Rahmah

Hakikat Sowan Kepada Kiai dan Ulama

Banyak masyarakat menganggap sowan haram.


Hakikat Sowan Kepada Kiai dan Ulama
Bersalaman saat sowan. (freepik.com/freepik)

AKURAT.CO Istilah sowan dikenal di dalam masyarakat muslim Indonesia. Meskipun secar lebih spesifik, istilah ini mulanya dikenal di kalangan pesantren.

Sementara itu mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sowan diartikan sebagai menghadap (kepada orang yang dianggap harus dihormati, seperti raja, guru, atasan, orang tua); berkunjung.

Sowan biasa dilakukan oleh para santri kepada kiai. Sowan juga dilakukan oleh masyarakat kepada tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap memiliki peran penting dalam dunia sosial dan keagamaan mereka.

baca juga:

Pada umumnya ketika sowan, hal yang selalu dilakukan seseorang adalah meminta doa, mencium tangan, dan meminta keberkahan orang yang disowani. Menurut para ulama, demikian itu merupakan hal yang dibolehkan.

Imam Nawawi sebagai mana dinukil oleh Ibn Hajar al-Asqolani dalam Fathul Bari:

قالَ الاِمَامْ النَّوَاوِيْ : تقبِيْلُ يَدِ الرَّجُلِ ِلزُهْدِهِ وَصَلاَحِهِ وَعِلْمِهِ اَوْ شرَفِهِ اَوْ نَحْوِ ذالِكَ مِنَ اْلاُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ لاَ يُكْرَهُ بَل يُسْتَحَبُّ. 

Artinya: "Imam Nawawi berkata : mencium tangan seseorang karena zuhudnya, kebaikannya, ilmunya, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan."

Secara umum, sowan hakikatnya adalah menjalin tali silaturahmi satu sama lain, terutama silaturahmi antar masyarakat kepada tokohnya atau santri dengan kiainya. Sowan model inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ 

Artinya:"Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

Silaturahmi tidak hanya akan memperbanyak rezeki, tetapi juga dapat memberikan pahala kenikmatan surga kelak di hari akhir.

Sumber: NU Online