Rahmah

Gus Baha Sebut Nabi Tak Pernah Memberi Hukum Sosial, Begini Penjelasannya

Gus Baha mengatakan, Rasulullah SAW tidak pernah memberi hukum terhadap hal-hal yang bersifat sosial.


Gus Baha Sebut Nabi Tak Pernah Memberi Hukum Sosial, Begini Penjelasannya
Gus Baha (Pwnujatim)

AKURAT.CO  Cendekiawan Muslim KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha mengatakan, Rasulullah SAW tidak pernah memberi hukum terhadap hal-hal yang bersifat sosial. Sebab sosial itu bersifat dinamis, sehingga Nabi melatih orang untuk berlogika.

"Saya ulangi lagi, sosial itu dinamis maka Nabi itu hanya melatih orang untuk berlogika," kata Gus Baha dalam sebuah video yang diunggah melalui channel YouTube Santri Gayeng, Selasa (18/1/2022).

Gus Baha lalu memberi contoh, jika ada orang tua yang baik kepada satu anak saja, dengan alasan karena anak itu paling baik. Maka orang tua tersebut jangan berharap semua anaknya dapat menjadi orang baik.

baca juga:

Kecuali menurut Gus Baha, dalam hal agama. Karena agama harus segera dipakai untuk urusan agama lagi.

"Seperti yang saya alami. Saya tentu dapat tanah paling banyak, karena saya dianggap pengganti Bapak. Ya sudah yang paling banyak atas nama pesantren maka langsung diatasnamakan pesantren," ucap Gus Baha.

"Saya sendiri pun tak terlintas, misal jual untuk beli mobil. Apalagi saya gunakan untuk beli hp. Tidak akan," imbuh Gus Baha.

Karena dalam hal ini, menurut Gus Baha termasuk tindakan yang proporsional. Orang dapat banyak atas nama alim atau pesantren, maka manfaat terbanyak juga harus ke pesantren itu.

"Itu namanya tidak dapat banyak, tetap saja kembali sesuai rencana. Itu tidak apa-apa karena bukan tuntutan nafsu," jelas Gus Baha.

Meskipun begitu, Gus Baha menyebut kalau mengakali kiai itu merupakan pekerjaan yang mudah. Sebab kiai itu terlalu lugu.

Misalnya, kata Gus Baha kiai itu ditanya: "Menemani orang fasik itu boleh atau tidak?" 

Kiai itu menjawab: "Tidak boleh,".

Lalu kiai itu ditanya lagi:

"Kiai, kalau ada orang fasik perlu dibina atau tidak?".

"Oiya perlu," kata kiai.

"Tapi berarti harus ditemani (orang fasik) dulu?" 

"Oiya tidak apa-apa," jawab kiai.

Oleh karenanya, kata Gus Baha, fikih itu susah. Sebab menemani orang fasik itu haram, tetapi membina orang fasik itu baik.

"Membina itu syaratnya mau tidak mau harus menemani. Tidak usah diperpanjang!" tutur Gus Baha.

"Tinggal dibuktikan saja, kamu yang terbawa mereka atau mereka yang taubat," tandas Gus Baha. []