Rahmah

Haru! Kisah Penyesalan Sahabat Nabi yang  Belum Bisa Memberi Kebaikan Secara Maksimal

Rasulullah mengantarkan jenazah sahabatnya sampai ke kuburan dan menemui istri dan keluarganya untuk menghibur mereka.


Haru! Kisah Penyesalan Sahabat Nabi yang  Belum Bisa Memberi Kebaikan Secara Maksimal
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Seperti biasanya, ketika salah satu sahabat nabi meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Bukan cuma itu, pada saat pulangnya Baginda Rasulullah SAW selalu menyempatkan untuk singgah ke rumah sahabat nabi untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan menerima kepergiannya.

Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Lalu istri almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?” . “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Sang istri yang setia itu kembali menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.

Ternyata kisah sahabat nabi yang meninggal tesebut begini. Suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang memiliki tujuan yang sama.

Orang buta itu berjalan dengan tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka sahabat nabi itu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Ketika hendak menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

"Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri yang masih mendengarkan Nabi. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca sangat dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

"Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri semakin penasaran untuk mendengar jawaban Nabi. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda,".

Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri.

Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7).[]