Olahraga

Hamilton Terancam Dihukum di Monako Jika Masih Pakai Perhiasan

Lewis Hamilton memang dikenal senang mengenakan perhiasan seperti anting di telinga dan di hidung yang dikenakannya bahkan ketika balapan.


Hamilton Terancam Dihukum di Monako Jika Masih Pakai Perhiasan
Pembalap Mercedes, Lewis Hamilton. (TWITTER/Lewis Hamilton)

AKURAT.CO, Juara dunia tujuh kali balapan Formula One (F1), Lewis Hamilton, terancam disanksi jika tidak mematuhi larangan mengenakan perhiasan di Grand Prix Monako 2022, 29 Mei mendatang. Ketika itu, masa pengecualian yang diberikan oleh F1 terhadap pembalap Mercedes tersebut sudah berakhir.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Federasi Otomobil Internasional (FIA), Mohamed Ben Sulayem. Menurut Sulayem, Hamilton boleh saja tak mengindahkan aturan tersebut namun sanksi tetap bakal dijatuhkan.

“Itu terserah dia (Hamilton),” kata Sulayem sebagaimana dipetik dari Crash. “(Tetapi) ada sanksi yang harus diterapkan. Ini seperti jika seseorang ngebut di jalanan, Anda tidak bisa menghentikan mereka tetapi mereka disanksi, bahkan jika itu (secara) tidak sengaja.”

baca juga:

Aturan larangan mengenakan perhiasan sebenarnya sudah ada sejak 2005. Namun tidak dianggap sebagai aturan yang signifikan sehingga tak ada sanksi bagi pembalap yang tak mematuhinya.

Saat ini, isu ini mengemuka karena menyasar Hamilton yang merupakan pembalap paling sukses dalam sejarah F1 sekaligus yang masih aktif di lintasan. Hamilton memang dikenal senang mengenakan perhiasan seperti anting di telinga dan di hidung yang dikenakannya bahkan ketika balapan.

Pun demikian, Hamilton sendiri diketahui melawan aturan tersebut setelah Direktur Balapan F1 yang baru, Niels Wittich, kembali memberi peringatan. Sejauh ini, Hamilton mendapat pengecualian dengan anting di hidungnya karena menurutnya untuk menanggalkan benda tersebut dibutuhkan operasi.

Ketua Asosiasi Pembalap Grand Prix, Alex Wurz, sepakat dengan aturan soal perhiasan tersebut. Namun, ia hanya menyarankan FIA untuk mensosialisasikan aturan tersebut dengan pendekatan yang lebih bisa diterima para pembalap.

Wurz, yang pernah membalap untuk Benetton, McLaren, dan Williams, menceritakan pengalamannya dengan pembalap asal Denmark, Kris Nissen, yang selamat dalam kecelakaan di Jepang 1988. Ketika itu, kata Wurz, Nissen mengalami cedera karena bahan celana terbakar yang dikenakannya masuk ke kulit sang pembalap.

“Bagi dia itu adalah hal paling perih setelah kebakaran, bukan kebakaran yang lama, (hanya) plastik di dalam celananya yang biasa terbakar ke dalam kulit. Dia bilang (itu) menciptakan rasa sakit dan kesedihan yang mendalam selama bertahun-tahun,” kata Wurtz.[]