Rahmah

Hati-Hati, Ternyata Ini Akibatnya Jika Memakan Makanan Haram Menurut Gus Idror

Islam merupakan agama yang memberikan perhatian tinggi terhadap pola dan gaya hidup umatnya.


Hati-Hati, Ternyata Ini Akibatnya Jika Memakan Makanan Haram Menurut Gus Idror
Gus Idror Maimoen (Tangkapan Layar YouTube NU Online)

AKURAT.CO  Islam merupakan agama yang memberikan perhatian tinggi terhadap pola dan gaya hidup umatnya. Salah satunya dengan memberikan sejumlah aturan serta larangan mengenai bahan makanan yang akan dikonsumsi.

Bukan tanpa sebab mengapa Islam mengkategorikan makanan haram. Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa makanan yang dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan manusia.

Lantas bagaimana pengaruh makanan haram terhadap tubuh manusia? 

baca juga:

Putra ulama Kharismatik Alm KH Maimoen Zubair, KH Muhammad Idror Maimoen atau yang akrab disapa Gus Idror menjelaskan bahwa makanan haram yang dikonsumsi tentu akan bertindak ke badan kita dengan begitu besarnya. 

"Oleh karena itu, para ulama-ulama beliau sangat meneliti makanan itu yang halal sehingga itu bisa di makan, atau yang syubhat, haram agar dijauhi," ujar Gus Idror dalam video yang diunggah dari YouTube NU Online pada 21 Januari 2022.

Lebih lanjut, Gus Idror mengatakan, kalau makanan yang dikonsumsi seseorang adalah baik, maka dirinya akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang mengkonsumsi makanan haram, maka akan mendapatkan keburukan, berupa malas dalam beribadah kepada Allah SWT.

"Hal itu sangat besar pengaruhnya kepada keberkahan manusia, dalam arti kalau makanannya halal, seseorang itu pasti akan melakukan sesuatu yang baik. Ada keberkahan. Kalau ada yang syubhat atau haram, dalam kitab-kitab diterangkan bahwasanya terkadang orang itu malas beribadah, malas untuk berbuat baik, malas untuk salat malam, malas untuk membaca Al-Qur'an itu karena ada makanan-makanan yang tidak layak untuk dikonsumsi," jelas Gus Idror.

Gus Idror lalu mengisahkan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ketika telah memakan makanan yang (masih subhat) artinya belum termasuk level haram. Meskipun sudah masuk ke dalam perut, sehingga tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan, tetapi yang dilakukan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, beliau memuntahkan supaya makanan tersebut keluar dari perut.

"Sehingga itu menunjukkan bahwa ulama-ulama atau orang-orang salaf seperti sahabat Nabi begitu mementingkan bagaimana jangan sampai makanan yang haram itu di makan. Bahkan untuk makanan yang sudah masuk pun kalau bisa dikeluarkan, dan itu tentu tidak mudah," tutur Gus Idror.

Begitu juga dengan Imam Syafi'i, kata Gus Idror, ketika berkunjung ke Imam Ahmad bin Hambal, beliau makan makanan yang banyak, sehingga sampai putrinya Imam Ahmad bin Hambal meragukan Imam Syafi'i: Kenapa beliau makan makanan ini begitu banyaknya, wong Imam Syafi'i adalah ulama terkenal, yang pada itu fenomenal. 

"Bahkan termasuk fenomenalnya, untuk bahasa sekarang ini beliau adalah ulama Fikih yang kelasnya Internasional," ungkap Gus Idror.

"Jadi pada waktu itu, dunia internasional Fikih juga seperti sekarang, tidak semua ulama Fikih sampai ke tingkat internasional. Hanya beberapa ulama-ulama saja yang menjadi tokoh International," tandasnya. []