Lifestyle

Hari Hipertensi Sedunia Ingatkan Pentingnya Mengukur dan Kendalikan Tekanan Darah

Hari Hipertensi Sedunia kembali menekankan pentingnya mengukur dan mengendalikan tekanan darah untuk mencapai hidup yang berkualitas.


Hari Hipertensi Sedunia Ingatkan Pentingnya Mengukur dan Kendalikan Tekanan Darah
Ilustrasi orang cek tekanan darah (Instagram @rosmihar88)

AKURAT.CO  World Hypertension Day (WHD) atau Hari Hipertensi Sedunia kembali diperingati di Indonesia dan di  seluruh dunia pada hari ini (17/5/2022). 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, WHD kembali mengusung tema “Measure your blood pressure, control it, live longer,  yang menekankan pentingnya mengukur dan mengendalikan tekanan darah untuk mencapai hidup yang berkualitas.

Seperti diketahui, jumlah kasus hipertensi di dunia sampai saat ini tetap tinggi atau belum mengalami perubahan selama 3 dekade terakhir.

baca juga:

Oleh karena itu, kesadaran terhadap hipertensi tetap menjadi isu global yang penting dan memerlukan keterlibatan semua pihak.

Prevalensi hipertensi di Indonesia,  berdasarkan survei tahun 2018, yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007.  

Penyebabnya adalah tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi, seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.

Dalam Virtual Press Conference, dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) mengatakan bahwa tekanan darah harus dikendalikan, baik bagi pasien hipertensi maupun individu yang tidak menderita hipertensi. 

Menurut Erwinanto, bukti penelitian yang ada secara konsisten memperlihatkan bahwa penurunan tekanan darah bagi pasien hipertensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal, yang berhubungan dengan tingkat kematian tinggi juga menghabiskan biaya terbesar dari penyakit katastropik di Indonesia.

“Sedangkan bagi individu yang bukan penyandang hipertensi, tekanan darah juga perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Setiap peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mm Hg, dimulai dari tekanan darah 115/75 mm Hg, berhubungan dengan peningkatan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke sebesar 2 kali. Peningkatan tekanan darah juga meningkatkan kejadian penyakit ginjal secara bermakna. Di tingkat masyarakat, pencegahan hipertensi diharapkan dapat menurunkan prevalensi hipertensi,” lanjut Erwinanto dalam Virtual Press Conference, pada Selasa (17/5/2022).

Bahkan menurut, Survey May Measurement Month yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia pada tahun 2017, yang mengikut sertakan partisipan di daerah perkotaan berusia muda dengan umur rerata 43 tahun, menunjukkan hanya 52,5% penyandang hipertensi yang minum obat penurun tekanan darah.

Dalam pemaparannya, dia menghimbau masyarakat untuk mengukur tekanan darah secara akurat, untuk mengetahui menderita hipertensi atau tidak. 

“Jika menderita hipertensi, kendalikan tekanan ndarah melalui usaha menurunkannya dengan cara terapi perubahan gaya hidup dengan atau tanp aterapi obat," katanya.

Menurut Erwinanto, Jika tidak menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha pencegahan, agar tekanan darah tidak naik melalui terapi perubahan gaya hidup.

Pengendalian tekanan darah yang dilakukan akan berdampak hidup lebih lama karena peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), stroke dan ginjal.