News

Gus Jazil: Santri Harus Gemar Membaca

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mendorong para guru dan santri-santri di pesantren untuk gemar membaca.


Gus Jazil: Santri Harus Gemar Membaca
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid saat Sosialisasi Empar Pilar dan Silaturahim Nasional IHF NU di Rumah Dinas Wakil Ketua MPR, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (4/5/2021).  (DOK. HUMAS DPR RI)

AKURAT.CO, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid atau Gus Jazil mendorong para guru dan santri-santri di pesantren untuk gemar membaca. Sebab, membaca merupakan gerbang pengetahuan dan wawasan. Budaya membaca, kata dia, harus terus dikembangkan dalam pesantren. 

Gus Jazil menyampaikan itu saat audiensi dengan para guru Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Sunanul Muhtadin di Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (7/8/2021).

Para guru juga diminta untuk menjadikan santri-santri cinta dan dekat dengan Alquran. Setiap hari, santri harus dibiasakan untuk membaca Alquran dan bersemangat untuk mencari ilmu.

"Senang untuk mencari ilmu itu basic-nya ya membaca. Anak-anak harus sering-sering diajak ke perpustakaan agar gemar membaca. Budaya membaca itu yang harus dikembangkan bagaimana anak-anak bergairah untuk membaca," ujar Gus Jazil dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/8/2021). 

Dia mengatakan, para guru memiliki tugas mulia dan tidak gampang. Karena itu, seorang guru dalam mendidik para santri harus serius serta melakukan dengan penuh keikhlasan. "Guru dalam mengajar harus ikhlas. Kita para guru harus mendidik santri atau murid-murid kita layaknya kita mendidik anak kita sendiri," tutur Gus Jazil. 

Proses panjang selama pendidikan berlangsung bukan perkara mudah. Hasilnya pun tak bisa langsung dilihat dalam waktu singkat. Karena itu, dia berpesan kepada para guru menjadikan tugasnya sebagai ladang pengabdian untuk mencetak generasi masa depan bangsa. 

"Mendidik itu proses jangka panjang. Kalau sekarang di Ponpes Sunanul Muhtadin baru ada SMP, ini hanya rangkaian awal. Ke depan akan kita buka SMK atau SMA. Jadikan tempat ini sebagai ladang untuk mendidik anak-anak menjadi generasi muda yang pintar, berkualitas," tutur Gus Jazil yang juga Dewan Pembina Ponpes Sunanul Muhtadin. 

Dia juga mengingatkan pentingnya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sebab, saat ini metode pembelajaran dengan banyak memberikan hukuman (punishment) seperti yang dulu sering diterapkan, tak lagi sesuai. "Santri usia SMP itu memang masih banyak waktu untuk bermain. Maka cara pembelajaran juga perlu dengan banyak menyuguhkan permainan. Belajar yang menyenangkan," katanya. 

Turut hadir dalam kegiatan itu Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. Dia mengatakan bahwa di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pendidikan menjadi persoalan serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebab, sistem pembelajaran daring dinilai memang tidak cukup efektif.

"Tantangan kita luar biasa, apalagi di dunia pendidikan. Saya takut ketika menghadapi situasi ini generasi ke depan seperti apa. Saya khawatir akan mengalami generasi yang kosong karena kita belum terbiasa pendidikan daring," kata Fandi.

Sementara itu, Ketua Pengawas Yayasan Sekolah Alquran Sunanul Muhtadin Chalimatus Sa’diyah mengatakan, ini merupakan tahun pertama proses belajar-mengajar di SMP Al Maajid yang ada di Ponpes Sunanul Muhtadin. Karena itu, pilot project ini harus berhasil. Sebab, tahun pertama ini akan sangat menentukan keberlanjutan dan juga menjadi rujukan. 

Bu Nyai Chalimah, begitu Chalimatus Sa'diyah disapa, juga mengingatkan para guru agar bisa mengajar dengan penuh keikhlasan. "Kita harus memberikan yang terbaik. Anggap mereka anak-anak kita sendiri yang kita didik dengan penuh kasih sayang. Kita ajarkan mereka akhlak-akhlak Alquran," tutur dosen Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta itu. (TIM)