Ekonomi

Gerombolan Pabrik Asing Akan Tinggalkan China, Kenapa?

Saat ini China masih memegang kendali untuk rantai pasokan global, terlepas dari lockdown yang terjadi di negara tersebut


Gerombolan Pabrik Asing Akan Tinggalkan China, Kenapa?
Ilustrasi suasana di China (REUTERS/Edgard Garrido)

AKURAT.CO, Saat ini China masih memegang kendali untuk rantai pasokan global, terlepas dari lockdown yang terjadi di negara tersebut membuat pada pebisnis di negara itu mengalami frustasi. Mereka telah membahas keinginan untuk memindahkan pabrik dari China karena biaya tenaga kerja telah naik dan ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China memburuk.

Melansir dari CNBC, Selasa (17/5/22), pengusaha asing membicarakan bagaimana mereka dapat dengan mudah melakukan perjalanan ke pabrik-pabrik Asia Tenggara akan tetapi tidak ke China. Beberapa pihak menunjukkan lonjakan ekspor dari Vietnam sebagai indikator bahwa rantai pasokan akan meninggalkan China.

Pemimpin perdagangan global di The Economist Intelligence Unit, Nick Marro mengatakan "Diverifikasi rantai pasokan cukup rumit karena orang selalu membicarakannya, dan di ruang rapat senang mendiskusikannya, tetapi seringkali pada akhirnya orang merasa sulit untuk menerapkannya.

baca juga:

Menurut data resmi, ekspor China naik 3,9 persen pada April dari tahun sebelumnya, laju paling lambat sejak kenaikan 0,18 persen pada Juni 2020. Sebaliknya ekspor Vietnam melonjak 30,4 persen pada bulan April dari tahun lalu, menyusul peningkatan hampir 9,1 persen tahun ke tahun di bulan Maret.

Ekonom berbasis di Singapura di S&P Global Ratings, Vishrut Fans, mengungkapkan tingkat minat manufaktur di Vietnam sangat signifikan. Menurutnya Vietnam telah muncul sebagai simpul rantai pasokan yang sangat penting untuk elektronik konsumen.

" Dari perspektif China, pergerakan keluar dari manufaktur lokal tidak akan cukup signifikan untuk benar-benar mengubah sifat peran China dalam keseluruhan rantai pasokan. China masih tetap menjadi pusat jaringan elektronik di APAC," tutur Rana.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan China menyatakan selama empat bulan pertama tahun 2022, investasi asing langsung ke China naik 26,1 persen tahun ke tahun menjadi US$74,47 miliar. Investasi asing itu ialah Jerman melonjak 80,4 persen, kemudian Amerika Serikat naik 53,2 persen.

Sebalik Vietnam mengalami penurunan 56 persen y-on-y dalam investasi asing langsung menjadi US$3,7 miliar dari empat bulan pertama tahun 2022.

" Sangat sulit untuk mencocokkan skala dan cakupan rantai pasokan China di luar China saat ini. Hanya rantai pasokan untuk produk yang sangat spesifik seperti semikonduktor atau suku cadang kendaraaan listrik yang mungkin pindah ke Vietnam, Malaysia atau negara lainnya," pungkas Rana.[]