News

Haris Azhar: Pernyataan Arya Sinulingga Sakiti Hati Korban Jiwasraya & Asabri!

Ini dikarenakan tidak ada bukti bahwa kasus-kasus seperti Jiwasraya dan Asabri telah tuntas.


Haris Azhar: Pernyataan Arya Sinulingga Sakiti Hati Korban Jiwasraya & Asabri!
Direktur kantor Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Lokataru, Haris Azhar (Instagram/azharharis)

AKURAT.CO, Aktivis HAM yang juga praktisi hukum Haris Azhar menanggapi pernyataan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga yang menyatakan pihaknya telah menuntaskan kasus-kasus besar seperti mega korupsi Jiwasraya dan Asabri, dinilai tidak tepat.

Arya dinilai hanya melempar narasi yang bermain kata-kata tanpa fakta. Ini dikarenakan tidak ada bukti bahwa kasus-kasus seperti Jiwasraya dan Asabri telah tuntas.

“Mana dokumen terkonsolidasi yang memotret semua penyelesaian itu? Enggak ada. Apa buktinya? Itu masih ada penundaan bayar kepada nasabah, saya pikir itu banyak komplain dari pihak ketiga (korban),” kata Haris dalam pernyataan resmi yang diterima AKURAT.CO, Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Untuk diketahui, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebelumnya menyebutkan banyak kontrak-kontrak yang justru merugikan BUMN, termasuk Pertamina.

Menanggapi itu, Arya mengatakan, Ahok sebagai Komisaris Utama tidak boleh merasa seperti Direktur Utama. Lalu ia menyebut, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak mengikuti perkembangan BUMN.

Kemudian, Arya mengklaim pihaknya sudah menangani banyak kasus. Sebagai bukti, ia menyebut kasus Jiwasraya dan Asabri telah dilaporkan, sampai pelakunya dipenjara seumur hidup dan belum pernah terjadi dalam sejarah.

Namun, faktanya kasus Jiwasraya ini menimbulkan sengkarut yang tak berujung. Banyak pihak ketiga menjadi korban karena kehilangan haknya. Itu pun belum termasuk efek pada perusahaan-perusahaan lain yang terhubung dengan pelaku dalam kasus-kasus tersebut, yang sebenarnya tidak ada kaitannya secara hukum.

Terkait klaim kasus Jiwasraya dan Asabri itu, Haris mengatakan, Arya tidak mengerti filosofi penegakan hukum. Bahkan pernyataan tersebut dinilai melukai para korban dari pihak ketiga.

“Arya Sinulingga tidak mengerti filosofi penegakan hukum, jadi dia cuma cari efek kekejamannya saja,” ujar Haris.

“Saya mau bilang itu gaya-gaya politisi, bukan pejabat negara. Gaya politisi yang mengklaim keberhasilan, menurut saya ini tidak arif dan menyakiti para korban yang menabung di Jiwasraya dan Asabri. Pada kenyataannya pihak ketiga kesulitan menikmati tabungan mereka,” ucap Haris menambahkan.

Dari kasus Jiwasraya dan Asabri, kata Haris, baru sebatas ingin menegakkan hukum, namun tidak melihat efek panjangnya kepada para korban.

“Ada banyak pihak ketiga yang kehilangan haknya gara-gara pemerintah sekadar mau menegakkan hukum, tapi tidak ada perlindungan terhadap pihak ketiga,” kata Haris.

Lebih lanjut, terkait kritik yang dilontarkan Ahok, Haris melihatnya tidak terkait dengan status komisaris maupun direktur utama. Ia berpendapat, pernyataan Ahok sebenarnya sudah tepat.

Haris melihat, pemerintah dengan gayanya yang sulit menerima masukan atau fakta-fakta yang ada di lapangan, akan terus menimbulkan gelombang kritik.

“Gaya ini, cepat atau lambat akan memunculkan protes dan kritik dari banyak pihak, termasuk dari dalam lingkungan pemerintahan sendiri,” ucap Haris. []