Ekonomi

Harga Cabai Rawit Masih Pedas Manis, Peneliti Sarankan Solusi Ini

Menjaga kestabilan harga cabai rawit menjadikan penggunaan lemari pendingin atau cold storage solusi mengatasi permasalahan ini.


Harga Cabai Rawit Masih Pedas Manis, Peneliti Sarankan Solusi Ini
Pedagang memilah cabai rawit merah yang dijajakannya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (15/1/2020). Menurut pedagang, harga cabai di wilayah Jakarta mengalami kenaikan secara variatif seperti cabai keriting dari Rp55 ribu menjadi Rp70 ribu per kg dan cabai rawit merah dari Rp50 ribu menjadi Rp80 ribu per kg. Hal tersebut terjadi karena minimmya pasokan dari petani akibat tingginya curah hujan. (AKURAT.CO/Dharma WIjayanto)

AKURAT.CO Cabai rawit merupakan salah satu dari 11 komoditas pangan strategis di Indonesia. Namun ketersediaannya yang fluktuatif serta tidak realistisnya impor cabai segar untuk menjaga kestabilan harga menjadikan penggunaan lemari pendingin atau cold storage solusi mengatasi permasalahan ini.

Harga cabai rawit berfluktuasi mengikuti masa panen, biasanya enam kali dalam setahun. Menurut peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arumdriya Murwani, harga tinggi umumnya terjadi pada jeda antara masa tanam yaitu di bulan November-Februari. 

"Namun, harga cabai rawit juga sering anjlok di kala terjadi surplus pasokan pada masa panen raya," katanya lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Arum memaparkan, diperlukan pendekatan yang menyeluruh atas tata kelola pangan di Indonesia, salah satunya dengan mempertimbangkan preferensi masyarakat Indonesia pada cabai rawit segar. 

Selain sifat cabai yang rentan mengalami pembusukan, kerangka impor pangan di Indonesia yang berbelit-belit juga menambah risiko keluarnya kebijakan impor yang tidak mampu menjawab kebutuhan pasar yang dinamis.

Salah satu solusi potensial yang dapat dipertimbangkan adalah pengembangan sistem penyimpanan dan rantai dingin di Indonesia. 

Dengan sistem penyimpanan yang modern dan infrastruktur rantai dingin yang memadai, masa simpan cabai rawit dapat diperpanjang. Dengan demikian, dapat membantu menstabilkan harga di pasaran.

Sayangnya, kapasitas sistem penyimpanan dan lemari pendingin di Indonesia belum memadai untuk menjawab kebutuhan pasar sehingga mengakibatkan tingginya tingkat limbah pangan, sekaligus berkontribusi kepada fluktuasi harga pangan di masyarakat. 

Laporan ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia) memperlihatkan potensi pemanfaatan ruang penyimpanan dingin di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 17,6 juta ton per tahun namun saat ini kapasitas yang ada hanya mampu menampung  370 ribu ton per tahun. Kurangnya kapasitas ruang pendingin di Indonesia turut meningkatkan risiko membusuknya komoditas pangan dalam proses distribusi dari petani ke konsumen. 

Rantai pasok cabai dari produsen dan konsumen yang masih terlalu panjang meningkatkan risiko pembusukan cabai rawit, menurut penelitian Anwarudin, et al., (2015). The Economist Intelligence Unit (EIU) mengatakan limbah pangan. akibat infrastruktur dan fasilitas yang belum memadai mencapai 300 kilogram per orang per tahun.

Selain tingkat limbah yang tinggi, lanjut Arum, kurangnya fasilitas penunjang dalam rantai distribusi cabai juga berkontribusi dalam membuat harga menjadi tidak stabil. Stok cabai rawit  yang melimpah di masa panen raya harus langsung dijual, karena kapasitas penyimpanan saat ini hanya mampu mempertahankan kesegaran cabai selama 30 hari. 

Akibatnya, surplus stok di pasar menyebabkan harga anjlok dan merugikan petani cabai. Sebaliknya, ketika musim tanam sudah lewat dan produksi tidak stabil, tidak ada stok yang dapat digunakan untuk menstabilkan harga cabai di pasaran. Akibatnya, harga cabai melonjak naik sehingga merugikan konsumen.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk berinvestasi pada lemari pendingin yang modern untuk memperpanjang masa simpan stok cabai rawit,” jelas Arum.

Harga cabai yang fluktuatif menunjukkan faktor yang sering dilupakan dalam wacana ketahanan pangan, yaitu sistem penyimpanan pangan yang baik. Pemerintah, swasta dan masyarakat dapat bersinergi dalam pengembangkan teknologi ruang penyimpanan ini. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu