Rahmah

Hanya Dengan Sebuah Tongkat Abu Nawas Berhasil Menangkap Pencuri, Kok Bisa? Begini Caranya

Pihak pengawal kerajaan dibantu dengan beberapa hakim telah berusaha dengan segala cara, namun pencuri itu tidak juga ditemukan keberadaannya.


Hanya Dengan Sebuah Tongkat Abu Nawas Berhasil Menangkap Pencuri, Kok Bisa? Begini Caranya
Ilustrasi Abu Nawas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Suatu hari, ada seorang pencuri yang berhasil mengambil seratus keping uang emas milik saudagar kaya. Pihak pengawal kerajaan dibantu dengan beberapa hakim telah berusaha dengan segala cara, namun pencuri itu tidak juga ditemukan keberadaannya.

Merasa putus asa, saudagar kaya itu mengumumkan sebuah sayembara kepada siapa saja yang telah mencuri harta miliknya merelakan setengah dari jumlah uang emas itu menjadi milik sang pencuri jika sang pencuri bersedia mengembalikan. Tetapi pencuri itu justu tidak berani menampakkan batang hidungnya.

Alih-alih ingin mendapat dukungan dari berbagai pihak, namun saudagar kaya itu tidak mendapat hasil yang diinginkan. Kali ini masalah itu justru semakin rumit.

Hingga pada suatu hari, ada seorang warga yang mengusulkan kepada hakim untuk meminta bantuan Abu Nawas dalam menangani kasus ini.

"Bukankah Abu Nawas sedang tidak ada di tempat?" jawab sang hakim.

"Kemana dia, wahai hakim?" tanya orang itu. 

"Ke Damakus,” jawab hakim 

"Untuk keperluan apa?" orang itu penasaran.

"Memenuhi undangan pangeran negeri itu,” kata hakim. 

"Kapan ia datang?" tanya orang semakin kepo.

"Mungkin dua hari lagi,” jawab hakim. 

Kini harapan hanya berada di atas pundak Abu Nawas. 

Diketahui pencuri yang selama ini merasa aman, sekarang menjadi resah dan tertekan. Ia berencana meninggalkan kampung halaman dengan membawa serta uang emas yang berhasil dicuri itu. Tetapi ia membatalkan niat tersebut karena dengan menyingkir ke luar daerah berarti sama halnya dengan membuka topeng dirinya sendiri. Akhirnya, ia bertekad tetap tinggal dan siap menerima segala konsekuensi yang ada.

Selang dua hari berikutnya, Abu Nawas kembali ke Baghdad karena tugasnya telah selesai. Abu Nawas menerima tawaran mengikuti sayembara untuk menemukan pencuri uang emas. Setelah mengetahui Abu Nawas mengikuti sayembara itu, hati sang pencuri bertambah berdebar tak karuan. Tampaknya ia mendengar Abu Nawas yang sedang menyiapkan cara untuk menangkapnya.

Keesokan harinya, semua penduduk desa diwajibkan berkumpul di depan gedung pengadilan. Abu Nawas datang dengan membawa tongkat dalam jumlah besar. Tongkat-tongkat itu memiliki ukuran yang sama panjangnya.

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas segera membagikan tongkat tersebut kepada warga yang hadir.

Setelah masing-masing mendapat satu tongkat, Abu Nawas berkata,

"Wahai, saudaraku, tongkat-tongkat itu telah aku mantrai. Besok pagi kalian harus menyerahkan kembali tongkat yang telah aku bagikan. Jangan khawatir, tongkat yang dipegang oleh pencuri selama ini menyembunyikan diri akan bertambah panjang satu jari telunjuk. Sekarang pulanglah kalian.” 

Orang-orang yang merasa tidak mencuri tentu tidak mempunyai pikiran  macam-macam. Tetapi sebaliknya, si pencuri uang emas itu merasa ketakutan. la tidak bisa memejamkan matanya, meskipun malam semakin larut. la terus berpikir keras bagaimana cara mengahadapi Abu Nawas esok hari. Kemudian ia memutuskan memotong tongkatnya sepanjang satu jari telunjuk dengan begitu tongkatnya akan tetap kelihatan seperti ukuran semula. 

Pagi hari orang mulai berkumpul di depan gedung pengadilan. Pencuri itu merasa tenang karena ia yakin tongkatnya tidak akan bisa diketahui karena ia telah memotongnya hanya sepanjang satu jari telunjuk. Bukankah tongkat si pencuri akan bertambah panjang satu jari telunjuk? la memuji kecerdikan diri sendiri karena ia ternyata akan bisa mengelabui Abu Nawas. 

Para warga mengantri dengan disiplin. Abu Nawas kemudian memeriksa tongkat-tongkat yang dibagikan kemarin. Saat giliran si pencuri, Abu Nawas segera mengetahui karena tongkat yang dibawanya bertambah pendek satu jari telunjuk. Abu Nawas tahu pencuri itu pasti melakukan pemotongan pada tongkatnya karena ia takut tongkatnya akan bertambah panjang. 

Akhirnya pencuri itu diadili dan dihukum sesuai dengan kesalahan yang telah diperbuat. Dengan demikian, seratus keping lebih uang emas kini berpindah ke tangan Abu Nawas. Namun Abu Nawas tetap bijaksana, sebagian dari hadiah itu diserahkan kepada fakir miskin dan keluarga Abu Nawas.[]