Lifestyle

Hari Penglihatan Sedunia, PERDAMI Ingatkan Penyakit Degenerasi Makula Terkait Usia Di Indonesia

Dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/ WSD) 2021, PERDAMI mengingatkan betapa membahayakannya degenerasi makula terkait usia (AMD)


Hari Penglihatan Sedunia, PERDAMI Ingatkan Penyakit Degenerasi Makula Terkait Usia Di Indonesia
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat yakni M. Sidik, dalam Virtual Media Memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2021. (PR PERDAMI)

AKURAT.CO Dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/ WSD) 2021, yang diperingati setiap kamis di minggu kedua pada bulan Oktober, kali ini bertemakan Cintai Matamu. Oleh karena itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mengingatkan betapa pentingnya penglihatan dalam menjalani aktifitas sehari-hari, apalagi bagi orang-orang lanjut usia (lansia).

Namun, penyakit degenerasi makula terkait usia (Age-related macular degeneration / AMD) yang menyerang kelompok lansia, masih sering terjadi di Indonesia. Padahal kompilkasi dari penyakit ini bisa menyebabkan kebutaan, jika tidak ditangani dengan tepat.

Seperti diketahui, degenerasi makula terkait usia (AMD)  merupakan perubahan anatomi makula pada mata,  yang merupakan pusat fokus penglihatan pada retina. Perubahan anatomi ini bisa menyebabkan gangguan fungsi penglihatan mulai dari distorsi bentuk atau penglihatan buram, hingga buta pada penglihatan sentral. Akibatnya, pengidap AMD tidak dapat membaca, menulis, bahkan melihat wajah orang.

“Jika tidak ditangani secara tepat dan teratur, maka AMD akan berujung parah. Bagi penderita AMD tipe basah (wet AMD), dapat terjadi komplikasi hingga kebutaan. Prevalensi AMD tahap awal di seluruh dunia pada pasien antara 45 dan 85 tahun adalah 8% dan AMD tahap lanjut adalah 0,4%. Hampir 288 juta orang diperkirakan memiliki AMD pada tahun 2040 yakni 2,3%,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat yakni M. Sidik, dalam Virtual Media Memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2021, pada Kamis (14/10).

“Jumlah lansia di Indonesia diprediksi akan terus meningkat menjadi sekitar 20% pada tahun 2040, selanjutnya pada tahun 2050 jumlah lanjut usia diprediksi mencapai 74 juta atau sekitar 25% dari total penduduk. Dengan demikian, semakin besar pula risiko meningkatnya AMD di Indonesia,” sambungnya.

Menurut Sidik, gangguan penglihatan dan kebutaan akibat AMD sangat menurunkan kualitas hidup lansia, yang sebetulnya perlu tetap aktif dan berkontribusi dalam masyarakat. Gangguan AMD juga terjadi secara perlahan dan progresif, sehingga memerlukan pemantauan ketat, serta kontrol dokter dan pengobatan berkala.

“Walaupun situasi pandemi Covid-19 memang menyulitkan, kami menghimbau agar pasien yang merasakan gejala AMD atau pasien AMD khususnya, tetap memiliki semangat dan tidak takut untuk ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan sehingga tidak terjadi kondisi pengelihatan yang memburuk,” tuturnya.

“PERDAMI terus berusaha mendukung deteksi dan pengobatan berbagai penyakit mata, antara lain dengan menyelenggarakan berbagai forum update pengetahuan dan pelatihan secara berkelanjutan pada Dokter spesialis mata,” imbuhnya.