Lifestyle

Bun, Bayi Jangan Terlalu Dibedong

Meski memiliki manfaat, terlalu lama membedong bayi juga tidak baik lantaran bisa menghambat gerakan bayi dan stimulasi indra peraba.


Bun, Bayi Jangan Terlalu Dibedong
Bayi dibedong

AKURAT.CO, Sejak dulu, masyarakat Indonesia memercayai jika bayi yang baru lahir harus dibungkus rapat-rapat dengan bedong dan pakaian yang berlapis-lapis. Hal ini dilakukan agar bayi selalu hangat dan mengurangi refleks moro (refleks kaget), suatu refleks alamiah yang dimiliki bayi pada bulan-bulan awal kelahirannya.

Refleks ini muncul lantaran adanya suara, perubahan cahaya dan sentuhan mendadak yang membuat bayi kaget dan bangun dari tidurnya.

Usia rata-rata untuk menghentikan bedong bayi adalah sekitar 3 atau 4 bulan.

Meski memiliki manfaat, terlalu lama membedong bayi juga tidak baik lantaran bisa menghambat gerakan bayi dan stimulasi indra peraba. Padahal, hal ini sangat penting sebagai sarana belajar dan perkembangan bayi.

Selain itu, ada pula keyakinan sejak dulu di masyarakat yang mengatakan bila bedong dapat mencegah kaki bengkok maupun kelainan bentuk lainnya. Tetapi hal itu hanya mistos belaka.

Penulis buku 'What To Expect The First Year', Heidi Murkoff dan Sharon Mazel, mengungkapkan bahwa hampir semua anak memiliki kaki bengkok (masing-masing lutut tidak bersinggungan ketika kaki dirapatkan) pada dua tahun pertama. Jadi, hal itu bukanlah hal yang harus diatasi dengan memakai bedong.

Dilansir Healthline, berikut Akurat.co merangkum risiko yang mungkin terjadi jika membedong bayi terlalu lama atau tidak benar:

Rentan biang keringat

Bayi yang dibedong akan cenderung berkeringat sehingga lebih rentan dengan ruam atau biang keringat.

Meningkatkan risiko displasia panggul

Secara medis, displasia panggul atau dislokasi sendi panggul kongenital dikenal dengan nama developmental dysplasia of the hip (DDH) atau hip dysplasia. Ini merupakan suatu kondisi dimana persendian pinggul anak tidak berkembang dengan normal. Displasia panggul terjadi karena kaki bayi diluruskan ketika dibedong, tulang rawan dan sendi bayi bisa rusak bila hal ini terjadi.

Pada panggul bayi yang normal, kepala tulang paha yang berbentuk bulat seperti bola, berada didalam rongga atau soket panggul yang berbentuk cekung. Sementara bayi yang mengalami displasia panggul, soket panggulnya akan berbentuk lebih datar atau dangkal sehingga posisi kepala tulang paha kurang solid. Pada tingkat paling parah, kepala tulang paha sama sekali tidak berada didalam soket.

Meningkatkan risiko SIDS

Selain durasinya, membedong bayi pun tidak boleh sembarangan. Cara membedong bayi yang tidak benar akan meningkatkan sudden infant death syndrome (SIDS) atau risiko sindrom kematian bayi mendadak. Jika dibedong terlalu kencang, bayi bisa tercekik dalam tidurnya. Sementara bila terlalu longgar, kain kemungkinan akan lepas bisa menyebabkan kain menutupi hidung hingga masuk ke mulut bayi.

Ingat Mom, memakaikan bedong pada bayi tidak salah, asal tidak berlebihan dan dilakukan dengan benar.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu