News

Greta Thunberg Sebut Uni Eropa Menyerah dan Hanya Berpura-pura Atasi Krisis Iklim


Greta Thunberg Sebut Uni Eropa Menyerah dan Hanya Berpura-pura Atasi Krisis Iklim
Greta Thunberg tengah berada di Brussels minggu ini untuk bertemu dengan para pemimpin Uni Eropa (ABC News)

AKURAT.CO, Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg (17) telah menuduh pemerintah dan institusi Uni Eropa (UE) hanya berpura-pura mengambil langkah untuk segera mengatasi krisis iklim global.

Sebelumnya, para pemimpin UE memang telah mengatakan bahwa mereka tengah memelopori beberapa kebijakan perubahan iklim paling ambisius di dunia. Pada Rabu (4/3), para eksekutif UE pun akhirnya meluncurkan sebuah undang-undang iklim yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca bersih hingga menjadi nol pada tahun 2050.

"Namun inilah yang diusulkan Komisi (Eropa) hari ini. Di sini Anda, mencoba membuat undang-undang dan kebijakan (tetapi) sekali lagi mengabaikannya. Berpura-pura bahwa rencana atau kebijakan Anda yang mengabaikan ilmu sains, entah bagaimana, akan memecahkan krisis terbesar yang pernah dihadapi umat manusia," ujar Thunberg seperti dilansir oleh ABC News pada Kamis (5/3)

"Berpura-pura bahwa hukum yang tidak harus diikuti oleh siapa pun... adalah hukum. Berpura-pura bahwa Anda bisa menjadi pemimpin iklim dan masih terus membangun dan menyubsidi infrastruktur bahan bakar fosil baru," tambahnya.

Tidak hanya itu, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (4/2) saat berbicara di depan parlemen Eropa, Thunberg juga menuturkan bahwa target nol emisi karbon pada tahun 2050 tersebut hanyalah sebuah bentuk penyerahan diri.

"'Nol Emisi Tahun 2050' untuk UE sama dengan penyerahan diri. Itu berarti menyerah. Kami tidak hanya membutuhkan sasaran untuk tahun 2030 atau 2050 saja. Kami, terutama, membutuhkannya untuk tahun 2020 dan setiap bulan dan tahun-tahun berikutnya," tutur Thunberg.

Hukum iklim yang telah diluncurkan UE memang akan memberikan kekuatan pada Komisi Eropa untuk menetapkan tujuan yang lebih keras bagi pemerintah setiap lima tahun. Tetapi kekuatan ini hanya akan muncul setelah 2030. Komisi Eropa sendiri adalah lini eksekutif Uni Eropa yang bertanggung jawab untuk mengusulkan undang-undang, melaksanakan keputusan, menegakkan perjanjian UE dan mengelola bisnis Uni Eropa.

Mengetahui hal ini, para aktivis kelompok lingkungan juga memberikan suara yang sama seperti Thunberg, yaitu target tersebut terlalu lambat untuk mengatasi krisis iklim. Para aktivis lingkungan juga keberatan dengan rencana undang-undang dari Komisi Eropa untuk meninjau target emisi UE 2030 pada bulan September mendatang.

"Menunda diskusi hingga September akan menghancurkan kemampuan UE untuk memainkan peran utama dalam pembicaraan iklim global," kata penasihat kebijakan iklim Greenpeace, Sebastian Mang.

UE menyumbang kurang dari 10 persen dari emisi gas rumah kaca dunia. Namun Thunberg mengatakan blok itu memiliki kewajiban moral untuk memimpin, karena negara maju yang telah berpolusi paling lama harus mengurangi emisi terlebih dahulu dan juga harus paling cepat.[]