Olahraga

Hasil ISG 2021 jadi Acuan PABSI Atur Strategi Menuju Olimpiade 2024

Tim angkat besi Indonesia total menyumbangkan 29 medali dengan rincian 12 medali emas, 7 medali perak dan 10 medali perunggu.

Hasil ISG 2021 jadi Acuan PABSI Atur Strategi Menuju Olimpiade 2024
Lifter putri Indonesia, Nurul Akmal saat tampil di ajang Islamic Solidarity Games Konya 2021 (NOC Indonesia)

AKURAT.CO - Tim Angkat Besi Indonesia mendapat hasil positif ketika turun di ajang Islamic Solidarity Games (ISG) Konya 2021 dengan sumbangan total 29 medali.

Walau turun dengan skuad pelapis, tim Angkat Besi mampu meraih 12 medali emas, 7 medali perak dan 10 medali perunggu.

Kepala Pelatih Tim Angkat Besi Indonesia, Dirja Wihardja mengaku bangga dengan hasil yang diraih lifter-lifternya di Konya. Apalagi, PABSI (Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia) banyak menurunkan wajah baru sebagai bagian try-out mereka.

baca juga:

Dirja menyampaikan, hasil ini juga akan menjadi acuan tim pelatih untuk menentukan strategi menuju Olimpiade Paris 2024, ketika turun di Weightlifting World Championship 2022 di Bogota, Kolombia, 5-15 Desember mendatang. 

"Saya pribadi sebagai pelatih puas dengan hasil di ISG. Tidak cuma dari segi medali, tetapi juga dari angkatan mereka yang meningkat," ujar Dirja.

"Mereka menunjukkan progres dari hasil SEA Games, sehingga ISG ini memang sarana sempurna untuk  mendapat pemanasan jelang meraih tiket Olimpiade Paris 2024."

Berbicara strategi, kata Dirja, PABSI akan menurunkan dua lifter di beberapa kelas saat kualifikasi Olimpiade nanti. Hal ini untuk memperlebar kesempatan mengamankan tiket Paris.

"Misalnya untuk kelas 61kg, kita punya lifter senior Eko (Yuli Irawan) dan ada Ricko Saputra yang mengamankan tiga medali emas di ISG. Secara angkatan Eko tentu lebih baik, tetapi Ricko juga menjunjukkan peningkatan di ISG," jelas Dirja.

"Begitu juga di kelas 73kg putra, kita punya dua lifter. Tak cuma Rahmat Erwin Abdulah, tetapi juga ada Rizki Juniansyah yang kemarin membuktikan bisa meraih tiga emas di Konya. Yang jelas hasil Konya akan menjadi bahan evaluasi kami."

Persembahan terakhir dari cabang angkat besi di ISG Konya adalah tiga medali perunggu di kelas 87kg putri lewat Nurul Akmal pada kategori total angkatan, snatch dan clean & jerk.

"Medali ini sangat berarti, terlebih rivalitas di ISG ini sangat ketat sekali karena bersaing dengan lifter-lifter dari Eropa, seperti Kazakhstan dan atlet tuan rumah. Senang bisa meraih medali di sini," kata lifter yang karib disapa Amel.

"Semoga setelah dari ISG, saya bisa tampil lebih baik lagi ke depannya. Apalagi Oktober akan ada Kejuaraan Asia dan Desember akan ada Kejuaraan Dunia yang akan menjadi kualifikasi pertama menuju Paris 2024."

Amel mendapat medali perunggu usai membuat total angkatan 255kg (snatch 113kg dan clean&jerk 142kg). Sedangkan medali Emas dan Perak berhasil diraih dua wakil Kazakhstan.

Aizada Muptilda meraih emas dengan total angkatan 266kg (snatch 116kg dan clean&jerk 150kg), diikuti medali perak dari kompatriotnya, Lyubov Kovalchuk dengan total angkatan 261kg (snatch 114kg dan clean&jerk 147kg).