News

Gerakan 3T Jadi Kunci Penanganan Covid-19 di Indonesia

Wabah yang sedang dihadapi saat ini penularannya melalui interaksi fisik, sehingga penanganannya membutuhkan intervensi sosial.  


Gerakan 3T Jadi Kunci Penanganan Covid-19 di Indonesia
Para pemateri dan penanggap saat berswafoto bersama dalam Webinar Pelacakan Kontak: Mengoptimalkan Dukungan Masyarakat dalam 3T yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dari program LeaN ON, Senin (2/8) (Dok. BNPB)

AKURAT.CO, Kunci menangani pandemi Covid-19 adalah dengan mengoptimalkan gerakan Tes, Telusur, dan Tindak lanjut (3T). Karena itu masyarakat harus diberikan pemahaman soal gerakan 3T ini.

Hal tersebut disampaikan oleh sosiolog dari Nanyang Technology University (NTU) Singapura Sulfikar Amir dalam webinar bertajuk Pelacakan Kontak Mengoptimalkan Dukungan Masyarakat dalam 3T yang digelar Senin (2/8/2021).

Sulfikar Amir menyampaikan pentingnya contact tracing (pelacakan kontak), bukan saja tentang melacak siapa yang penah berinteraksi dengan seseorang yang positif Covid-19 namun hal tersebut juga berhubungan erat dengan ikatan sosial. 

Pasalnya, kata Sulfikar, wabah yang sedang dihadapi saat ini penularannya melalui interaksi fisik, sehingga penanganannya membutuhkan intervensi sosial.  

Jaga jarak dan pelacakan adalah contoh dari intervensi sosial yang karena demikian beberapa pembacaan sosiologis diperlukan untuk bisa melampui pandemi Covid-19. 

“Sederhananya, untuk mengatasi mengapa misalnya masyarakat masih susah menggunakan masker atau bagaimana caranya agar pelacakan bisa dilakukan masyarakat, maka kita harus melakukan analisis-analisis sosiologis terlebih dulu,” papar Sulfikar.

Termasuk dalam intervensi sosial adalah menggunakan masker, mencuci tangan, dan semacamnya, namun di antara semua itu yang paling penting menurut Sulfikar yaitu pelacakan. 

“Pelacakan bagi saya adalah nafas dari penanganan pandemi, bahkan mohon maaf sebelumnya jika saya berlebihan, ketika pemerintah Indonesia bisa efektif di pelacakan ini, maka tidak perlu apa itu yang namanya PPKM atau memakai masker,” terang dosen NTU Singapura itu. 

“Tapi, kenyataannya kita semua masih berjuang ke arah itu, dalam arti sistemnya belum terbangun baik, sehingga penggunaan masker dan jaga jarak tetaplah diperlukan,” tambahnya.