Rahmah

Harus Tahu dan Jangan Sampai Salah, ini Batas dan Ketentuan Waktu Penyembelihan Kurban

Keluar dari ketentuan waktu yang sudah ditentukan maka tidak sah


Harus Tahu dan Jangan Sampai Salah, ini Batas dan Ketentuan Waktu Penyembelihan Kurban
Hewan Kurban (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO  Menyembelih hewan kurban memilki waktu tertentu yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim. Jangan sampai menyembelih hewan kurban keluar dari waktu yang sudah ditentukan agama. Karena bisa berdampak pada status sah atau tidaknya kurban.

Menyembelih hewan kurban sendiri hukumnya adalah sunah mu'akkadah. Imam An-Nawawi menjelaskannya sebagai berikut:

 التضحية سنة مؤكدة وشعار ظاهر. ينبغي لمن قدر أن يحافظ عليها 

Artinya: “Ibadah kurban itu sunah muakkad dan syiar yang nyata. Orang yang mampu seyogianya menjaga kesunahan ini."

Adapun terkait dengan waktu penyembelihan hewan kurban sebagaimana dikatakan oleh Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin, dalam Buysral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim juz II, halaman 588, sebagai berikut:

قوله (ووقت التضحية) يدخل (بعد طلوع الشمس يوم النحر و) بعد (مضي قدر ركعتين وخطبتين خفيفات) بأن يمضي من الطلوع أقل ما يجزىء من ذلك وإن لم يخرج وقت الكراهة ولم يذبح الإمام. فلو ذبح قبل ذلك لم يجز وكان شاة لحم لخبر الصحيحين أَوَّلُ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي ، ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ 

Artinya: “(Awal) waktu penyembelihan kurban masuk setelah matahari terbit pada hari nahar (hari raya Idhul Adha) dan setelah berlalu sekira pelaksanaan shalat dua rakaat dan dua khotbah ringan, yaitu sekadar durasi minimal pelaksanaan itu, sekalipun tidak keluar waktu makruh dan sekalipun imam (kepala negara) tidak menyembelih kurban. Kalau seseorang menyembelih kurban sebelum itu (waktunya), maka tidak boleh dan ia menjadi kambing pedaging sebagaimana hadits pada Bukhari dan Muslim, ‘Awal kali yang kami lakukan pada hari (nahar) kami ini adalah melaksanakan shalat. Kemudian kami pulang, lalu menyembelih hewan kurban. Siapa saja yang melakukannya maka ia telah mendapatkan sunnah kami. Tetapi siapa saja yang menyembelih (hewan) sebelum itu, maka ia menjadi (hewan pe)-daging yang dipersembahkan untuk keluarganya, tidak mendapatkan sedikitpun keutamaan kurban."

Jika seseorang berkurban sebelum atau setelah waktu yang ditentukan oleh agama, maka tidak bisa dinamakan kurban. Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, dalam Fathul Wahhab pada Hasyiyatul Bujairimi Alal Manhaj, juz IV, halaman 298, menjelaskan demikian:

فَلَوْ ذَبَحَ قَبْلَ ذَلِكَ أَوْ بَعْدَهُ لَمْ يَقَعْ أُضْحِيَّةً. . . (وَالْأَفْضَلُ تَأْخِيرُهَا إلَى مُضِيِّ ذَلِكَ مِنْ ارْتِفَاعِهَا) أَيْ شَمْسِ يَوْمِ النَّحْرِ (كَرُمْحٍ) خُرُوجًا مِنْ الْخِلَافِ 

Artinya: “Siapa saja yang menyembelih (hewan) sebelum atau (waktunya) itu, maka ia tidak menjadi ibadah kurban… Yang utama penyembelihan hewan kurban ditunda sampai (shalat dan khotbah singkat) itu berlalu sejak naiknya matahari pada hari nahar (Idul Adha 10 Dzulhijjah) sekira setinggi tombak untuk keluar dari ikhtilaf ulama.”

Wallahu A'lam.[]