Ekonomi

Genjot Pemulihan UMKM, Pemerintah Naikkan Plafon KUR Hingga Turunkan Suku Bunga

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengungkapkan, adanya bunga rendah dan porsi KUR merupakan upaya dalam mendorong pemulihan UMKM terdampak pandemi.


Genjot Pemulihan UMKM, Pemerintah Naikkan Plafon KUR Hingga Turunkan Suku Bunga
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengungkapkan, adanya bunga rendah dan porsi Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan upaya dalam mendorong pemulihan ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). (Akurat.co/Andoy)

AKURAT.CO, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengungkapkan, adanya bunga rendah dan porsi Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan upaya dalam mendorong pemulihan ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Seperti diketahui, plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun ini meningkat hingga mencapa Rp373,17 triliun dari Rp285 triliun untuk penyaluran hingga akhir tahun dan suku bunga yang semakin diperkecil menjadi 3 persen dari 6 persen hingga Juni 2022. “Porsi KUR yang semakin tebal dan suku bunga yang lebih kecil ini dimaksudkan untuk mendorong pemulihan ekonomi bagi UMKM lebih masif,” jelas Teten saat menghadiri Pengumuman Penghargaan KUR Tahun 2021 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Rabu (19/1/2022).

Teten menuturkan, kebijakan KUR yang semakin longgar ini menjadi bukti kehadiran pemerintah untuk memaksimalkan pemulihan ekonomi UMKM yang selama dua tahun ini terdampak COVID-19. Ke depan, porsi KUR disebut akan terus ditambah agar penyerapan kredit oleh UMKM terutama dari lembaga pembiayaan perbankan bisa meningkat yang saat ini baru mencapai 19,8 persen. Pada tahun 2024, ditargetkan porsi kredit perbankan terhadap UMKM sebesar 30 persen. “Hal ini menjadi salah satu upaya agar semua pihak terlibat dalam pengarusutamaan UMKM karena selama ini UMKM menjadi bemper ekonomi saat terjadi krisis,” lanjutnya.

baca juga:

Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah dinyatakan akan fokus untuk melakukan pendampingan terhadap UMKM yang menerima kredit agar kualitas kredit benar-benar terjaga dari potensi kredit macet. Pada tahun 2021, penyaluran KUR mencapai Rp281,86 triliun yang disalurkan melalui 27 lembaga penyalur. Secara rinci KUR yang disalurkan terdiri dari KUR super mikro sebesar 3,57 persen, KUR mikro 63,71 persen, KUR kecil 32,71 persen dan KUR TKI (Tenaga Kerja Indonesia) 0,01 persen. Di sisi penyalur KUR, didominasi oleh tiga bank Himbara (himpunan bank milik negara) dengan total pembagian 92,37 persen. Kemudian perbankan swasta 3,1 persen, Bank Pembangunan Daerah (BPD) 4,37 persen, koperasi 0,05 persen dan perusahaan pembiayaan lainnya di bawah 0,05 persen. “Penyaluran KUR oleh koperasi yang masih rendah dikarenakan ketersediaan likuiditas koperasi yang kecil apabila dibandingkan perbankan. Oleh sebab itu KUR yang disalurkan oleh koperasi sangat tergantung dari ketersediaan likuiditasnya,” sambungnya.

Teten pun memperkirakan tahun 2022 ini kemampuan koperasi menyalurkan KUR akan meningkat meski tidak terlalu signifikan. "Kalau KUR itukan dibayar subsidinya oleh pemerintah, sementara pinjaman KUR tergantung dari likuiditas koperasi. Nah koperasi itu rata - rata kecil kemampuan likuditasnya. Kalau kaya bank Himbara itukan likuiditasnya besar, jadi bisa salurkan kreditnya kuat," paparnya.

Senada dengan Teten, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, berharap UMKM bisa memanfaatkan fasilitas KUR tersebut demi mendorong peningkatan kapasitas usahanya. Menurutnya KUR juga menjadi salah satu instrumen fiskal yang sangat berperan bagi pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 lalu. 

"Tahun 2022 plafon KUR kita naikkan menjadi Rp. 373,17 triliun, kita harap UMKM bisa termotivasi mengaksesnya. Kami meminta dukungan dari kementerian dan lembaga terkait lainnya agar KUR ini bisa terserap dengan baik," ujar Airlangga. 

Sebab, lanjutnya, KUR tahun 2022 akan diutamakan untuk ke sektor-sektor produktif. Hal ini diperlukan untuk mendorong produktivitas penerima KUR dan juga mendorong terciptanya nilai tambah. "Sektor pertanian menjadi sektor terbesar penerima KUR, saat Covid-19 lalu sektor pertanian lajunya sangat kenceng. Ini patut diapresiasi," tukasnya.[]