Ekonomi

H-3 Lebaran, Harga Cabai di Jayapura Tembus Rp100 Ribu


H-3 Lebaran, Harga Cabai di Jayapura Tembus Rp100 Ribu
Seorang pembeli menunjukan cabai keriting merah saat berbelanja di pasar Patra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (19/12). Jelang perayaan natal dan tahun baru di pasar Patra ini sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan yang cukup bervariasi. Menurut para pedagang kenaikan memang selalu terjadi setiap tahunnya dan akan terus naik hingga akhir tahun. Kenaikan ini mulai dari sembako, sayuran, ikan, telur hingga ayam potong yang memang sering dibeli saat perayaan natal dan tahun baru. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Memasuki H-3 hari raya Idul Fitri 1439 H, harga cabai di pasar tradisional Jayapura masih menyentuh angka Rp100 ribu - Rp110 ribu perkilogramnya. 

Kenaikan tersebut sudah terjadi semenjak awal bulan puasa dari harga normal yang berkisar Rp45 ribu.

"Ini harganya naik sejak mau puasa, sekarang selisihnya sudah naik Rp65 ribu, biasa cuman naik Rp5 ribu sampai Rp10 ribu," jelasnya saat ditemui, Selasa (12/6).

Menurut salah satu pedagang bernama Waidah di Pasar Hamadi, Kota Jayapura, kenaikan tersebut bukan akal-akalan para pedagang untuk memanfaatkan momen, melainkan faktor cuaca.

Ia menduga kenaikan tersebut bukan dikarenakan menjelang lebaran melainkan faktor cuaca. 

"Kalau naik bukan karena mau lebaran,  hari biasa juga naik kalau curah hujan tinggi, sehingga harganya naik secara otomatis," ungkapnya. 

Sementara itu, salah seorang pedagang di pasar Youtefa, Erni mengatakan, harga cabai juga mengalami kenaikan dikarenakan kurangnya pasokan dari para petani cabai yang ada di Kabupaten Keerom. 

"Dari awal puasa sudah mengalami kenaikan. Kalau stok lagu berlimpah, mentoknya bisa Rp25 ribu hingga Rp30 ribu perkilo," katanya.

Sebelumnya, kenaikan harga cabai ini sudah diketahui oleh Satgas pangan dan TPID Provinsi Papua juga Gubernur Papua saat melakukan sidak beberapa waktu lalu. Sebagai alternatifnya, harga cabai di pasar modern seperti Mal dan Supermarket masih menawarkan harga yang relatif lebih murah, yakni Rp95 ribu perkilogram.[]