Ekonomi

Harga Telur Jatuh, Ada Dugaan Pemodal Besar yang Memainkan Produksi

Jatuhnya harga telur di pasaran akibat adanya over produksi


Harga Telur Jatuh, Ada Dugaan Pemodal Besar yang Memainkan Produksi
Hasil panen telur ayam ternak di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Jumat (3/8/2018). Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatatkan inflasi Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Angka tersebut turun dari pada inflasi Juni 2018 lalu yang sebesar 0,59 persen. Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh peningkatan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan telur ayam ras yang menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi Juli 2018, disusul oleh daging ayam ras dan bensin. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO  Pemerhati dan Praktisi Pertanian, Pieter Tangka menilai jatuhnya harga telur di pasaran akibat adanya over produksi, selain juga Stok berlimpah ini terjadi akibat jumlah ayam petelur yang juga meningkat.

"Jangan- jangan, ayam petelur bertambah banyak karena ada peternak baru yang pelihara ayam dengan jumlah yang banyak, jangan-jangan, peternak baru ini memiliki modal yang kuat, punya silo dan dryer, bahkan produksi pakan dan DOC sendiri,"ungkap Pieter lewat ketergannya, Jumat (15/10/2021).

Tidak hanya itu Pieter juga menduga munculnya peternak baru saat ini memborong hasil produksi jagung, dikarenakan para peternak mempunyai gudang dan silo dryer yang cukup. Akibatnya harga jagung naik dan tidak terjangkau oleh peternak mandiri.

"Jangan- jangan, peternak lokal mandiri, kurang modal, tak punya gudang, dan tak punya stock jagung, jangan- jangan, ini bagian dari skenario untuk mematikan peternak lokal mandiri," sambungnya.

Ia juga mengatakan jebloknya harga telur tidak dapat dihindari karena daya beli masyarakat juga turun akibat PPKM di berbagai daerah. Apalagi, industri hotel, restoran, dan kafe alias horeka yang cukup banyak menyerap telur ikut menahan pesanannya. Hal ini membuat pasokan telur berlebih di tengah masyarakat.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu ratusan peternak ayam dan itik, beserta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melakukan aksi unjuk raksa akibat anjloknya harga telur.

Harga telur  di  peternak sempat berada pada kisaran Rp15.800/kg. Padahal menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 mengenai Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, harga acuan pembelian telur ayam di tingkat peternak ditetapkan Rp19.000-Rp21.000/kg.

Melansir dari Antara, Salah seorang peternak asal Blitar Jawa Timur, Rofi Yasifun, saat dikonfirmasi, mengatakan, ratusan massa yang dibagi dalam beberapa kelompok siap menggelar aksi damai di Kementerian Perdagangan, di MPR/DPR/DPD RI, Kementerian Sosial, Kementerian Pertanian, Kantor Charoen Pokphand Indonesia, dan PT Japfa Comfeed Indonesia.

"Hari ini ada sekitar 40 bus dan beberapa mobil pribadi yang datang ke Jakarta. Jumlah massa bisa mencapai 1.500 orang dan kami akan tersebar di beberapa lokasi," kata Rofi seperti dilansir Antara, Senin (11/10/2021).