Ekonomi

Harga Mie Instan Diramal Naik 3 Kali Lipat, Gimana Nasib Saham Produsen Indomie?

pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku mie instan tersendat masuk ke Indonesia

Harga Mie Instan Diramal Naik 3 Kali Lipat, Gimana Nasib Saham Produsen Indomie?
Ilustrasi Mie Instant Indomie (Instagram/indomie)

AKURAT.CO, Imbas dari perang antara Rusia dengan Ukraina disinyalir membuat harga mie instan bisa naik hingga tiga kali lipat, lantaran pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku mie instan tersendat masuk ke Indonesia. Seiring dengan kabar tersebut, saham emiten produk konsumer mie instan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pun turut terpengaruh.

Mengutip data RTI, Rabu (10/8/2022), saham ICBP hingga jelang penutupan sesi II tercatat berada pada kisaran level Rp8.725 per saham. Adapun sebelumnya saham ICBP memiliki volume transaksi Rp9,13 juta dengan frekuensi 5.134 kali transaksi.

Sedangkan, saham INDF mulai bergerak menghijau jelang penutupan perdagangan sesi II sore ini dengan menanjak 1,15 persen atau 75 poin ke level Rp6.625 per saham. Volume transaksi saham INDF menyentuh Rp11,88 juta serta frekuensi 3.926 kali transaksi.

baca juga:

Seperti diketahui, sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa dampak perang Rusia - Ukraina menyebabkan rantai pasok bahan makanan bisa tersendat masuk ke Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia bergantung pada komoditas tersebut. Komoditas itu di ekspor oleh negara yang saat ini sedang berkonflik.

Hal ini juga menjadikan mie instan bisa naik hingga tiga kali lipat, karena pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku (salah satunya) pembuatan mie instan mengalami masalah. Bahkan dikatakan Mentan, saat ini terdapat kurang lebih 180 juta ton gandum di Ukraina tidak bisa keluar negara.

"Jadi hati-hati yang makan mie banyak dari gandum, besok harganya 3 kali lipat itu, maafkan saya, saya bicara ekstrem saja ini," ujar Syahrul dalam webinar bersama Ditjen Tanaman Pangan pada Senin (8/8/2022).

Syahrul menjelaskan ketersediaan gandum dunia sebetulnya ada, namun adanya konflik global yang membuat masalah pada rantai pasok bakal membuat harga gandum menjadi mahal, dan Indonesia juga merupakan pengimpor gandum.

Menurutnya hal ini memang bukanlah tantangan yang yang kecil, sehingga menjadikan pemerintah perlu menguatkan produktivitas pertanian sehingga dampak yang bakal dialami dari adanya konflik global tidak terlalu parah.[]