat mudah untuk jatuh ke dalam siklus bersikap defensif ini ketika sedang berdebat. Ya, ini biasanya dimulai dengan masalah yang sederhana yang kemudian meningkat ke titik di dimana kamu dan pasangan hanya terluka dan marah.

Ingatlah, lingkaran setan ini tidak menyelesaikan apapun. Kamu dan pasangan hanya berputar-putar, saling menuduh dan bersikap defensif  hingga melupakan apa masalah sesungguhnya.

Cara terbaik untuk memutus siklus ini adalah mendengarkan kamu apa yang dikatakan pasangan kamu dan tidak mengubah topik pembicaraan. Dengarkan dan ambil tanggung jawab.

Berteriak

Dalam hubungan jangka panjang, pasti ada momen dimana kamu meninggikan suara pada pasangan.

Namun, masalah akan muncul saat kamu selalu berteriak saat bertengkar dengannya.

Berteriak tidak membantu dalam komunikasi. Satu-satunya hal yang didapat dari berteriak kepada pasangan adalah rasa sakit hati.

Kamu hanya akan memunculkan reaksi emosional yang lebih kuat dari pasangan, sehingga dia menjadi bersikap defensif kepadamu. Cobalah berkomunikasi dengan cara  diskusi yang tenang.

Silent treatment

Ini teknik yang sangat umum dalam hubungan. Hal ini umumnya digunakan sebagai hukuman dengan cara mendiamkan pasangan atau tidak memberikan respon apapun kepadanya.

Faktanya, silent treatment hanyalah cara egois untuk  mengakhiri atau 'menenangkan' argumen.

Alih-alih memperbaiki hubungan, silent treatment hanya akan menumbuhkan kebencian satu sama lain. 

Tidak meminta apa yang kamu butuhkan 

Pasangan kamu bukan pembaca pikiran. Ini adalah sesuatu yang perlu diingatkan dalam suatu hubungan.

Pasanganmu tidak dapat membaca pikiran, dan kamu harus memberi tahu dia apa yang kamu butuhkan dan inginkan.

Jika kamu tidak berbicara tentang kebutuhan dan keinginan kamu, maka kamu tidak boleh marah ketika dia tidak memberikannya kepada kamu.

Satu-satunya cara agar kalian bisa berada di jalur yang sama adalah dengan mengomunikasikan kebutuhan, keinginan, dan harapan kamu satu sama lain. Jangan takut untuk angkat bicara.

Menyalahkan

“Kau membuatku sangat marah.” "Itu bukan alasan." Ini semua adalah ungkapan yang menyalahkan.

Ditengah panasnya hubungan, sangat mudah untuk melampiaskan rasa frustrasi dan amarah kamu dengan pasangan.

Namun, masalah yang terjadi diantara kalian bukan kesalahan pasanganmu saja. Kamu pun perlu bertanggung jawab atas masalah ini, dan untuk perasaan kamu sendiri.

Alih-alih menyalahkan, cobalah membalikkan keadaan dan katakan, "Saya merasa marah ketika ini terjadi," atau "Saya merasa sakit hati karena ini." 

Ultimatum berlebihan

Saat masalah muncul dan insting pertama kamu adalah mengancam untuk pergi, maka kamu memiliki masalah yang lebih besar daripada argumen sederhana.

"Jika kamu tidak berhenti, kita putus," atau "Baik, aku pergi" adalah ancaman terbuka yang tidak menghasilkan apa-apa selain membuat pasangan terhina dan sakit hati.

Pergi atau berpisah (putus) tidak boleh menjadi ultimatum, kecuali masalah yang terjadi sudah melewati batasmu dan kamu memang sudah mantap untuk menindaklanjutinya jika pasangan tidak mendengarmu. 

Tidak mendengarkan

Ini pun kerap menjadi masalah dalam suatu hubungan. Ya, kamu mungkin mendengar apa yang dikatakan, tetapi tidak benar-benar mendengarkan maksud dan tujuannya. Saat  mendengar ucapan pasangan, otakmu langsung memikirkan tentang pertahanan atau tanggapan kamu terhadap hal yang diungkapkannya.

Jika seperti ini, artinya kamu tidak benar-benar mendengarkannya. Untuk menyelesaikan masalah, kamu dan pasangan harus saling mendengarkan dan berusaha memahami sudut pandang masing-masing. 

Komunikasi adalah salah satu bagian terpenting dari suatu hubungan. Jadi pastikan kamu dan pasangan bekerja sama  secara konsisten untuk memperbaikinya. demi membangun hubungan yang kuat, tahan lama, dan sukses. Ingat, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki cara kamu dan pasangan berkomunikasi.[]