Olahraga

Hamilton: Saya tidak Nyaman Berada di Arab Saudi

Sikap ini disampaikan Lewis Hamilton menyoroti pelanggaran hak asasi manusia dan undang-undang tentang komunitas LGBTQ Arab Saudi.


Hamilton: Saya tidak Nyaman Berada di Arab Saudi
Setelah absen di Grand Prix Sakhir di Bahrain, akhir pekan lalu, Pembalap Mercedes Lewis Hamilton bersiap kembali beraksi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, akhir pekan ini. (F1)

AKURAT.CO, Juara dunia balapan Formula One (F1) Lewis Hamilton kembali mengambil risiko menjelang Grand Prix Arab Saudi 2021. Setelah bicara soal hak asasi manusia di Grand Prix Qatar, 21 November lalu, kali ini Hamilton juga menyampaikan ketidaknyamanannya di Saudi.

“Apakah saya merasa nyaman di sini (Saudi)? Saya tidak bakal bilang saya (nyaman),” kata Hamilton sebagaimana dipetik dari The Guardian. “Tetapi bukan saya yang memilih untuk berada di sini, olahraga (F1) telah mengambil pilihan untuk berada di sini.”

Arab Saudi sendiri dikenal sebagai negara dengan praktik pelanggaran hak asasi manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, Putra Mahkota Saudi, Mohamed Bin Salman, disebut menjadi dalang dalam pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi di Turki pada 2018.

baca juga:

Sementara itu, Hamilton secara khusus menyoroti hukum di Saudi yang mendiskriminasi kelompok LGBTQ. Pembalap asal Inggris ini sebelumnya menunjukkan sikap dengan mengenakan helm berwarna pelangi yang merupakan simbol kampanye dukungan terhadap LGTBQ.

“Di balapan terakhir (di Qatar) Anda melihat helm (pelangi) yang saya pakai. Saya bakal mengenakan itu lagi di sini dan di balapan berikutnya (di Abu Dhabi) karena ini adalah sebuah isu,” kata Hamilton.

“Jika ada seseorang yang ingin meluangkan waktu untuk membaca hukum (Saudi) untuk komunitas LGBT, itu sangat mengerikan. Ada perubahan yang harus dilakukan.”

Lembaga pembela hak asasi manusia, Amnesty International, menyambut baik pernyataan Hamilton. CEO Amnesty International Inggris, Sacha Demukh, mengatakan bahwa menambah keberanian untuk membahas pelanggaran hak asasi manusia di Saudi.

“Adalah intervensi orang terkemuka seperti Hamilton yang membantu untuk melepaskan dampak pencucian lewat olahraga (sportwashing) pada perhelatan yang dihelat Saudi seperti Grand Prix Jeddah,” kata Deshmukh.

Pernyataan Hamilton juga berhubungan dengan kontroversi penanaman modal perusahaan Arab Saudi di klub Liga Primer Inggris, Newcastle United. Sampai saat ini, posisi Saudi yang menjadikan Newcastle sebagai salah satu klub terkaya di dunia seperti belum ajeg.

Hamilton sendiri akan menempuh balapan akhir pekan ini di Sirkuit Jalan Raya Jeddah di Jeddah dalam perburuan gelar juara dunia kedelapan bersaing dengan pemimpin klasemen sementara dari Red Bull, Max Verstappen.[]