News

Gerakan Tolak Presidential Threshold Terus Menggema

Refly Harun mengajak masyarakat untuk menolak presidential threshold karena dinilai merusak kontestasi pemilihan presiden (Pilpres).


Gerakan Tolak Presidential Threshold Terus Menggema
Petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjelaskan mekanisme pencoblosan surat suara pemilihan umum 2019 kepada peyandang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Panti Bina Laras Harapan, Jakarta Barat, Senin (18/02/2019). Sebanyak 8.717 Penderita disabilitas mental di seluruh Indonesia mendapatkan hak pilih dalam pemilu April 2019 dengan syarat rekomendasi dokter. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Gerakan menolak presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden terus didengungkan sejumlah pihak. Di antaranya datang dari pakar hukum Tata Negara Refly Harun.

Refly Harun mengajak masyarakat untuk menolak presidential threshold karena dinilai merusak kontestasi pemilihan presiden (Pilpres).

"Kita harus selamatkan Indonesia dengan menolak presidential threshold atau jadikan presidential threshold 0," kata Refly Harun melalui siaran video yang ditayangkan dalam diskusi Aliansi Kekuatan Rakyat Berdaulat (AKRAB), dikutip Kamis (2/12/2021).

baca juga:

Refly mendorong agar presidential threshold dihapus. Menurut Refly, presidential threshold membuat demokrasi dibajak para pemodal untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2024.

"Karena presidential threshold hanya menjadikan demokrasi kriminal, demokrasi jual-beli perahu, demokrasi yang menggunakan kekuatan finansial untuk memenangkan kompetisi pemilihan presiden dan wakil presiden," ujarnya.

Refly menjelaskan maksud dari pemilihan presiden secara langsung adalah pesta demokrasi rakyat dengan menghadirkan calon sebanyak-banyaknya. Ia menyebut setiap partai politik memiliki hak untuk mencalonkan pasangan presiden dan wakil presiden.

"Dan setiap partai politik yang menjadi peserta pemilu diberikan hak konstitusional untuk mengadukan pasangan presiden dan wakil presiden sesuai dengan ketentuan konstitusi UUD 1945," imbuhnya.

Sementara itu, anggota DPD Tamsil Linrung, mengatakan presidential threshold hanya memunggungi demokrasi. Tamsil menyatakan keberadaan presidential threshold tidak bisa mewujudkan demokrasi yang ideal.

Tamsil juga mengatakan isi dari Pasal 6A UUD 1945, yaitu pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.

Namun dia mengatakan ada aturan terkait ambang batas pencalonan dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

"Tapi ternyata ada lagi UU yang dibuat yang mengatur turunan dari pasal ini dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 yang memberikan ambang batas pencalonan," kata Tamsil.

Tamsil mengatakan pihaknya  akan mengajukan judicial review terkait penghapusan presidential threshold pada Desember ini.

"Kami memang mendorong supaya langkah yang kami lakukan judicial review, baik itu secara kelembagaan maupun perorangan. Bulan Desember ini kami akan ajukan supaya kita menghapus presidential threshold," ujarnya. []