News

Hadapi Pandemi COVID-19, Demokrat Sayangkan BNPB Tak Punya Pakar Epidemiologi dan Kesmas


Hadapi Pandemi COVID-19, Demokrat Sayangkan BNPB Tak Punya Pakar Epidemiologi dan Kesmas
Petugas medis mengambil sampel darah warga saat rapid test di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan (23/6/2020). Rapid test tersebut menyasar kepada warga pemukiman dan pendatang sebagai langkah antisipasi potensi penyebaran COVID-19. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Politisi Partai Demokrat, Imelda Sari menyayangkan pernyataan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo yang mengungkapkan bahwa BNPB tak memiliki pakar epidemiologi maupun di bidang kesehatan masyarakat.

Imelda merasa, hal itu merupakan kekurangan yang perlu menjadi perhatian. Misalnya, pengadaan test dan PCR yang dianggap masih belum merata.

"Bener banget... bukan hanya Laboratorium, ruang isolasi di RSUD karena butuh spesifikasi khusus, dan pengadaan PCR dan test kita untuk swab test di tiap kota dan kabupaten ternyata belum merata sehingga butuh waktu lama untuk tunggu hasil swab test," tulis @isari68 di Twitter.

Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo mengungkapkan bahwa BNPB harus bekerja keras dalam penanganan COVID-19. Pasalnya, Doni mengatakan BNPB tak memiliki pakar epidemiologi ataupun ahli di bidang kesehatan masyarakat.

"Bagaimana BNPB dalam struktur organisasi tidak ada pakar epidemiologi, tidak ada pakar di bidang kesehatan masyarakat, hanya ada dokter Benny, itu pun dokter umum, di luar itu sama sekali tidak ada, sehingga kami harus bekerja keras untuk berkonsolidasi untuk melakukan optimalisasi dengan mengundang pakar yang ada di Tanah Air," kata Doni dalam rapat dengan Komisi VIII DPR, Selasa (23/6/2020).

Doni mengatakan, sejak ditunjuk sebagai Ketua Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dia menyusun struktur organisasi di BNPB yang mengundang sejumlah pakar dalam upaya penanganan COVID-19.

"Kami menyusun struktur organisasi di mana BNPB tidak memiliki pakar-pakar di bidang kebencanaan, di bidang pandemi, sehingga pelibatan dari pihak di luar betul-betul menjadi hal yang tidak bisa kami abaikan. Dan ternyata kehadiran para pakar inilah yang akhirnya menjadi kekuatan utama di bawah Ketua Tim Pakar Prof Wiku Adisasmito, itu ada 95 orang pakar dari 13 sektor, baik pakar di bidang epidemiologi, kesehatan masyarakat, bidang sosial, budaya, hampir semua bidang yang berhadapan dengan COVID ini ada di situ," katanya.

Doni mengatakan pihaknya juga memanfaatkan modal sosial sampai ke tingkat RT/RW untuk bekerja sama agar bisa menekan kasus Corona di daerah. Ia menyebut Gugus Tugas juga menyusun sistem agar semua itu bisa terintegrasi dalam satu komando.

Doni juga mengungkapkan, sampai saat ini belum ada satu pun pakar yang bisa memastikan kapan pandemi Corona akan berakhir. Di sisi lain, pihaknya mendapat laporan ada 7 juta warga yang terkena PHK imbas pandemi, sehingga ia melaporkan kepada Presiden Joko Widodo tak bisa memilih salah satu, antara kesehatan dan ekonomi.[]

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu