Lifestyle

Hati-hati, Kesepian Bisa Sebabkan Lansia Mengalami Malnutrisi

Bukan hanya kesehatan fisik, kondisi mental dan sosial juga sangat memengaruhi kualitas hidup lansia. Kesepian bisa membuat lansia mengalami malnutrisi


Hati-hati, Kesepian Bisa Sebabkan Lansia Mengalami Malnutrisi
Ilustrasi - Kesepian bisa sebabkan lansia mengalami malnutrisi (Pexels/cottonbro)

AKURAT.CO  Bertambah tua adalah bagian normal dari kehidupan. Namun, ini juga memengaruhi kualitas hidup para lanjut usia (lansia).

Kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh banyak hal. Bukan hanya kesehatan fisik, kondisi mental dan sosial juga sangat memengaruhi kualitas hidup lansia. 

Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD-KGer, M. Epid, FINASIM selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PB Pergemi) mengatakan bahwa kesepian dan depresi  dapat menyebabkan malnutrisi, yang berujung pada penurunan kualitas hidup. 

baca juga:

"Kesepian itu membuat orang malas makan, umumnya seperti itu. Tentu ada pengecualian, tapi pada umumnya memang rasa sepi, kesendirian membuat orang tua itu menjadi tidak ingin makan," kata Prof Siti kepada AKURAT.CO dalam konferensi pers Nestlé BOOST Optimum, Jumat (24/6/2022). 

Hal inilah yang menyebabkan Prof Siti mendukung lansia tinggal dalam keluarga tiga generasi. Sebab, para lansia bisa tetap berinteraksi dengan anak-anaknya, serta bermain dengan cucunya. Ini dapat menghadirkan perasaan bahagia untuk para lansia, serta menurunkan risiko lansia untuk merasa kesepian atau diabaikan.

Sayangnya, banyak masyarakat Indonesia tidak lagi menerapkan tinggal bersama keluarga tiga generasi. Padahal  berinteraksi dengan keluarga merupakan salah satu kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup lansia

"Saya menganjurkan three generation in one room. Ada nenek kakek, anaknya,  dan cucu. Kalau bisa dipertahankan itu sangat baik. Tapi memang tidak mudah karena di era sekarang, anak-anak ingin mandiri," ujarnya. 

"Jadi, penting sekali interaksi antar keluarga nenek dengan cucu, itu membuat mereka happy. Kalau happy makan menjadi lebih semangat," imbuh Prof Siti. 

Lebih lanjut, Prof Siti menegaskan bahwa kunci umur panjang bukanlah genetik, melainkan rasa bahagia. Itulah sebabnya keluarga harus selalu mendukung dan melibatkan lansia dalam berbagai hal. 

Prof Siti menyarankan untuk berusaha mengajak orang tua berdiskusi, memberikan pendapat. Memberikan mereka informasi-informasi baru, mengajak makan bersama, menyediakan makanan sehat juga bisa membuat para lansia bahagia. Ini pada akhirnya akan membuat para lansia terhindar dari malnutrisi, sehingga kualitas hidupnya tetap terjaga. 

"Jadi keterlibatan sosial itu, itu lebih penting dari keterlibatan gen. Jadi, orang panjang umur itu bukan semata-mata gen, tapi rasa bahagia itu penting dibangun," kata Prof Siti. 

"Ya dibangun dengan cara tadi, salah satunya dengan berinteraksi," pungkasnya.