Rahmah

Gus Baha Sebut Belajar Harus Melalui Guru: Kalau Tidak, Bisa Bahaya

Gus Baha mengatakan, tarekat harus ditempuh dengan menggunakan cara yang detail.


Gus Baha Sebut Belajar Harus Melalui Guru: Kalau Tidak, Bisa Bahaya
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Candra Nawa)

AKURAT.CO Cendekiawan Muslim KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha menjelaskan, tarekat itu semuanya baik, asalkan yang termasuk dalam kategori Thariqah al-Mu'tabarah. Diantaranya yaitu, Naqsyabandiyah, Qadariyah, Tijaniah, Syattariyah dan lain-lain.

Meskipun begitu, kata Gus Baha, tarekat harus ditempuh dengan menggunakan cara yang detail. Seperti adanya guru dan sanad yang jelas.

"Tapi tarekat itu detail, artinya butuh guru dan lain-lain," ujar Gus Baha dalam video yang diunggah YouTube Santri Gayeng, pada 23 Maret 2022.

baca juga:

Gus Baha lalu bercerita, dulu  Mbah Moen punya kakak bernama Mbah Mad. Mbah Mad ini merupakan kakek sekaligus guru dari Mbah Moen ketika beliau belum mengaji di Lirboyo.

Singkat cerita, kakek Mbah Moen, Mbah Ahmad Syuaib meminta ijazah tarekat. Akan tetapi, dilarang oleh beliau (Sayyid Umar Syatha).

"Bahasa mudahnya begini: cung, kamu itu orang alim yang nantinya mengajar pesantren. Tarekatmu saya ganti dengan kitab ini. Beliau, lalu diberi kitab Risalah al-Qusyairiyah," kata Gus Baha.

"Makanya di Jawa banyak kiai itu bernama Qusyairi, ikut pengarang kitab Risalah al-Qusyairiyah," imbuh Kiai kelahiran 29 September 1970 itu.

Oleh karena itu, lanjut Gus Baha menyampaikan, syarat menjadi orang saleh itu harus meniru orang. Artinya tidak boleh langsung meniru Tuhan.

"Harus meniru manusia dulu. Karena Tuhan itu Qadim, dan Qadim tidak bisa ditiru. Karena Qadim dan Hadits tak ada hubungannya," jelas Gus Baha.

"Kita itu Hadits dan Tuhan itu Qadim. Kalian tidak mungkin meniru Tuhan," tambah Gus Baha yang merupakan murid dari ulama Kharismatik, KH Maimoen Zubair ini.

Selain itu, menurut Gus Baha, ilmu tarikat itu mengharuskan seseorang memiliki guru. Alasannya adalah ketika Tuhan  menyebutkan orang saleh, itu yang disebutkan adalah manusia.

"Jadi, orang jika ingin saleh maka tirulah orang saleh. Sebab itu yang bisa ditiru. Kamu mau meniru Tuhan? Melihat-Nya saja tidak!," ucap Gus Baha.

"Juga berbeda, kamu Hadits, sedangkan Tuhan Qadim," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang itu. []