Ekonomi

Harga Minyak Mentah Tergelincir, Walau AS Geber Produksi Minyak dan Gas

minyak mentah berjangka Brent naik 20 sen atau 0,2 persen menjadi $ 113,32 per barel pada 0105 GMT

Harga Minyak Mentah Tergelincir, Walau AS Geber Produksi Minyak dan Gas
Ilustrasi - Harga Minyak Dunia Naik dan Turun 2 (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO, Harga minyak goyah pada Senin pagi karena investor kembali fokus pada pasokan yang ketat, meskipun sentimen masih rapuh setelah penurunan 6 persen pada sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar.

Melansir dari Reuters, Senin (20/6/22), minyak mentah berjangka Brent naik 20 sen atau 0,2 persen menjadi $ 113,32 per barel pada 0105 GMT, setelah naik sebanyak 1 persen sebelumnya. Harga bulan depan jatuh 7,3 persen minggu lalu, penurunan mingguan pertama dalam lima.

Minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di $ 109,55 per barel, turun 1 sen setelah naik lebih dari $ 1 dalam transaksi pagi hari. Harga bulan depan turun 9,2 persen minggu lalu, penurunan pertama dalam delapan minggu.

baca juga:

"Untuk saat ini, gangguan pada pasokan minyak mengurangi kekhawatiran akan melemahnya permintaan," ucap analis ANZ dalam sebuah catatan.

"Gambaran fundamental tetap menjadi salah satu keketatan di tengah perlambatan yang sedang berlangsung dalam produksi Rusia,” lanjutnya.

Minyak Rusia tetap di luar jangkauan sebagian besar negara karena sanksi Barat. Dampaknya sebagian telah dimitigasi oleh pelepasan cadangan minyak strategis yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dan peningkatan produksi dari OPEC+ meskipun hal itu menipiskan penyangga dunia terhadap gangguan pasokan lebih lanjut.

"Jika Washington tetap pada kecepatannya saat ini, cadangan strategis AS akan mencapai level terendah 40 tahun di 358 juta barel pada Oktober," tutur ANZ.

Namun demikian, produksi minyak dan gas AS meningkat. Jumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi masa depan naik tujuh menjadi 740 dalam seminggu hingga 17 Juni, atau tertinggi sejak Maret 2020. Perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan dalam laporannya yang diikuti dengan cermat pada hari Jumat.

Di Libya, produksi minyak tetap bergejolak menyusul blokade oleh kelompok-kelompok di timur negara itu.