Lifestyle

Hasil Studi: Orang yang Banyak Uang Tak Punya Waktu Berlibur


Hasil Studi: Orang yang Banyak Uang Tak Punya Waktu Berlibur
Kerja Sambil Liburan (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Berlibur itu banyak manfaat dan keunggulannya. Untuk kesehatan; menghilangkan kepenatan kerja, hidup lebih bahagia serta juga meningkatkan keakraban bersama keluarga dan teman.

Tapi ternyata, ada sebagian orang menganggap berlibur itu tak penting.

AkuratTravel melansir dari Travelandleisure, Senin, (15/7), menurut laporan State of American Vataion dari US Travel Association 2018, sebanyak 52 persen pegawai dilaporkan mereka memilki hari libur yang tidak digunakan pada akhir tahun.

Hal serupa juga dikatakan penelitian terbaru dari LinkedIn. Disebutkan bahwa, 59 persen pegawai mengatakan mereka masih dihantui oleh email kantor atau panggilan telepon saat liburan. Sehingga, memaksa mereka untuk liburan sambil bekerja.

LinkedIn melaporkan bahwa mayoritas orang yang berpenghasilan di bawah $25.000 atau sekitar Rp349 juta per tahun tidak pernah bekerja saat liburan, sementara 93 persen orang yang berpenghasilan antara $180.000 atau sekitar Rp2,5 miliar dan $200.000 setara Rp2,7 miliar terlibat dengan email kantor atau panggilan telepon setiap hari.

“Sementara sebagian besar dari mereka yang menghasilkan $180.000-$200.000  per tahun terlibat dengan pekerjaan selama liburan setidaknya sekali sehari. Sementara di antara mereka yang menghasilkan $200.000, hampir setengah, (47 persen) secara aktif terlibat dengan pekerjaan lebih dari lima kali per hari saat berlibur,” kata pakar karier LinkedIn, Blair Decembrele.

Keterikatan pada pekerjaan dapat disimpulkan bahwa para pegawai tersebut terikat sekali, dan perusahaannya membutuhkannya. Atau mereka berpikir bahwa jika saya tidak bekerja, banyak hal akan menumpuk. 

Studi LinkedIn ini menemukan bahwa semakin banyak uang yang mereka hasilkan, semakin besar kemungkinan akan dihubungi saat liburan. Sebanyak 73 persen profesional yang bekerja melaporkan, dihubungi saat liburan. Sementara 93 persen karyawan yang menghasilkan $200.000 atau lebih mengatakan mereka dihubungi.

"Teknologi telah membuatnya lebih mudah diakses dimana pun kita berada, dan mempertahankan kebebasan saat berlibur menjadi semakin sulit," kata Decembrele.[]