News

Hadapi Inflasi dan Kekurangan Pangan, Sri Lanka Pangkas Anggaran hingga ke 'Tulang-tulangnya'

PM Ranil Wickremesinghe mengungkap hal itu pada Selasa (24/5), menyebut bahwa dalam anggaran terbaru, ia akan memangkas proyek infrastruktur.


Hadapi Inflasi dan Kekurangan Pangan, Sri Lanka Pangkas Anggaran hingga ke 'Tulang-tulangnya'
Warga mengantre untuk membeli gas di dekat distributor, di tengah krisis ekonomi negara, di Kolombo, Sri Lanka, Selasa (24/5) (REUTERS/Dinuka Liyanawatte)

AKURAT.CO  Perdana Menteri (PM) baru Sri Lanka mengaku telah membuat  rencana, bahwa dalam waktu enam minggu ini, dia akan mengajukan anggaran sementara untuk negaranya yang dilanda krisis ekonomi terburuk.

PM Ranil Wickremesinghe mengungkap hal itu pada Selasa (24/5), menyebut bahwa dalam anggaran terbaru, ia akan memangkas proyek infrastruktur. Cara ini, kata Wickremesinghe, adalah demi mengubah rute dana menjadi program bantuan dua tahun untuk Sri Lanka. Menurutnya, dana ini akan tersedia untuk membantu yang paling rentan dari 22 juta orang di negara kepulauan itu.

Namun, Wickremesinghe, yang baru menjabat dua minggu lalu, juga telah memperingatkan bahwa inflasi akan meningkat ketika pemerintah turun tangan untuk mengatasi krisis. Ia pun memprediksi akan ada lebih banyak protes anti-pemerintah di jalanan. Terkait itu, Wickremesinghe berharap demonstrasi tidak akan lepas kendali. 

baca juga:

"Melihat hari-hari sulit ke depan, pasti akan ada protes. Wajar ketika orang menderita, mereka harus memprotes."

"Tetapi kami ingin memastikan bahwa itu tidak mengganggu stabilitas sistem politik."

"Dengan anggaran sementara, ini hanya tentang memotong pengeluaran, memotongnya sampai ke tulang jika memungkinkan dan mentransfernya untuk kesejahteraan," kata Wickremesinghe dalam sebuah wawancara di kantor PM-nya  yang bergaya era kolonial di ibu kota komersial Kolombo.

Sri Lanka, negara yang terletak di ujung selatan India ini, saat ini sedang terhuyung-huyung dari krisis ekonomi. Menjadi yang terburuk sejak kemerdekaannya pada tahun 1948,  krisis yang dihadapi Sri Lanka karena kekurangan mata uang asing memicu pencekikkan impor kebutuhan pokok termasuk bahan bakar dan obat-obatan. Imbas dari masalah ini, protes yang belum pernah terjadi sebelumnya, pecah selama berbulan-bulan.

Sebagian besar kemarahan publik ditujukan pada Presiden Gotabaya Rajapaksa dan keluarganya, yang disalahkan oleh pengunjuk rasa karena salah urus ekonomi.

Akar dari krisis saat ini juga terletak pada pandemi Covid-19, yang menghancurkan industri pariwisata yang sangat menguntungkan dan melemahkan pengiriman uang pekerja asing. Selain itu, sumber krisis juga berasal dari akibat pemotongan pajak populis yang diberlakukan oleh pemerintahan Rajapaksa yang menguras pendapatan pemerintah.

"Kami tidak memiliki pendapatan rupee, dan sekarang kami harus mencetak (satu) triliun rupee lagi," kata Wickremesinghe, memperingatkan bahwa dalam beberapa bulan mendatang, inflasi tahunan dapat meroket melewati 40 persen. Ini pasti akan memberikan tekanan lebih lanjut pada rumah tangga Sri Lanka yang sudah bergulat dengan harga tinggi.

Menurut data pemerintah pada Senin (23/5), tingkat inflasi tahun ke tahun di bulan April naik ke rekor 33,8 persen. Laju inflasi itu lebih lebih tinggi dibandingkan dengan pada bulan Maret, yang mencapai 21,5 persen.

Sebelumnya, pada hari Selasa, pemerintah juga telah mengumumkan kenaikan harga bensin dan solar untuk membantu memperbaiki keuangan publik. Kenaikan harga atas dua komoditi itu perlu, kata para ekonom. Namun, hal itu juga akan memperburuk inflasi. Para ahli pun telah menyuarakan kekhawatiran bahwa mencetak uang akan menambah tekanan inflasi.

 Mengais bantuan

Hadapi Inflasi dan Kekurangan Pangan, Sri Lanka Pangkas Angggaran hingga ke Tulang-tulangnya - Foto 2
 PM Ranil Wickremesinghe -AFP

Demi mengais uang untuk mendukung langkah-langkah bantuan, Wickremesinghe mengatakan pemerintahannya sedang melakukan tinjauan kemungkinan pemotongan pengeluaran di sektor pemerintah yang membengkak.

"Misalnya kementerian kesehatan, kita tidak hanya bisa memangkas pengeluarannya saja. Kementerian pendidikan, pengurangannya terbatas, tapi ada banyak kementerian lain yang bisa kita potong (anggarannya)," katanya.

Rencana konkret untuk mengembalikan keuangan publik ke jalurnya kemungkinan akan menjadi bagian dari negosiasi berkelanjutan Sri Lanka dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk paket pinjaman.

Seorang menteri keuangan baru untuk memimpin pembicaraan akan ditunjuk pada Rabu, kata Wickremesinghe. Diketahui kabinet menteri baru telah terbentuk setelah kakak laki-laki Presiden Rajapaksa, Mahinda, mengundurkan diri sebagai PM awal bulan ini.

Pengunduran diri Mahinda sendiri terjadi beberapa jam usai bentrokan antara pendukung pemerintah dan pengunjuk rasa di Kolombo memicu kekerasan nasional, menewaskan sembilan orang dan melukai 300 lainnya.

Untuk negosiasi dengan IMF, Wickremesinghe berharap akan ada 'paket pinjaman berkelanjutan' dari para pemberi pinjaman internasional. Paket pinjaman ini diharapkan bisa datang sembari Sri Lanka melakukan reformasi struktural yang akan menarik investasi baru ke negara itu.

Sri Lanka juga telah dibuat khawatir dengan krisis kekurangan pangan, yang dimulai dari Agustus dan terjadi pada bulan-bulan  berikutnya. Masalah ini sebagian karena keputusan buruk tahun lalu, di mana  negara itu malah berhenti mengimpor pupuk kimia yang memangkas produktivitas.

Di tengah situasi itu, Sri Lanka pun berharap bisa ikut mengandalkan bantuan asing dari sekutu dan lembaga multilateral untuk menopang pasokan bahan pokok.

"Kami harus mencari bantuan dari teman-teman kami di luar negeri untuk memastikan ada cukup makanan. Kami akan membutuhkan lebih banyak beras," ujar Wickremesinghe.

India, yang telah lama bersaing dengan China untuk mendapatkan pengaruh atas pulau yang berlokasi strategis itu, telah menjadi benteng bantuan bagi Sri Lanka dalam beberapa bulan terakhir. Delhi tercatat telah menyediakan makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan dukungan keuangan.

Namun, Wickremesinghe, bagaimanapun, kemungkinan akan bertemu dengan duta besar China untuk Sri Lanka minggu depan, mencari pupuk dan obat-obatan dari Beijing.

"Kami ingin melihat apa yang tersedia. Kami tahu kami membutuhkan pupuk. Saya akan fokus pada itu," katanya.[]