News

Hari Santri, Ahmad Basarah Ungkap Kontrak Politik Jokowi dengan Ulama

Sejarah Hari Santri berawal dari kampanye Pilpres 2014 saat Jokowi berkunjung ke Pesantren Babussalam Malang, Jawa Timur


Hari Santri, Ahmad Basarah Ungkap Kontrak Politik Jokowi dengan Ulama
Ilustrasi: sejumlah santri melakukan pawai memperingati Hari Santri Nasional di Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah mengatakan hadirnya Hari Santri di era kepemimpinan Presiden Jokowi memiliki makna tersendiri bagi PDIP. Sebab dengan begitu, Jokowi telah menunaikan harapan para pendiri bangsa.

"Agar antara nasionalisme dan Islam, antara golongan nasionalis dan islam itu bersatu padu untuk menjaga mempertahankan republik Indonesia yang kita cintai ini,” kata Basarah dalam peringatan Hari Santri PDIP yang disiarkan melalui YouTube PDIP, Jumat (22/10/2021).

Basarah bercerita bahwa sejarah Hari Santri berawal dari kampanye Pilpres, tepatnya pada 27 Juni 2014, saat dirinya mengajak Jokowi ke Pesantren Babussalam Malang, Jawa Timur.

Di pesantren itu Jokowi bertemu dengan KH Thoriq bin Ziyad. Jokowi lalu ditawarkan kontrak politik yang memang sebelumnya telah dibicarakan PDIP dan Jokowi. Kontrak politik itu adalah menetapkan satu hari dalam kalender nasional sebagai Hari Santri.

“Pak Jokowi memenuhi permintaan KH Thoriq Bin Ziyad dan para alim ulama yang hadir di pesantren Babussalam. Di akhir pidato kampanyenya 27 Juni 2014 Pak Jokowi menyatakan insya Allah kalau saya terpilih saya akan menetapkan Hari Santri Nasional, lalu kemudian beliau menandatangani kontrak politik itu.

Dan alhamdulillah ketika beliau terpilih di 2015 tepatnya di 22 Oktober 2015 beliau kemudian secara resmi mengumumkan mengeluarkan Keppres No 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” beber Basarah.

Sementara itu, Sekretaris Bamusi PDIP Nasyirul Falah (Gus Falah) menuturkan, kedekatan PDIP dan kaum santri sangatlah dekat. Buktinya, sejumlah kader PDIP yang duduk di jabatan strategis berlatar balakang santri.

Pun, semasa hidup Bung Karno, Proklamator RI itu juga kerap bahu membahu dengan kaum santri untuk memerdekakan Indonesia.

“Jadi kalau kita bicara PDI Perjuangan dengan kaum santri sesungguhnya amat dekat sekali karena dalam kehidupan sehari-sehari masyarakat orang dari PDI Perjuangan ya pasti juga dengan kaum santri yang mana ketika kita melihat seberapa dekat, amat sangat dekat. Pada saat era Hadratussyaikh Hasyim Asyari, Bung Karno kemudian sampai saat sekarang, tidak ada sebuah perbedaan yang sangat jauh,” urai Gus Falah.

Sedangkan Zuhairi Misrawi (Gus Mis), cendekiawan muslim PDIP merefleksikan pandangannya bahwa santri adalah elemen penting untuk menjaga kepribadian bangsa.

Sebab, tak hanya ilmu akherat, santri juga mumpuni di bidang ilmu pengetahuan dunia yaitu sains dan teknologi. Hal ini komposisi lengkap untuk menjemput kebahagiaan.

“Kebahagiaan di dunia harus dengan sains dan teknologi harus dengan ilmu pengetahuan, kalau bahagia di akhirat harus menguasai ilmu akherat. Kalau ingin bahagia dunia dan akhretat harus dengan ilmu pengetahuan,” ujar Gus Mis.[]