Ekonomi

Harga Minyak Mentah Dunia Naik (Lagi) ke USD92, Siapa Dalangnya?

Harga Minyak Mentah Dunia Naik (Lagi) ke USD92, Siapa Dalangnya?
Saudi Aramco adalah perusahaan minyak terbesar sekaligus paling profit di dunia (The New York Times)

AKURAT.CO Harga minyak dunia naik terus menerus hampir USD3 per barel pada hari Selasa kemarin. Kenaikan ini tak lain akibat negara-negara pengekspor minyak mentah terutama dari OPEC+ menurunkan kapasitas produksi minyaknya.

Dilansir dari Reuters, OPEC+ diperkirakan akan melakukan pemangkasan pasokan dan produksi mereka pada saat mereka melakukan pertemuan pada hari ini, Rabu (5/10/2022). Penurunan produksi ini juga akan menekan pasar yang menurut pada analis perusahaan minyak sudah ketat karena permintaan yang sehat, dibarengi dengan investasi yang kurang dan persoalan pasokan

Diketahui, harga minyak berjangka Brent mengalami kenaikan sebanyak USD2,94 atau sebesar 3,3 persen ke level USD91,80 per barelnya. Sedangkan untuk minyak dari West Texas Intermediate (WTI) naik sebanyak USD2,89 atau 3,5 persen ke level USD86,52 per barelnya.

baca juga:

Berdasarkan salah seorang narasumber yang dihubungi oleh Reuters mengatakan, OPEC+ yang terdapat Rusia didalamnya mengatakan bahwa pada dasarnya, OPEC+ sedang membahas pengurangan produksi minyak lebih dari 1 juta barel per hari. 

Dengan pembatasan tersebut menjadikan makin panjangnya kenaikan harga minyak setelah Bloomberg sebelumnya mewartakan bila OPEC+ sedang melakukan pertimbangan terhadap pemangkasan produksi sekitar 2 juta barel per harinya.

Sebuah catatan dari Ficth Solution pun memperkirakan pemotongan substansial ini tidak hanya akan membantu untuk memperketat fundamental fisik, tapi juga mengirimkan sinyal-sinyal penting ke pasar.

Sementara, Menteri perminyakan Kuwait mengatakan OPEC+ akan membuat keputusan yang tepat untuk menjamin pasokan energi dan untuk melayani kepentingan produsen dan konsumen.

Sebelumnya, negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait juga sedang mempertimbangkan untuk menaikan Oil Selling Price (OSP) kepada negara-negara Asia, terutama kepada China.

China diketahui sudah meningkatkan pembelian minyaknya karena telah mengeluarkan putaran baru kuota ekspor untuk produk minyak olahan dengan total mencapai 15 juta ton, dimana jumlah minyak tersebut bisa meningkatkan pembelian minyak mentah untuk meningkatkan produksi bahan bakar mereka.

Sumber: Reuters