Ekonomi

Hasil Survei Ungkap Sekitar 11,7 Persen Rumah Tangga Alami Kerawanan Pangan

Hasil Survei Ungkap Sekitar 11,7 Persen Rumah Tangga Alami Kerawanan Pangan
Penjual saat menunggu pembeli di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan, Senin (4/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Hadirnya pandemi Covid-19 yang tidak menentu, faktanya telah memberikan dampak besar bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat baik dari aspek sosial, ekonomi maupun pangan yang mempengaruhi rumah tangga Indonesia.

Melihat fenomena tersebut, SMERU Indonesia bersama UNDP, UNICEF, Prospera dan Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengeluarkan kajian survei lapangan mengenai dampak sosial dan ekonomi di masa pandemi Covid-19 terhadap rumah tangga Indonesia. Dimana hasil survei tersebut melibatkan lebih dari 12.216 keluarga di 34 provinsi dan 247 kabupaten selama periode Oktober dan Desember tahun 2020 lalu.

Deputi Direktur The SMERU Research Institute Athia Yumna mengatakan dalam hasil survei tersebut, SMERU mendapatkan pada tahun 2019 lalu sekitar 5,4% rumah tangga mengalami kerawanan pangan yang berada di status moderate.

baca juga:

"Namun di tahun 2020 lalu angka kerawanan pangan rumah tangga meningkat dua kali lipat menjadi 11,7 persen dengan status Severe (Parah). Kemudian rumah tangga dengan anak juga memiliki pravalensi kerawanan pangan yang tinggi sekitar 12,6%, dimana angka tersebut mengindikasikan dari 100 rumah tangga sekitar 12 rumah tangga dengan anak sedang menghadapi kerawanan pangan," ucapnya.

Data Smeru. AKURAT.CO/Andoy

Tak hanya itu saja, lanjut Athia, hadirnya pandemi Covid-19 juga memiliki dampak terhadap anak-anak. Berdasarkan survei disebut akan ada 2 juta lebih anak masuk jurang kemiskinan apabila Bantuan Sosial di hentikan tahun ini.

"Kemudian hasil survei juga menunjukkan bahwa selama Covid-19 ini berlangsung sebanyak 45% rumah tangga melaporkan adanya tantangan perilaku kepada anak-anak mereka. Kami juga menemukan ada peningkatan jumlah anak yang bekerja, sekitar 7% rumah tangga memiliki anak yang bekerja di mana 2,5%-nya bekerja sejak pandemi," tutur Athia Yumna.

Dan yang terakhir adalah, kebayakan dari rumah tangga di Indonesia tidak memiliki tabungan yang membuat mereka bertahan hidup melalui pinjaman uang dari kerabat hingga menggadaikan barang demi survive di tengah pandemi Covid-19.

"Setengah dari rumah tangga di Indonesia tidak memiliki tabungan. Jadi sebagai akibatnya untuk strategi bertahan, 1 dari 3 rumah tangga harus menjual atau menggadaikan barang, seperempatnya meminjam uang secara informal dari keluarga atau teman," papar Athia Yumna.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu