Rahmah

Gus Baha Jelaskan Pentingnya Ilmu Fikih dan Sastra untuk Pahami Al-Qur’an

Gus Baha Jelaskan Pentingnya Ilmu Fikih dan Sastra untuk Pahami Al-Qur’an
Gus Baha (Pwmujatim)

AKURAT.CO Rais Syuriyah PBNU KH Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha) menjelaskan petingnya menggunakan pendekatan fikih dan sastra bahasa Arab dalam memahami Al-Qu’an. Hal ini disampaikan dalam forum Ngaji Tafsir Al-Qur’an bersama Gus Baha dan Tuan Guru Bajang di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (20/6/2022) lalu.

Menurut Pengasuh Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (LP3IA) itu, banyak persoalan fikih dalam Al-Qur’an yang mau tidak mau harus dijelaskan melalui pendekatan fikih.

Sebagai contoh, Gus Baha menyebut Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 23 yang artinya, “Dan (diharamkan bagimu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

baca juga:

“Larangan menikahi perempuan sekaligus adiknya ini bukan berarti perempuan-perempuan yang masih memiliki hubungan mahram boleh dinikahi, ungkapan ini hanya sampel,” kata Gus Baha.

“Artinya, semua orang yang masih memiliki ikatan mahram maka tidak boleh dinikahi,” sambungnya.

Kemudian, lanjut Gus Baha, perangkat ilmu yang tidak kalah penting dari fikih adalah ilmu adab atau sastra bahasa Arab. Ada persoalan-persoalan dalam Al-Qur’an yang harus dijelaskan dengan perangkat ilmu yang satu ini.

Untuk mencontohkan, Gus Baha menyitir ayat Al-Qur’an surat Al-Babqarah ayat 65 yang artinya, “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina’.”

Ayat ini menjelaskan ada orang-orang yang diubah menjadi kera karena perbuatan dosa mereka. Seandainya secara ilmiah belum pernah ditemukan bukti ada kasus seperti ini, maka pendekatan sastra bisa dipakai.

“Maksud ‘kera’ di sini adalah bentuk perumpaan bahwa saking buruknya para pendosa, mereka sampai-sampai diserupakan dengan sosok kera, hewan yang buru secara moral,” terang Gus Baha.