News

Gubernur Riau: Tolong Diluruskan, Perkembangan Corona Melalui Jabat Tangan, Bersentuhan, Berpelukan, Berdekatan, Bukan Lewat Udara


Gubernur Riau: Tolong Diluruskan, Perkembangan Corona Melalui Jabat Tangan, Bersentuhan, Berpelukan, Berdekatan, Bukan Lewat Udara
Gubernur Riau Syamsuar (Antara Foto)

AKURAT.CO, Gubernur Riau Syamsuar meminta masyarakat tidak membuat stigma negatif terhadap pasien terduga, orang dalam pemantauan maupun penderita Covid-19.

“Hal ini tolong diluruskan, perkembangan virus (corona) itu melalui jabat tangan, bersentuhan, berpelukan, berdekatan, tidak tersalurkan lewat udara. Untuk itu, ikuti arahan pemerintah untuk jauhi kegiatan berkumpul, rajin mencuci tangan, melakukan penjarakan fisik,” kata Syamsuar dalam pernyataan pers di Pekanbaru, hari ini.

Hal tersebut dikatakan Syamsuar menanggapi kondisi keresahan masyarakat karena kepulangan ribuan tenaga kerja Indonesia  dan WNI akibat karantina wilayah di Malaysia. Warga di Pekanbaru bahkan menolak rencana karantina TKI di rusunawa di Pekanbaru, yang akhirnya pemerintah kota setempat membatalkan lokasi itu jadi tempat isolasi TKI.

Juru bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Riau Indra Yovi mengatakan ribuan TKI yang pulang memang langsung ditetapkan sebagai orang dalam pemantauan karena Malaysia termasuk negara penularan penyakit mematikan itu. Jumlah ODP di Riau melonjak hingga kini mencapai 15.000 orang.

Namun, ia mengatakan status ODP bukan berarti TKI tersebut positif Covid-19.

“Hal inilah yang bikin kita harus waspada, bukan takut. ODP tinggi menunjukkan kita mewaspadai, kita bekerja. TKI yang ODP itu bukan berarti mereka positif Covid-19,” ujarnya.

Kasus positif Covid-19 di Riau, kata dia, baru ada tiga orang dan satu orang sudah sembuh. Pendeteksian positif tidaknya seseorang hanya bisa diketahui lewat uji sampel swab (air liur) tenggorokan. Sedangkan tes cepat (rapid test) merupakan pendeteksian dini (screening) terhadap risiko penyakit itu.

“Itu hanya screening risiko apakah kalau positif langsung sakit? Dia harus tetap dengan swab. Kalau tes swab positif maka baru positif (Covid-19),” katanya.

TKI yang berstatus ODP harus benar-benar melakukan karantina mandiri selama 14 hari walau hasil rapid test negatif. Hal ini untuk menjamin dia tidak menularkan penyakit ke keluarganya dan orang lain.

Karantina mandiri di rumah juga harus menerapkan pembatasan fisik yang tegas. “Bukan hanya di rumah saja, tapi juga harus tegas isolasi mandiri. Social distancing yang kuat, jangan dulu memeluk anaknya, kalau bisa pake masker,” ujar Indra Yovi. []

Sumber: Antara