Rahmah

Hanzhalah bin Rahib, Pengantin Baru yang Jenazahnya Dimandikan Malaikat

Hanzhalah bin Rahib mendapat gelaran "Ghasilul malaikat" (Orang yang dimandikan malaikat)


Hanzhalah bin Rahib, Pengantin Baru yang Jenazahnya Dimandikan Malaikat
Ilustrasi Sahabat Nabi (SuaraIslam)

AKURAT.CO  Salah satu sahabat dari suku Aus adalah Hanzhalah bin Rahib RA. Pada masa itu, agama Islam didakwakan di Madinah oleh Mush'ab bin Umari yang merupakan utusan Rasulullah SAW. Hingga kemudian Hanzhalah memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Akan tetapi, keputusannya itu mendapat tentangan dari sang ayah. Rupanya sang ayah tidak setuju dengan kehadiran Islam di Madinah. Berbeda dengan sikap mayoritas penduduk Madinah, baik dari suku Khazraj ataupun Aus, termasuk pemuka-pemukanya yang menyetujui kehadiran agama Islam.

Diketahui, ayah Hanzhalah yaitu Abd Amr bin Shaify adalah salah seorang pemuka dari suku Aus. Di kalangan suku Aus, ia lebih dikenal dengan nama Abu Amir dan kebanyakan orang memanggilnya dengan nama Rahib.

Abu Amir secara terang-terangan  memusuhi Rasulullah SAW saat sedang hijrah ke Madinah. Kemenangan kaum muslimin di Perang Badar tidak membuat Abu Amir mejadi luluh hatinya untuk memeluk Islam.  Lebih dari itu, ia justru meninggalkan Madinah dan pindah ke Makkah.

Begitu juga setelah pindah ke Makkah, ia terus menghasut dan memberi semangat kaum Quraisy untuk segera membalas kekalahan dengan menyerang Madinah, hingga terjadi Perang Uhud. Kala itu, Abu Amir bersama dengan pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid.

Di dalam Perang Uhud, Hanzhalah mengetahui jika ayahnya berada di pihak musuh, oleh karena itu ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bentrok langsung dengan ayahnya. Bagaimanapun juga masih tersisa penghargaan dan penghormatan terhadap ayahnya sehingga tidak mungkin ia akan mengayunkan pedang kepada sang ayah.

Dalam sebuah kesempatan, Hanzhalah berhasil berhadapan dengan Abu Sufyan bin Harb, yaitu pimpinan utama pasukan Quraisy. Dengan semangat yang memuncak karena jika berhasil membunuh pimpinannya, akan mendapat pengaruh yang besar  dalam melemahkan semangat pasukan musuh. 

Hanzhalah bertempur dengan semangat yang membara dan menguasai keadaan. Pada saat posisinya di atas angin dan siap melakukan serangan terakhir untuk membunuh Abu Sufyan, tiba-tiba muncul Syaddad bin Aus (Ibnu Syu'ub) yang ketika itu masih kafir, dari arah belakang, yang langsung menikamnya sehingga ia tewas, gugur bersimbah darah mengantarkan syahidnya.

Seperti para syuhada lainnya, setelah peperangan, Hanzhalah akan dimakamkan dengan pakaian yang dikenakan tanpa dimandikan lagi. Akan tetapi ketika tiba giliran akan dimakamkan, para sahabat kehilangan jenazahnya. 

Mereka segera mencari-carinya, dan ternyata ditemukan di tempat agak tinggi, dan tampak masih basah dan ada sisa air di tanah. Melihat keadaan itu, Rasulullah SAW bersabda, "Saudara kalian ini dimandikan oleh para malaikat, coba tanyakan kepada keluarganya mengapa ini terjadi?"

Beberapa sahabat mendatangi istri Hanzhalah, Jamilah binti Ubay bin Salul, saudari dari tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi dia merupakan seorang muslimah yang baik. Diketahui mereka berdua ini masih pengantin baru. 

Pada saat perang Uhud tersebut terjadi, sebenarnya mereka masih dalam masa bulan madu. Para sahabat datang dengan mengabarkan tentang kesyahidan suaminya, dan peristiwa yang terjadi pada jenazahnya, serta perintah Rasulullah SAW untuk menanyakan sebabnya.

Jamilah berkata, "Ketika mendengar seruan untuk jihad, ia seketika meninggalkan kamar pengantin kami, tetapi ia dalam keadaan junub (berhadats besar)….".

Ketika para sahabat menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW beliau bersabda, "Itulah yang menyebabkan malaikat memandikan jenazahnya…".

Karena itulah Hanzhalah bin Rahib mendapat gelaran "Ghasilul malaikat" (Orang yang dimandikan malaikat) dan ia menjadi salah satu kebanggaan kaum Anshar, karena ‘karamah’ yang diperolehnya. Subhanallah. []