Rahmah

Gus Baha Larang Tindakan Kafir Mengkafirkan, Begini Alasannya

Jika bercanda itu dibolehkan, asalkan tidak dengan kafir mengkafirkan

Gus Baha Larang Tindakan Kafir Mengkafirkan, Begini Alasannya
Gus Baha (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO  Dikutip dari ngajigusbaha.id, Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim merupakan putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Qur’andi Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati.

Nasab Gus Baha bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Ulama kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya. Gus Baha, meski dikenal sebagai ulama alim, namun ia tetap tawadhu dengan keilmuannya.

baca juga:

Selain itu, Gus Baha' dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, KH Maimun Zubair.

Dalam sebuah ceramah yang ditayangkan oleh akun Ngaji Online, pada 11 Januari 2020, Gus Baha memberikan penjelasan agar kita tidak mudah menganggap orang lain kafir.

Menurutnya, dalam tradisi kita sindir-sindiran memang suatu hal yang biasa, bahkan seperti sudah menjadi budaya. Misalnya kita bertanya kepada teman, "masih hiduplah engkau?" Atau "Bojomu sudah berapa?" Padahal terkesan jelek pertanyaannya, tetapi menurut Gus Baha, itu seperti guyonan saja.

Yang penting menurut beliau, kita jangan mudah menuduh orang lain dan mengecapnya sebagai orang kafir, atau telah melakukan bid'ah, karena itu terkait dengan masalah agama.

Menurut Gus Baha terkait dengan budaya sindir-sindiran, memang bukan hal yang dilarang mutlak. Toh, kita hanya manusia biasa bukanlah Nabi dan tradisi kita memang sering demikian. Apalagi ketika baru bertemu teman yang sudah lama tidak berjumpa.

Terkait dengan sindir menyendir hanyalah dalam masalah budaya. Tidak seserius isinya. Sedangkan terkait tuduhan kafir atau bidah sudah masuk ke ranah agama, dan itu sifatnya menghakimi.

Menurut Gus Baha, bercanda sebagaimana kebiasaan santri boleh-boleh saja, asalkan jangan masuk dalam ranah agama. Sindir-menyindir tidak ada yang dilarang, asalkan bukan menyangkut keyakinan agama. Wallahu A'lam.[]