Ekonomi

Hari Ini Petani Sawit Mau Lakukan Aksi Ke Istana, Bahas Larangan Ekspor CPO

Aksi keprihatinan untuk menyikapi dampak Larangan Ekspor CPO yang berdampak langsung kepada anjloknya harga TBS kelapa sawit  di seluruh Indonesia,


Hari Ini Petani Sawit Mau Lakukan Aksi Ke Istana, Bahas Larangan Ekspor CPO
Pekerja menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di kawasan Candali, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) hari ini akan melakukan Aksi Keprihatinan Petani Kelapa Sawit Indonesia yang dilakukan serentak  di 22 Provinsi se-Indonesia  mulai pukul 09.00-12.00 WIB pada Selasa, (17/5/2022). 

Aksi keprihatinan untuk menyikapi dampak Larangan Ekspor Minyak Goreng dan Crude Palm Oil (CPO) yang berdampak langsung kepada anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di seluruh Indonesia, terkhusus sentra perkebunan kelapa sawit. 

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung mengatakan Jakarta akan menjadi sentra utama Aksi Keprihatinan Petani Sawit Indonesia yang diadakan di Kantor Kemenko Perekonomian RI dan Patung Kuda Monas, selanjutnya  ke Istana Presiden bertemu Pak Jokowi untuk menyampaikan usulan Apkasindo.

baca juga:

Kegiatan ini akan diikuti lebih 250 peserta yang melibatkan petani sawit anggota Apkasindo dari 22 Provinsi dan 146 Kabupaten/Kota serta anak petani sawit yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Sawit (Formasi) Indonesia. Selanjutnya, Gulat menjelaskan aksi keprihatinan ini juga dilakukan serentak (hari dan jam yang sama) di 146 Kabupaten Kota DPD Apkasindo dari 22 Provinsi Apkasindo.

“Petani sawit yang datang ke Jakarta mulai dari Aceh sampai Papua Barat akan berpakaian adat-budaya masing-masing, kami ingin menunjukkan sawit itu pemersatu bangsa dan anugerah Tuhan kepada Indonesia”, ujar  Gulat ME Manurung, dalam keterangan tertulis, Senin (16/5/2022). 

Sejak kemarin Gulat mengatakan, sebagian peserta aksi sudah tiba di Jakarta seperti petani sawit dari Papua Barat, Kalimantan Utara, Aceh, Sulawesi Barat dan Papua. 

Selanjutnya, Gulat mengatakan bahwa saat ini sudah kritis, dari 1.118 pabrik sawit se-Indonesia paling tidak 25% telah stop pembelian TBS sawit petani. Ini terjadi setelah harga TBS petani sudah anjlok 40%-70% dari harga penetapan Disbun dan ini terjadi secara merata sejak larangan ekspor, tanggal 22 April lalu.  Dampaknya luar biasa, telah mengganggu sendi-sendi ekonomi petani sawit dan rantai ekonomi nasional. 

"Kami berpacu dengan waktu karena sudah rugi 11,7 Triliun rupiah sampai akhir April lalu, termasuk hilangnya potensi pendapatan negara melalui Bea Keluar, terkhusus Pungutan Ekspor dimana sejak Februari sampai April sudah hilang Rp.3,5 Triliun per bulannya," urai Gulat.

Semua permasalahan ini terjadi sejak adanya gangguan pasokan Minyak Goreng Sawit (MGS) domestic dan harga MGS curah yang tergolong mahal, padahal sudah disubsidi. Sehingga Presiden Jokowi mengambil kebijakan Larangan ekspor CPO dan Bahan Baku MGS.