Ekonomi

Harga Migor Tetap Tinggi, Said Didu: Petani Merugi Hingga Rp2 Triliun Per Hari

Bahkan ia memperkirakan kerugian petani sawit Rp2 triliun per hari. Selain itu ia menyebut pendapatan negara juga dirugikan Rp10 triliun.


Harga Migor Tetap Tinggi, Said Didu: Petani Merugi Hingga Rp2 Triliun Per Hari
Pekerja menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di kawasan Candali, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu mengatakan larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya telah merugikan petani sawit. 

Ia memperkirakan kerugian petani sawit sekitar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun per harinya. Namun demikain harga minyak goreng tetap tinggi.

Selain itu telah merugikan pendapatan negara hingga Rp10 triliun hingga menghilangkan perolehan devisa sekitar US$1,5 milyar.

baca juga:

"Bpk Presiden yth, kbjkn Bpk melarang ekspor CPO dan migor :1) rugikan petani sawit sktr Rp 1 - 2 trilyun per hari 2) menghilangkan pendapatan negara sktr Rp 10 trilyun per bulan 3) menghilangkan peroleh devisa sktr USD 1,5 milyar per bulanSementara harga migor tetap tinggi," kata Said Didu lewat akun twitternya @msaid_didu, yang dikutip Akurat.co,  Selasa (17/5/2022).

Seperti diketahui, Asosiasi Petani Kelapa Sawit yang tergabung dalam Aspekpir Indonesia menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Isi surat tersebut meminta pemerintah segera mencabut larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya yang sudah berlaku sejak 28 April 2022.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono turut mengatakan bahwa sejak hari raya Idul Fitri kemarin, tidak ada gejolak dan kelangkaan minyak goreng yang tajam yang mana pelarangan ekspor itu hanya mempengaruhi pasokan dalam negeri.

"Karena tujuan sudah tercapai, saatnya pemerintah mencabut larangan ekspor CPO serta produk turunannya," jelas Setiyono dalam keterangan tertulis, Minggu (15/5/2022).

Setiyono melanjutkan, kebijakan itu sudah menghancurkan ekonomi petani sebagai komponen paling hulu dari rantai pasokan minyak kelapa sawit. Semenjak larangan ekspor ini dilakukan, petani yang menjadi yang terkena dampak ini, terlebih harga per tandan buah segar (TBS) menjadi merosot.

"Kebijakan ini ibaratnya siapa yang berulah tetapi siapa yang harus menanggung. Kami tidak tahu siapa yang makan nangka tetapi sekarang tangan kami penuh getahnya," tuturnya mengibaratkan.