News

Gus Jazil: Tangkal Paham Radikalisme dengan Penguatan Nasionalisme

Gus Jazil: Tangkal Paham Radikalisme dengan Penguatan Nasionalisme
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada Karang Taruna Kurau Barat yang berlangsung di Warkop Lempah Kuning Aswaja, Desa Kurau Barat, Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Kamis (19/11/2020). (DOK. HUMAS MPR RI)

AKURAT.CO Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengungkapkan keprihatinannya terhadap kabar yang beredar tentang tertangkapnya terduga kasus terorisme oleh Densus 88. Makin membuat miris, ternyata yang ditangkap itu adalah pengurus pusat sebuah lembaga terhormat yang mewadahi para ulama.

“Artinya, pemahaman radikalisme itu masih ada dan terus bergerak ke berbagai arah. Ini sangat berbahaya sekali buat bangsa kita. Pertanyaan besarnya adalah, mengapa radikalisme dan ekstremisme ini muncul. Saya rasa, karena rasa nasionalisme yang mulai turun,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (23/11/2021).

Hal itu disampaikan Pimpinan MPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang biasa disapa Gus Jazil ini, dalam acara Diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema ‘Pancasila Sebagai Tameng Ideologi Radikalisme dan Ekstremisme’ kerja sama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), di Media Center MPR/DPR/DPD, Lobi Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/11/2021).

baca juga:

Hadir sebagai narasumber anggota MPR Fraksi NasDem Syarief Abdullah Alkadrie, SH, MH (virtual) dan Dosen Tetap Ilmu Politik FISIPOL UKI/Pengajar Kebijakan Penanggulangan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme PTIK Dr. Sidratahta Mukhtar serta para wartawan media cetak, elektronik juga online sebagai peserta.

Mulai tergerusnya nasionalisme terutama di kalangan generasi muda, dilihat Gus Jazil, karena sangat massifnya kemajuan teknologi sehingga banyak sekali informasi dan tontonan dari seluruh dunia, dengan mudahnya masuk dan dikonsumsi masyarakat.  

“Kita sedang berada di pusaran era nasionalisme dan global. Sayangnya, anak-anak milenial saat ini lebih tertarik kepada hal-hal global daripada yang berhubungan dengan budaya Indonesia. Contoh, banyak anak kecil yang lupa bahkan tidak tahu sama sekali nama pahlawan bangsa. Tapi, sangat hafal tokoh-tokoh idolanya dari luar negeri,” tambahnya.

Gus Jazil menekankan, sudah saatnya bangsa Indonesia berupaya keras untuk menumbuh suburkan kembali nasionalisme dalam jiwa, kemudian menjadi karakter dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, rakyat Indonesia mesti lebih menjiwai ideologi bangsa yakni Pancasila sebagai philosofische grondslag, dan kalimatun sawa' (common platform) yang menyatukan keragaman etnis, ras, budaya dan agama.

“Untuk mencapai itu semua, bangsa Indonesia saya rasa perlu memiliki satu ikon sebagai penyemangat dan pemersatu. Saya mengusulkan sebuah lagu luarbiasa yang lahir dari buah pikir para ulama kita, untuk dijadikan lagu nasional agar dihafal dan dinyanyikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Lagunya berjudul ‘Syubbanul Wathon (Yaa Lal Wathon)’ dengan liriknya yang terkenal ‘Hubbul Wathon Minal Iman’. Mengapa saya mengusulkan lagu ini, karena maknanya sangat dalam dan bisa diterima seluruh kalangan yaitu, ‘cinta tanah air sebagian dari iman’,” terangnya.

Diungkapkan Gus Jazil, jika makna judul dan syair lagu tersebut meresap ke dalam hati rakyat Indonesia, maka akan tumbuh suburlah dan kokoh rasa cinta kepada tanah air.  Kalau sudah begini, radikalisme dan ekstrimisme tidak akan ada tempat di sanubari anak bangsa.