Tech

Hati-Hati, Modus Kejahatan Siber Ini Sering Muncul Saat Harbolnas

Dana dan Blibli ungkap apa saja modus kejahatan siber yang kerapkali muncul saat Harbolnas.


Hati-Hati, Modus Kejahatan Siber Ini Sering Muncul Saat Harbolnas
Ilustrasi penggunaan Fintech. (Dok. Dana)

AKURAT.CO Platform e-commerce dan teknologi fintech seringkali menjadi incaran para hacker. Terlebih pada saat momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Kejahatan siber seperti penipuan (phishing), take over akun, dan memonopoli promosi menggunakan bot kerapkali mengintai. 

Associate VP Information Security Blibli Ricky Setiadi, mengatakan pelaku yang melakukan modus phishing biasanya akan mengirimkan informasi melalui email atau WhatsApp dengan menyisipkan satu link situs yang menyerupai situs perusahaan resmi. Tujuannya adalah untuk mengelabui korban agar mau meng-klik link tersebut. 

Kemudian, kejahatan siber berikutnya adalah take over akun atau pengambilalihan akun. Ricky mengatakan, motif kejahatan ini berkaitan dengan motif ekonomi. Di mana pelaku mengeluarkan modal minim, tapi bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Dengan melakukan take over akun, pelanggan yang resmi tidak bisa mengikuti promo-promo yang disediakan. 

baca juga:

Masih menurut Ricky, kejahatan siber lainnya yang sering mengintai pada saat Harbolnas adalah bot herder. Bot herder ini dikendalikan oleh satu orang dengan menjalankan beberapa bot untuk melakukan kejahatan siber. 

"Bot ini jumlahnya banyak sekali. Ketika ada promo, bot kemudian memonopoli sehingga pengguna lainnya secara otomatis tidak bisa mendapatkan jatah kuotanya. Kemudian pengguna tersebut curiga, jangan-jangan promosinya palsu karena dia tidak dapat. Efeknya perusahaan yang menyediakan promo jadi terganggu dan pelanggan tidak percaya lagi dengan promonya," ujar Ricky saat diskusi Bulan Inklusi Keuangan 2021 secara virtual, Senin (1/11/2021).

VP of Information Security DANA Andri Purnomo juga mengatakan hal yang sama. Kejahatan siber yang paling banyak ditemukan adalah serangan phishing, take over akun dan bot herder. Bahkan menurutnya, bot herder ini dibuat oleh anak bangsa. 

"Mereka itu, kreatif sebenernya. Hanya saja malah digunakan untuk melakukan kejahatan siber," kata Andri. 

Andri menjelaskan bahwa pelaku siber ini memang kreatif. Dia mencotohkan, di DANA sendiri dilengkapi fitur perekam wajah untuk memudahkan penggunanya supaya tidak terlalu banyak menghapal pin. Untuk meretas fitur tersebut, orang sampai membuat muka dalam bentuk muka yang diprint.

"Saking kreatifnya, orang sampai membuat muka dalam bentuk muka print agar bisa mengakses fitur pengenalan wajah tersebut. Oleh karena itu, kami juga menggunakan teknik terkini agar bisa membedakan mana muka yang palsu dan mana yang asli," ujar Andri. 

Untuk mengantisipasi berbagai modus kejahatan tersebut, baik Blibli maupun Dana tentunya dilengkapi dengan sistem keamanan. Pada Blibli, mereka secara khusus membuat tim Computer Security Incident Response Team (CSIRT). Sementara untuk DANA sendiri membuat sistem deteksi menggunakan teknologi artificial intelligence (AI).