News

Hasil Investigasi Laka Bus di Bantul Tewaskan 14 Orang, KNKT: Bukan Malfungsi Kendaraan

Hasil Investigasi Laka Bus di Bantul Tewaskan 14 Orang, KNKT: Bukan Malfungsi Kendaraan
Bus Gandos Abadi ringsek usai tabrak tebing, Imogiri, Bantul, Minggu (6/2/2022) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan beberapa faktor pemicu terjadinya kecelakaan bus Gandos Abadi bernopol AD 1507 EH di Bukit Bego, Karang Kulon, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY, Minggu (6/2/2022) silam.

KNKT telah melakukan serangkaian analisis dan investigasi pada sejumlah aspek dalam peristiwa yang menyebabkan 14 orang meninggal dunia itu.

"Jadi ini bukan malfunction kendaraan ya, tapi adalah kesalahan prosedur mengemudi," kata Plt Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT Ahmad Wildan di Rich Hotel, Sleman, Rabu (30/11/2022).

baca juga:

Dalam paparannya, senior investigator KNKT itu menerangkan bahwa jalan Bukit Bego Karang Kulon, Wukirsari, Imogiri adalah jalan provinsi, kolektor primer dan jalan kelas III. Memiliki karakteristik kecepatan paling rendah 40 km/jam jenjang terendah, lebar minimal 9 meter dengan akses terbatas.

Wildan melanjutkan, untuk desain penampang melintang jalannya 2 jalur, 2 lajur, 2 arah tanpa median dengan lebar jalan antara 6 sampai dengan 7 meter. Sementara geometrik jalanan turunan panjang kurang lebih 1,15 km, kelandaian rata-rata minus 13,5 persen. Lalu gradien jalan menurun mendekati lokasi kecelakaan minus 16 persen. Beberapa titik tikungan patah dan tikungan ganda mewarnai alinyemen horizontalnya.

Dalam kasus ini, hasil investigasi KNKT mendapati bahwa sopir bus memakai gigi tinggi saat melintasi jalananan menurun dengan gradien cukup curam dan panjang landai kritis cukup jauh. Sehingga, tercipta energi dorong besar pada bus. Semakin besar massa kendaraan dan semakin tinggi tempatnya maka kian besar pula gaya dorongnya.

Pemakaian gigi tinggi membuat sopir mengerem secara berulang kali. Alhasil, kendaraan mengalami tekor angin sehingga tenaga pneumatic yang dihasilkan sistem rem tak mampu memberikan daya dorong kampas menekan tromol. Jejak pengereman terputus-putus dan semakin tipis yang ditemukan sekitar jarak 200 meter dari lokasi kecelakaan membuktikan penurunan tenaga pneumatic tersebut.

Wildan menegaskan, mengerem di jalanan menurun tak membuat gaya dorong hilang. Bahkan masih tinggi saat rem dilepas.

KNKT pun menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan ini adalah penggunaan gigi tinggi pada jalan menurun panjang yang berakibat pengemudi melakukan pengereman berulang. Sehingga berdampak ke penurunan tekanan angin pada tabung angin sistem rem secara drastis.

"Faktor penyebab kecelakaan ini adalah pada saat menghadapi jalan sub-standar, pengemudi menggunakan gigi tinggi sehingga melakukan pengereman panjang berkali-kali dan berdampak pada penurunan angin sistem rem secara cepat," tegasnya.

KNKT juga menemukan fakta pengemudi memindahkan gigi ketika melewati jalan menurun. Wildan menekankan, ini seharusnya tak dilakukan oleh kendaraan bervolume besar.

Wildan berkata, menekan kopling saat jalan turunan hanya akan membuat putaran roda maksimal karena tingginya gravitasi. Ini membuat tak sebanding dengan perputaran mesin sehingga malah masuk ke gigi netral.

Kasus-kasus kecelakaan yang disebabkan oleh rem blong rata-rata dipicu oleh kecepatan kendaraan yang sangat tinggi, berdasarkan data investigasi KNKT.

Para pengemudi biasanya mencoba melakukan engine break dengan menurunkan gigi. Di satu sisi, dalam situasi kecepatan tinggi sistem transmisi malah bakal berpindah pada gigi netral.

Sepenuturan Wildan, tidak ada satupun teknologi otomotif yang memungkinkan sopir memindahkan gigi lebih rendah di jalan menurun karena mesin akan hancur.

"Saat akan menurunkan gigi pasti menginjak kopling sehingga daya dorongnya menjadi maksimal. Sistem transmisi pasti akan menolak, kalau pun masuk pasti giginya rompal," ucap Wildan.

Sementara fatalitas korban, hasil investigasi KNKT, dipicu oleh badan kendaraan yang mengalami keropos. Ketika terjadi benturan, bus mengalami deformasi hingga mencapai survival space, selain juga tak ditemukannya sabuk pengamanan di bagian bangku penumpang serta pemakaian kaca jenis non safety glass.

"Kaca yang tidak menggunakan safety glass, saat kecelakaan seperti ini akan jadi mesin pembunuh, seperti pisau (bagi penumpang di dalam kendaraan)," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 14 orang dilaporkan tewas usai bus Gandos Abadi bernopol AD 1507 EH menabrak tebing di Jalan Imogiri-Dlingo, wilayah Bukit Bego, Kedung Buweng, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY, Minggu (6/2/2022).

Sebanyak 4 orang dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Sementara sisanya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit maupun kala memperoleh penanganan medis.[]